AtomicEssay

AES62 Kertas (2)

Kirana Kasihpenulis arsip2

Hal tersulit dalam membuat kertas daur ulang adalah ketika proses pencetakan. Karena kita harus memastikan lapisannya tidak terlalu tipis atau terlalu tebal. Jika terlalu tipis, akan sulit untuk membuatnya menempel pada kain. Kalau terlalu tebal sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah karena sesuai kebutuhan ketebalan kertas saja. Tapi jika ketebalannya tidak sesuai, kita harus mengulanginya lagi. 

Ketika mulai paham dan menguasai proses pengerjaannya, aku mencoba banyak hal baru terhadap kertasku. Pertama aku coba untuk menambahkan warna, yang ternyata harus dilakukan banyak percobaan. Jumlah pewarna yang diberikan harus sangat diperhatikan, karena warna kertas saat kering akan menjadi lebih muda dibandingkan saat basah. Aku juga coba menambahkan gold leaf agar seperti ada serpihan emas di kertasnya. Memang sih gold leaf ini membuat tampilannya jadi tampak lebih keren, tapi agak ribet juga. Karena jika dimasukkan pada saat kertas dihancurkan di food processor, serpihan emasnya kurang terlihat. Sedangkan jika ditempelkan manual satu per satu ke kertas saat masih basah, hasilnya jadi bagus tapi menghabiskan banyak waktu. 

Selama ini, aku selalu menggunakan pewarna kimia atau pewarna makanan. Jadi aku pun mencoba untuk menggunakan pewarna alami. Seperti warna hijau dari green tea, kuning dari kunyit, dan coklat dari bubuk coklat. Warna green tea sendiri sangat sulit untuk terlihat, malah justru yang terlihat adalah ampas teh nya. Aku juga mencoba menggunakan arang untuk membuat warna abu. Dari yang pernah aku coba ini, kunyit adalah yang paling memunculkan warna walaupun jumlah yang digunakan sedikit.

Agar warnanya bisa lebih beragam, aku memutuskan membeli bahan pewarna batik alami. Di tempat aku memesan pewarna ini, tokonya memberikan catatan cara mendapatkan warna tertentu dengan mencampurkannya dengan bahan tertentu. Misalnya ada yang kalau ditambahkan tawas warnanya jadi hijau. Tapi setelah dicoba-coba, rata-rata warnanya lebih ke arah coklat, merah, dan kuning saja. Jumlah yang digunakan juga harus banyak agar bisa pekat. Hasilnya sih beberapa ada yang tidak sesuai ekspektasi, tapi ini jadi pengalaman menarik bagiku. Apalagi aku melakukan banyak percobaan untuk mendapatkan warna tertentu dari bahan alami.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES81 Bertemunya Kedua Sungai

Kamis itu menjadi pertemuan antara Sungai Asahan (Aek Toba) dan Sungai Oya. Ini bukan beneran tentang sungai yaa, tapi kelompok Asahan (K12) dengan kelompok Oya (K6). Ini bukan pertama kali kelompok kami bertemu kelompok mereka. Apalagi aku, karena kebetulan adikku yang ada di kelas Oya dan sejak k…

Kirana Kasih30
AtomicEssay

AES80 Api Sepi Nyepi

Penjelajahan kami kelompok Banua Tada di Bali sudah berlangsung 1 bulan lamanya. Penjelajahan ini dibagi menjadi beberapa lokasi, yaitu 3 minggu di Bitera Gianyar, 1 minggu di Ubud, dan 1 minggu di Muntigunung. Salah satu kegiatan yang kami nantikan dalam kegiatan di Bitera adalah Hari Raya Nyepi.…

Kirana Kasih20
AtomicEssay

AES79 Susungaian

Susungaian, kata yang biasa aku gunakan untuk menyebut kegiatan ini. Sejak sekitar 3 bulan yang lalu aku mengikuti satu komunitas yang bernama River Cleanup. Ya sesuai dengan namanya, kegiatan utamanya adalah bersih bersih sungai. Tidak hanya bersih bersih sungai saja, tapi di dalamnya juga memberi…

Kirana Kasih30