AES62 Yakin Berproses

Baru saja aku mengalami lagi hari dimana ada seorang mahasiswa dikelasku merasa terdesak karena karyanya terlalu banyak "disentuh" oranglain. Aku yang terlambat datang saat itu menanyakan hal yang juga sudah ditanyakan sebelumnya oleh dosen lain. Aku baru tersadar saat si anak bercerita tentang perasaannya.
Hal ini pun pernah aku jelaskan di kelasku yang lain, bahwa saat sebuah karya dipresentasikan, gak semua orang merasa perlu tahu bagaimana prosesnya. Hasil akhir ya hasil akhir, sandungan-sandungan yang terjadi dibelakang tentu gak akan terlihat jika tidak diceritakan.
Tetapi proses juga menjadi bagian penting dalam pembuatan karya. Maka semakin banyak berdiskusi semakin cepat kayuh langkahnya menuju hasil akhir. Tentu mereka akan tumbuh di dalam proses, Meski ada hal-hal yang tidak dipahami saat itu, namun akan menjadi bekal di saat nanti. Tanpa disadari, mereka telah dikuatkan karakternya.
Di kelas Nirmana tiga dimensi yang aku ampu ini, mereka sering dihadapkan pada olahan bentuk dasar. Terkadang, batasannya geometris dengan sistem repetitif, adalagi komposisi geometris (buatan) dengan organis (alam). Tuntutannya mereka harus memahami karakter material yang digunakan sebagai bahan berkarya, sebab ada material yang memiliki karakter sangat kuat, maka saat material lain hadir ia harus melebur. Kepekaan mereka terhadap ruang dari unsur-unsur tadi itulah yang menjadi proses kreatif.
Tantangan aku nih jadinya mirip-mirip sama kakak-kakak di rumah belajar, yaitu mendorong mereka untuk berproses lebih jauh dari apa yang mereka pikir. Tapi, di kelas tuh gak sedikit yang merasa takut salah, padahal kami selalu bilang untuk sejenak melepaskan diri dulu dari koridor benar dan salah. Gagal saat mengeksplorasi akan mengajarkan mereka banyak hal baik. Pertanyaannya, kenapa harus takut gagal?
Efek takut gagal itu muncul di setiap kali kami menjelaskan materi tugas baru. Kalau gak dipancing, dikasih modal tanah liat 5kg juga bisa gak disentuh oleh sebagian yang merasa bingung harus mulai dari mana. Ya, tapi aku juga dulu kurang lebih sama. Mengenggam rasa takut salah itu betul-betul bikin gak kemana-mana. Beruntung, salah satu dosenku pernah bilang, "Jadilah seperti anak kecil yang punya rasa ingin tahu yang besar, amati, coba, gagal, coba lagi dan begitu seterusnya".
Dan hal itu juga yang menjadi pertimbanganku saat mengajak anakku ikut trial di smipa, yang selalu sabar menghargai proses.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES99 Suaka Paling Nyaman
Empat bulan kurang lima hari sejak anakku boarding, akhirnya aku mulai menemukan pola rutinku sendiri setelah beberapa saat aku seperti orang yang lagi belajar juggling. Apa kata yang tepat ya? Riweuh? Iya, riweuh berujung rudet. Dan baru aku tersadar kalau ternyata selama ini rutinitas yang aku la…

AES98 Melihat Sisi Positif
Tulisan ini berawal dari beberapa hari lalu aku dikirimin sebuah video yang bagiku terasa begitu menyayat hati, tentang seorang ayah yang menyuruh anaknya untuk membuang medali dan menyobek lembar sertifikat lomba yang diraihnya. Menurut sumber yang mengirimkan video, perlakuan itu karena sang anak…

AES97 Gerbang Kisah
Dua pekan yang lalu, sebelum jadwal penjengukan, akhirnya aku dan anakku bisa berbincang lewat gelombang suara. Lucu juga rasanya, padahal kesempatan seperti ini relatif longgar, tapi tetap saja menjadi sebuah momen yang ditunggu-tunggu. Di akhir pembicaraan, anakku bilang, ‘Bu, inget kan tulisan d…