AES63 Ketika Jatuh

Minggu lalu aku sempat berbincang dengan anakku yang sedang merasa tidak baik-baik saja karena hasil pra-asesmennya kurang memuaskan. Mungkin baginya itu menjadi sebuah pukulan besar dan kurasa bukan suatu kesalahan ketika ia merasa kesal terhadap dirinya sendiri.
Aku pernah membaca yang aku lupa dimana, bahwa saat seseorang sedang dirundung oleh rasa bersalah, jangan disalahkan. Maksudnya biarkan ia berproses dengan dirinya sendiri, belajar menerima apa yang sedang dialaminya ini memang tidak selalu soal perkara baik. Ada saat-saat dimana seseorang harus berani menerima kegagalan dan mau mengakui kesalahan yang pernah dibuatnya. Tanpa oranglain perlu tahu, dan tanpa harus memperlihatkan sisi terlemahnya saat itu, karena sejatinya kita belajar, kok. Ada kesan dan pesan yang masuk ke dalam diri dan akan membentuk keyakinan diri.
Lalu, aku bertanya pada anakku, "Apakah gagal membuatmu malu?" Sebab kurasa ia perlu tahu bahwa gagal itu gak hina, gagal bukan sesuatu yang fatal. Pun begitu dengan kesuksesan yang bukan sebuah final dari pencapaian seseorang. Lalu ia bercerita kalau ia pernah mendengar bahwa kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Meski menurutku gagal ataupun berhasil sama-sama bisa menjadi indikator diri. Masalah tertunda atau tidak aku lebih senang menyebutnya sebagai sesuatu yang belum waktunya untuk kita raih. Bisa saja kegagalan hari ini justru yang menyelamatkan kita dari suatu hal. Kuncinya tetap berbaik sangka.
Selain pemaknaan terhadap keduanya, apakah ketika target tidak tercapai lantas bisa dengan tergesa-gesa kita simpulkan gagal? Kurasa pun tidak demikian seharusnya. Karena kita berada dalam roda-roda yang terus bergerak. Masalah terbesarnya adalah sejauh apa kita ingin bergerak maju? Pemahaman inilah yang kuharap bisa membentuk anakku untuk tidak pernah berhenti saat merasa kalah. Karena ada yang jauh lebih penting daripada itu, adalah ketika ia bisa menjadikan langkah-langkah yang ia pijak itu sebagai alat untuk menjadikan dirinya bermanfaat bagi oranglain. Tidak lain, tidak bukan, aku yakin saat ia memahami ini ia tidak lagi akan merasa perlu kecewa.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES99 Suaka Paling Nyaman
Empat bulan kurang lima hari sejak anakku boarding, akhirnya aku mulai menemukan pola rutinku sendiri setelah beberapa saat aku seperti orang yang lagi belajar juggling. Apa kata yang tepat ya? Riweuh? Iya, riweuh berujung rudet. Dan baru aku tersadar kalau ternyata selama ini rutinitas yang aku la…

AES98 Melihat Sisi Positif
Tulisan ini berawal dari beberapa hari lalu aku dikirimin sebuah video yang bagiku terasa begitu menyayat hati, tentang seorang ayah yang menyuruh anaknya untuk membuang medali dan menyobek lembar sertifikat lomba yang diraihnya. Menurut sumber yang mengirimkan video, perlakuan itu karena sang anak…

AES97 Gerbang Kisah
Dua pekan yang lalu, sebelum jadwal penjengukan, akhirnya aku dan anakku bisa berbincang lewat gelombang suara. Lucu juga rasanya, padahal kesempatan seperti ini relatif longgar, tapi tetap saja menjadi sebuah momen yang ditunggu-tunggu. Di akhir pembicaraan, anakku bilang, ‘Bu, inget kan tulisan d…