AES64 Melawan Rasa Malas

Kembali aku dan anakku berbincang tentang bagaimana cara untuk menantang diri sendiri. Di usianya yang genap duabelas tahun, ketika rasa malas tiba-tiba datang sebetulnya ia sudah tahu harus melakukan sesuatu yang membuat dirinya mampu merangkak keluar dari rasa itu. Bahkan ia sendiri pun tahu hanya dengan mengalahkan diri sendirilah ia bisa menakar kemampuannya. Tetapi kondisinya sekarang, ya memang masih perlu untuk terus dilatih.
Dengan bahasa berbeda aku menyimpulkan apa yang anakku maksud adalah titik pertahanan terbesar diri seseorang itu letaknya di hati. Semakin kenal dengan diri sendiri, semakin mampu diri memilih untuk mengikuti nafsunya atau membatasi dirinya agar tetap konsisten berjalan menuju tujuan. Bukan hal yang mudah, aku juga mengakui kadang masih sering kalah oleh rasa malas. Sehingga menunda menjadi salah satu cara untuk menghindar dan satu-satunya cara agar tidak terjebak dalam rasa malas ya disegerakan.
Ada sebuah hadist yang mengatakan, "Ketahuilah, sungguh di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika daging tersebut baik, baiklah seluruh tubuh. Jika rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah kalbu (jantung)". Qolbu atau sering kita sebut dengan perasaan inilah yang nantinya akan mengirimkan pesan melalui sistem syaraf ke seluruh tubuh. Ia memiliki 5000x lebih kuat dibandingkan pikiran. Pantas saja, sebelum perasaan menjadi tenang akan sulit untuk mencapai kejernihan pikiran. Sederhananya, mana bisa kita melakukan sesuatu kalau di dalam dirinya sendiri gak yakin bisa melakukan hal tersebut.
Andaikata kita tahu alasan dari hadirnya rasa malas, tentu menjadi lebih mudah mengurai emosi apa yang sebenarnya sedang terjadi. Adakah kekhawatiran atau rasa takut yang sedang disampaikan oleh tubuh? Jika iya tentunya perasaan negatif ini bisa diubah dengan memaksa diri untuk berbaik sangka. Kenapa? Karena pesan positif itu berjalan lebih cepat ke seluruh tubuh dibadingkan pesan negatif. Bayangkan saja, sistem syaraf yang sedang mem-broadcast pesan kita ke seluruh tubuh. Gak cuma dari apa yang kita rasa, tapi juga kita dengar dan kita lihat.
Nah, tubuh kita terdiri dari badan bioplasmik dan badan selular, dan pesan (prasangka baik) akan sampai ke badan bioplasmik melalui pembuluh meridien. Saat sampai yang terlihat adalah ketenangan dan yang akan merasakan gak cuma diri sendiri, tetapi juga orang-orang disekitarnya. Jadi, aku yakin kalau rasa malas ini bisa hilang hanya dengan menyegerakan serta menumbuhkan rasa yakin bisa mendatangkan banyak kebaikan.
Kesimpulannya, cukup ber-iklas sih dalam setiap apapun. Kemudian sabar saat menerima apapun bentuk hasilnya.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES99 Suaka Paling Nyaman
Empat bulan kurang lima hari sejak anakku boarding, akhirnya aku mulai menemukan pola rutinku sendiri setelah beberapa saat aku seperti orang yang lagi belajar juggling. Apa kata yang tepat ya? Riweuh? Iya, riweuh berujung rudet. Dan baru aku tersadar kalau ternyata selama ini rutinitas yang aku la…

AES98 Melihat Sisi Positif
Tulisan ini berawal dari beberapa hari lalu aku dikirimin sebuah video yang bagiku terasa begitu menyayat hati, tentang seorang ayah yang menyuruh anaknya untuk membuang medali dan menyobek lembar sertifikat lomba yang diraihnya. Menurut sumber yang mengirimkan video, perlakuan itu karena sang anak…

AES97 Gerbang Kisah
Dua pekan yang lalu, sebelum jadwal penjengukan, akhirnya aku dan anakku bisa berbincang lewat gelombang suara. Lucu juga rasanya, padahal kesempatan seperti ini relatif longgar, tapi tetap saja menjadi sebuah momen yang ditunggu-tunggu. Di akhir pembicaraan, anakku bilang, ‘Bu, inget kan tulisan d…