AES66 ghibli

credit: studio ghibli; everett collection
Sejak kecil, film-film studio Ghibli adalah pilihan favorit anak-anak saat movie time, again and again.. =D Memang film-film yang tidak cukup untuk ditonton sekali saja. Awalnya aku pikir karena alurnya yang seringkali kompleks, anak-anak memang perlu beberapa kali menonton untuk paham alur dan pesan cerita. Ternyata sampai sekarangpun, bila punya waktu luang, entah mengapa suka muncul keinginan untuk nonton film-film Ghibli. Bukan untuk paham alur, tapi untuk menikmati kembali suasana, mood, keindahan gambar.. Tak pernah merasa bosan. Mungkin seperti lagu kesukaan, atau kebiasaan yang memang aneh =D Sewaktu kedatangan Marius, anak pertukaran pelajar dari Perancis, kami ajak dia ikut nonton. Responnya lucu. Ayo, tapi separuh bertanya-tanya, “Beneran nih, nonton animasi? Orangtuaku ga pernah dan sepertinya ga akan pernah nonton animasi.” katanya. Berbeda preferensi kali ya.. Marius sendiri menyukai animasi dan banyak hal tentang Jepang, meski baru saat itu mengetahui tentang studio Ghibli. Jadilah tak sekadar menonton kami pun bisa lanjut membahas panjang film yang telah ditonton.
Memang recommended sekali, untuk anak segala usia. Karya-karya yang dikerjakan dengan komitment tinggi, dan konsisten di semua judul. Salah satu faktor yang membuat aku jatuh cinta pada karya-karya studio ini adalah karakter hand drawing / goresan tangan yang membuat gambar-gambarnya lebih dekat dengan rasa, lebih alami dan hidup. Beda tentunya dengan efek komputer / CGI, meski sudah semakin canggih. Faktor lain yang membuat menonton film-film keluaran studio ini ibarat piknik bagi sisi imajinasi dalam diri adalah alur cerita, tokoh atau karakter, kedetilan penggambaran, belum lagi soundtracknya yang selalu terasa pas. Alur pada cerita-cerita imajinatifnya, seperti Ponyo, Spirited Away, Howl’s Moving Castle atau Laputa, Castle in The Sky sangat tidak terduga, dipadu dengan tokoh-tokoh yang menghidupkan cerita. Namun cerita-cerita yang realistis seperti The Wind Rises atau From Up on Poppy Hill, bahkan Only Yesterday pun tak kalah seru dan memikat untuk aku ;)
Komentar (4)
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES182 Kolaborasi Buku Anak
Pada Festival Literasi Tahun Pendidikan 21 yang mulai berlangsung ini, ada banyak program menarik. Salah satu yang baru adalah Kolaborasi Buku Anak. Undangan pertama untuk para penulis. Siapapun yang mau boleh menulis cerita bertema imajinatif untuk anak < 10 tahun. Ternyata cukup banyak yang me…

AES181 Terima Kasih!!
Festival Literasi TP 2024-2025 baru saja berakhir, penuh rasa dan syukur. Festival Literasi di Smipa bukan acara yang wah dalam arti mewah atau meriah saja. Yang ingin dicapai bukan sekadar wah. Banyak hal yang ingin kita sasar dan bangun lewat kegiatan ini. Jadi, apa yang membedakan Festival Liter…

AES180
Sudah cukup lama tidak mengunjungi akun Ivan Lanin. Biasanya pada periode merapot, saya suka melihat-lihat postingan beliau. Banyak dapat info perkembangan bahasa Indonesia yang jarang sekali dapat perhatian. Unggahan uda selalu menarik, dengan nuansa humor yang kocak, sekaligus mengajak pembaca be…

