AES662 Merasa Sudah

Sekian belas tahun berproses di Rumah Belajar Semi Palar, saya menemukan satu hal yang paling perlu disadari. Garis bawahnya ada di kata disadari - terkait erat dengan kata kesadaran karena ini jadi tantangan besar yang akan terus dihadapi. Di tulisan sebelumnya, saya sempat menuliskan bahwa kondisi default manusia adalah ketidak-sadaran. Berada di tataran kesadaran memang perlu diupayakan. Sesuatu yang tidak otomatis terjadi.
Kenapa perlu disadari, karena hal ini jadi penghalang besar bagi proses belajar kita - sebagai individu ataupun sebagai lembaga. Kata-kata itu saya tuliskan sebagai judul di atas: Merasa Sudah. Pertama-tama ini tentunya bertentangan dengan spirit Rumah Belajar yaitu untuk senantiasa belajar. Kita toh tahu bahwa belajar adalah proses sepanjang hayat. Kedua ini juga nyambung dengan apa yang disampaikan Aki Muhidin, bahwa Nyaho Can Tangtu Ngarti, Ngarti Can Tangtu Bisa dan seterusnya. Nah ini juga perlu disadari betul ya.
Merasa sudah apa maksudnya? Tentunya ya merasa sudah bisa, merasa sudah tahu, merasa sudah hebat dan seterusnya. Dan ini nyambung dengan persepsi diri bahwa saya adalah orang yang jagoan, seorang ahli, pakar dalam sesuatu hal dan seterusnya. Ini yang berbahaya bagi proses belajar kita. Karenanya memang kata-kata yang disebutkan sebagai Belajar Sepanjang Hayat itu sangat kehilangan konteks di dalam sebuah sistem / lembaga pendidikan. Dulu kita setelah SD mendapatkan sebuah piagam yang disebut STTB atau Surat Tanda Tamat Belajar. Waduh ini kan ga nyambung. Kemudian dalam prosesinya, kita maju ke depan dan setelah mendapatkan piagam tersebut dari kepala sekolah atau rektor, kita diberi tepuk tangan ratusan atau ribuan orang yang hadir. Seakan-akan hebat, tapi kalau ditelaah mendalam, proses ini sangat menjebak - dan berbahaya bagi diri kita.
Pada akhirnya saat ini disadari betul, kita akan sangat menghindari untuk sampai di titik 'merasa sudah' tadi, karena seperti Aki Muhidin bilang can tangtu untuk setiap tahapannya. Karena Can Tangtu inilah Belajar Sepanjang Hayat jadi menemukan konteksnya.
Pada saat yang sama, saat kita menyadari hal ini, kita akan menjadi senantiasa rendah hati juga. Ini adalah spirit di belakang STBTPT atau Surat Tanda Belajar Tidak Pernah Tamat yang diberikan kepada teman-teman Smipa yang sudah menuntaskan jenjang belajarnya. Kita tidak akan bilang bahwa belajarmu sudah tamat, Semi Palar justru mengingatkan bahwa Belajar itu ga pernah berhenti... Kamu hanya sudah menuntaskan satu tahapan belajar. Proses selanjutnya menanti dan akan terus berlanjut - sepanjang hayat. Jadi berusahalah selalu untuk tidak 'merasa sudah'. Salam Smipa.
Photo by Luke Webb: https://www.pexels.com/photo/back-view-photo-of-standing-woman-with-her-hands-raised-2836705/
Komentar (3)
Wah tulisan ini belum tuntas - keburu dibaca @finsjournal. Punten pisan.
hahahhaha... ga apa-apa Kak... kan merasa sudah... (^.^)v
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES951 Siap Bersekolah
Pagi ini di ruang tempat kami berdiskusi - berkoordinasi, terdegar suara tangisan seorang anak. Hari Selasa ini kami baru memasuki hari ke lima bersekolah, di TP ke 22 ini. Mengamati sebentar, sepertinya ini terjadi karena kenyamanan teman baru ini di rumah barunya. Murid di TK-A yang masih perlu w…

AES930 DeepTalk Kakak-kakak Smipa
Tidak ada peristiwa kebetulan... Di dalam rangkaian momen yang terus bergantian hadir, peristiwa tertentu akan menghadirkan sesuatu yang memantik perasaan bahwa hal ini adalah sesuatu yang perlu direspons. Sudah lama saya berusaha menjalani hari-hari dalam kesadaran ini (mudah-mudahan hal ini bisa…

AES904 Bukan Kesimpulan
Ini hanya catatan kecil saja dari proses belajar kakak-kakak dan persiapan pembelajaran semester 2. Hari ini saya diberi kesempatan menggenapi proses pembekalan yang sempat di gulirkan di TP21. Di minggu perencanaan awal semester kemudian di pembekalan yang kami laksanakan di Lembang. Waktunya sing…

