AES67 Cerita Hari Ini

Hari ini mulai memasuki jeda kegiatan, aku mengajak anakku membahas soal-soal yang sudah pernah diberikan dikelas mumpung ada kesempatan sebelum dilaksanakannya pekan asesmen akhir sekolah. Menarik, ketika anakku bertanya kenapa harus ada asesmen? Sebetulnya apa yang diukur dari sana? Kurasa di akhir jenjang SD besar ini banyak sekali pembelajaran yang kami sekeluarga bisa dapatkan, tak hanya soal menyiapkan anak untuk menghadapi asesmen akhir, tetapi yang paling utama adalah dengan adanya masa peralihan menuju pra-remaja, kuakui mulai banyak perbedaan atau selisih pendapat antara aku dan anakku.
Berbeda pendapat atau sudut pandang disini menurutku gak selalu mengarah pada situasi yang negatif. Justru, aku merasa mendapatkan banyak insight terkait perubahan pada cara anakku berpikir. Aku melihat anakku sekarang mulai banyak berefleksi, ia menyadari apa yang terjadi dengan dirinya, melihat sekitarnya dan dari sanalah ia mulai mendapatkan banyak sumber data ‘valid’ untuk diolah oleh dirinya sebagai informasi baru. Masalah berikutnya yang muncul adalah seberapa pahamkah ia untuk menemukan cara dalam mengolah informasi yang ia miliki sebagai sumber pengetahuan bagi dirinya?
Aku senang jika ia mulai mengajakku berdiskusi, biasanya ia akan memulai dengan “Bu, aku mau tanya?” Jika sudah dimulai dengan kalimat itu, terasa mudah aku menemukan pintu masuk untuk ‘membaca’ apa yang sedang ia pikirkan. Sebab semakin bertambah usianya, aku semakin kesulitan mengikuti dirinya. Ditambah lagi dengan kemudahan dirinya mengakses data dari mana saja, tidak hanya buku, membuat aku merasa ada titik-titik tertentu yang memang tidak bisa atau terlambat aku isi.
Pernah aku bilang pada anakku bahwa ada hal paling penting selain menjadi pintar yakni bijaksana. Akan tetapi menuju bijaksana itu tidak bisa diajarkan, ia harus menemukannya sendiri melalui banyak sekali eskalasi. Sekarang, diusianya ini, di jenjang akhir SD besar sebelum menuju SMP, ketika ia ditantang untuk menemukan solusi secara mandiri sejatinya ia sedang diajarkan untuk mengolah informasi menjadi sumber pengetahuan untuk dirinya. Aku gak bicara skala yang lebih besar. Hanya terbatas pada konteks dirinya saja, kemampuan ia saat menyadari adanya sesuatu yang salah, ternyata masih membutuhkan pihak luar untuk menjadi ‘penerang’ agar ia bisa terus berjalan.
Disini, aku ingin menarik garis besarnya dulu, bisa dikatakan untuk dapat memecahkan masalah seseorang harus memiliki kemampuan berstrategi, kemampuan mengambil keputusan, kemampuan mengkalkulasi dan kemampuan membaca timing. Sebetulnya karena aku melihat ini sebagai sebuah perjalanan panjang, maka menurutku dengan mendorongnya berpikir reflektif sudah menjadi satu jalan tempuh yang cukup bagi anakku (disaat ini) untuk menemukan pengetahuan diri. Sebab kebijaksanaan bisa dicapai dengan adanya korelasi antara pengalaman (bisa juga dengan mengalami suatu ‘kepahitan’) dibarengi dengan kemampuan reflektif yang baik, tapi lagi-lagi butuh waktu. Ada yang paling mudah, yaitu dengan cara mengimitasi, tetapi karena masalah yang datang dalam hidup selalu berubah, pada akhirnya kita gak bisa copy paste. Bukankah begitu?
Hakikatnya, informasi yang digunakan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri adalah sebuah pengetahuan, dan dari perjalanan tersebut seseorang akan mencapai kebijaksaan jika ia mampu menyelesaikan masalah dengan konteks berbeda dari informasi sebelumnya. Ini nih tantangan sebenarnya untukku, dengan seringnya anakku bertanya ‘kenapa?’ aku semakin yakin bahwa saat itulah ia sedang mengunyah informasi. Tak hanya untuk anakku, tetapi juga sebagai sarana diriku belajar; bijaksana bukan hanya tahu bagaimana caranya melakukan dengan benar, tetapi juga tahu kenapa hal tersebut harus dilakukan.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES99 Suaka Paling Nyaman
Empat bulan kurang lima hari sejak anakku boarding, akhirnya aku mulai menemukan pola rutinku sendiri setelah beberapa saat aku seperti orang yang lagi belajar juggling. Apa kata yang tepat ya? Riweuh? Iya, riweuh berujung rudet. Dan baru aku tersadar kalau ternyata selama ini rutinitas yang aku la…

AES98 Melihat Sisi Positif
Tulisan ini berawal dari beberapa hari lalu aku dikirimin sebuah video yang bagiku terasa begitu menyayat hati, tentang seorang ayah yang menyuruh anaknya untuk membuang medali dan menyobek lembar sertifikat lomba yang diraihnya. Menurut sumber yang mengirimkan video, perlakuan itu karena sang anak…

AES97 Gerbang Kisah
Dua pekan yang lalu, sebelum jadwal penjengukan, akhirnya aku dan anakku bisa berbincang lewat gelombang suara. Lucu juga rasanya, padahal kesempatan seperti ini relatif longgar, tapi tetap saja menjadi sebuah momen yang ditunggu-tunggu. Di akhir pembicaraan, anakku bilang, ‘Bu, inget kan tulisan d…