AES689 Darurat Demokrasi

Ada yang kurang kalau saya tidak menulis tentang ini. Di dalam prosesnya, saya mengikuti dinamika proses politik yang sedang berlangsung di Indonesia. Ada sesuatu yang memantik kembali atensi saya terhadap dinamika politik yang terjadi. Lepas dari proses Pemilihan Presiden yang lalu, saya cenderung mengambil jarak dari berbagi proses politik yang ada. Tulisan saya terakhir yang temanya politik adalah pada tanggal 22 April 2024, judulnya adalah Apatisme Politik. Tulisan ini saya susun paska Pilpres di mana saya menyadari bahwa sekecil apapun, kita harus tetap berusaha menempatkan kesadaran kita dalam konteks politik.
Saya kira ini yang terjadi dengan masyarakat Indonesia, termasuk juga sebagian kecil dari pejabat negara yang masih punya nurani. Keputusan MK no. 60 dan 70 sepertinya adalah bentuk kesadaran yang bangkit dari pada para hakim MK yang akhirnya melihat bahwa memang para elit politik sudah kebangeten. Beberapa tokoh bangsa bahkan menyebutnya sebagai (maaf), sebuah kegilaan. Saya bersepakat dengan mereka.
Peraturan hukum dan perundangan adalah bukan sekedar aturan belaka. Ada hal-hal yang mulia di belakangnya, ada moral dan etika yang melatarinya. Pada tokoh bangsa dan pakar tata negara di Indonesia banyak bicara tentang ini. Dan hal inilah yang sama sekali diabaikan oleh sebagian besar para elit. Yang akhirnya sekarang sedang menghadapi kemarahan bangsa Indonesia melalui demo di berbagai daerah di Indonesia. Masyarakat Indonesia sedang terbangun dari apatisme politiknya.
Kalau teman-teman melihat bahwa di ruang sidang DPR/MPR dipajang lambang Garuda Pancasila - berukuran besar yang demikian gagahnya, tapi apakah simbol itu bicara? Hari ini kita sedang banyak bicara tentang spirit di sekolah kita Semi Palar. Pernahkah berbagai nilai dan semangat kebangsaan yang disimbolisasikan oleh Pancasila dijadikan bahan refleksi oleh ratusan wakil rakyat yang duduk di ruangan itu. Wakil rakyat yang katanya terhormat, Pancasila itu kan cerminan kalian. Apakah setiap pemikiran dan kebijakan yang keluar dari pikiran kalian, dari kesepakatan kalian mencerminkan sila-sila Pancasila. Ini problem besar di ruang perwakilan tertinggi di Indonesia. Mengerikan. Sangat mengerikan.
Proses politik seperti yang terjadi saat ini selalu jadi kesempatan baik bagi saya yang berkarya di ranah pendidikan untuk merefleksikan diri tentang bagaimana kita bisa mengupayakan berbagai ikhtiar pendidikan agar anak-anak kita yang sedang belajar ini tidak berakhir menjadi manusia-manusia seperti yang kita lihat di panggung politik hari ini. Manusia yang tidak punya nurani, tidak menghiraukan etika dan moralitas, hanya peduli diri sendiri dan seterusnya, dan seterusnya. Inilah yang terus jadi pemikiran saya, mudah-mudahan kita semua, di Rumah Belajar Semi Palar bisa menemukan jawaban dan mampu melakukannya...
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES963 Oh...
DIksi singkat ini, 'Oh', sedang saya upayakan menjadi diksi yang banyak saya gunakan. Kenapa? Karena diksi ini membantu saya menempatkan segala sesuatu yang terjadi sebagai netral, Kenapa perlu netral? Sejauh ini saya meyakini bahwa menempatkan segala sesuatu secara netral adalah cara ampuh untuk m…

AES961 Shaken To The Core...
Dalam perjalanan kehidupan, dari waktu ke waktu, manusia akan diajak melalui jalan yang gelap, terjal dan menantang. Mendapatkan pengalaman yang mengguncang keyakinan yang telah dibangun sekian lama. Sesuatu yang tidak diduga, tapi ya, hal ini terjadi, tidak dapat dihindari.Bahasa Inggrisnya mungki…

AES960 Berguru pada Garpu
Meminjam tajuk pertunjukkan musik Abah Iwan beberapa waktu lalu di Rongga Budaya, Dusun Bambu, pagi di Ngobras ke 3 TP22 terjadi peristiwa yang gambarnya saya tempatkan di atas ini. Konser Abah Iwan bertajuk Berguru pada Alam, karena ya begitulah apa yang beliau sampaikan / ekspresikan di dalam kon…

