AES77 Mata Air Bismo

Dari mata yang tak bersuara itu,
kudengar rindu yang berhembus lirih
Senyap, begitu senyap dan malu-malu
merasuki ingatan dan menjalari seluruh saraf
Sebab, bagaimanapun
kasihmu hidup di seluruhku
Terima kasih
- Matheus Aribowo, 2025
Kutulis puisi sederhana ini beberapa hari setelah aku kembali menjejaki lereng Gn. Bismo, bahkan kali ini sampai ke puncaknya. Sudah menjadi rutin setiap akhir atau awal tahun, aku bertualang ke gunung atau tempat-tempat di mana sunyi bersemayam. Menutup tahun 2024, terpilihlah Gunung Bismo. Sebuah gunung cantik yang menyisakan lubang kaldera raksasa menganga menghadap ke timur laut. Dari Dieng, puncak gunung ini dapat digapai hanya dengan berjalan sekitar 90 menit. 4 tahun sebelumnya, saya mendakinya dari jalur berbeda dengan waktu tempuh 3 jam. Kali ini kami memutuskan menyusuri lereng Bismo yang paling sepi, rimbun, jauh, sekaligus menyimpan kekayaan vegetasi heterogen yang menaungi kehidupan Lutung Jawa. Selain juga terdapat salah satu hutan pakis yang konon terluas di Indonesia. Gunung Bismo via Deroduwur, hampir 5 jam naik dan 3 jam turun.
Jalur jauh dan sepi sungguhlah nama lain bagi indahnya perjalanan atau pendakian. Semakin sepi perjalanan, semakin ramai pula perenungan dan percakapan di dalam diri. Ingatan begitu mudah melesat menjenguk cerita-cerita lalu yang pernah tertanam di lereng Bismo. Di sebuah mata air, kuminum lagi air Bismo. Air segar segera jatuh menyapa dinding ternggorokan secepat kenangan masa kecil yang muncul meski sepercik-percik. Di lereng Bismo, Mamat kecil yang kala itu dipanggil Tius, pernah memecah heningnya pedesaan terpencil itu dengan merdu tangisnya. Teringat cerita bapak menenteng 2 ember berjalan tergopoh-gopoh menapaki jalanan tanah berbatu menuju mata air, setiap pagi. Demi Tius bisa minum, mandi, atau sekadar untuk menyeka keringat di kulitnya. Ibu adalah perempuan desa dari pesisir selatan jawa, terbiasa dengan cuaca panas dan jalanan datar di kampungnya. Tinggal di lereng Bismo dengan bayi berumur tak lebih dari 1 tahun adalah ujian baginya. Mengingat semua cerita yang kualami namun belum mampu kucerna saat itu saja cukup membuatku iba. Namun benar kata Joko Pinurbo, bahwa ibu tak pernah kehilangan iba. Digendongnya Tius dengan nyanyian dari angin lereng Bismo. Ibu menghiburku, dan menghibur gundahnya sendiri. Seorang perempuan muda berumur 18 tahun dengan seorang anak lelaki berumur kurang dari 1 tahun. Tinggal di entah berantah, desa terakhir di lereng Gunung Bismo.
Semoga aku tak salah menerjemahkan waktu, sebab dahulu semuanya berjalan perlahan dan malu-malu. Kata-kata hanya kuartikan sebagai hiburan atau pengalihan saat aku lapar, kata yang ketika itu belum kukenal namanya. Usai berkalana di lintasan waktu, aku kembali dengan rindu yang sama. Kepada ibu.
Dari sebuah buku lama, kutemukan sebuah kutipan, "Tetapi sungguh hebat kekuatan dan daya hidupnya. Betapa kerasnya ia bertahan, dan betapa mahal ia menghargai hidupnya." Ini untuk ibu, dengan segala upayanya melahirkan dan merawat kehidupan.
Terima kasih Gunung Bismo, dan percakapan-percakapan yang dalam dan luas.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 102 Berbagi Jalan
MengALAMI kembali pengALAMAN intens bersepeda di jalanan Bandung sebulan ini, gagasan utopisku tetiba muncul. Bahwa mungkin dengan naiknya tren bersepeda serta konsistennya kami, BaikSirkel dalam mengisi ruas-ruas jalanan kota dengan sepeda, akan TURUT MEMELANKAN RITME KOTA YANG RASANYA SEMAKIN TER…

AES 101 Kembali ke Akar?
Frasa "Kembali ke Akar" akan selalu menjadi pertanyaan yang menarik untuk diuji dan dicerna di lambung pikir dan rasa. Pada sebuah hari yang santai, karena memang begitu hari-hariku kini, tetiba panggilan suara berkunjung ke gawaiku atas nama Bayu Mango. Dari balik telepon itu tertangkap sehelai pe…

AES 100 Sampai
Sampailah kita pada saat yang berbahagia, dengan selamat sentosa, mengantarkan Kawan Marwas ke depan pintu gerbang petualangan dan jenjang baru, kelas 4. Tak lupa juga jenjang lain yang pernah bertualang bersama dan berbagi kegembiraan. Bersamaan dengan ini, berakhir pula masa bakti saya sebagai te…