AES779 Apakah Semesta Bisa Membuat Kesalahan?

Pagi tadi seberkas tanya melintas di alam pemikiran saya. Kalau segala sesuatu yang selama ini berjalan sejak awal mula, segala sesuatu yang ada, seluruh eksistensi di alam semesta ini, apa adanya, sebagaimana sebuah kesadaran semesta yang menuntun arahnya, apakan kekuatan, arus besar yang mengarahkan proses tersebut - sebutlah Tuhan, Semesta, Kesadaran atau lainnya, pernah atau bisakah sesuatu yang serba Maha itu melakukan kesalahan?
Kehidupan saya, yang dimulai dari kelahiran saya melalui orangtua saya. Pertemuan saya dengan anda, berjumpanya anda dengan tulisan ini, pertemuan kita di Semi Palar, bertemunya atau tidak bertemunya saya dengan jodoh atau soul mate saya... pernahkah hal tersebut terjadi, termanivestasikan atas sebuah kesalahan? Dapatkah kita dengan penuh keyakinan menjawabnya?
Kalau jawabannya tidak, lalu kenapa kita sering merasa bahwa banyak hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita, masalah yang kita hadapi, kesulitan-kesulitan yang kita alami dan seterusnya, dari mana itu datang? Kenapa itu terjadi, kalau arus besar semesta semestinya berjalan seperti yang semestinya. Fitrah Tuhan, hakikat penciptaan dan proses-proses yang berjalan sejak awal mula, sejak titik awal segala sesuatu ini.
Di tulisan sebelumnya saya sempat menulis tentang keselarasan kita dengan semesta. Kalau arus besar - proses semesta ini berjalan sebagaimana mestinya, kalau manusia berproses selaras dengan semesta, bukankah kesimpulannya, hidup dan proses kehidupan manusia juga baik adanya? Bukankah logika sederhananya begitu? Kembali lagi ke konsep Makro Kosmos dan Mikro Kosmos. Konsep yang sudah hadir di berbagai peradaban manusia di berbagai penjuru dunia.
Sejauh pemahaman saya, hanya manusia yang punya kemampuan untuk memilih - mengambil keputusan yang kemudian memengaruhi jalan hidupnya. Makhluk lain kehidupannya berjalan sesuai arus besar semesta. Dinosaurus yang punah salah satu contohnya, tapi manusia karena kecerdasannya punya kemampuan berbeda. Di sisi lain memang hanya manusia yang punya kesadaran, dan sebagai konsekuensi logisnya, terbukalah kemungkinan ketidak-sadaran.
Dalam pemahaman saya ketidak-sadaran inilah yang berpotensi besar menyebabkan ketidak-selarasan, ketidak-selarasan ini yang kemudian menjadikan ketidak-bahagiaan. kebingungan, berbagai permasalahan dan lain sebagainya. Menemukan kesadaran diri (self awareness) dengan sendirinya menjadi kunci kehidupan manusia. Menjadi kunci kebahagiaan, keselarasan, pemaknaan hidup dan lain sebagainya. Saya kira esensi kehidupan manusia terletak di sini. Semesta tidak pernah salah, termasuk kenapa manusia dianugerahi kesadaran diri. Inilah proses belajar, di dalam maknanya yang paling mendasar. Semoga tulisan ini bermanfaat. Namaste .
Photo by Poppy Thomas Hill: https://www.pexels.com/photo/a-worn-out-yellow-pencil-in-close-up-6555379/
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES942 Holistic Science
Pertama kali mendengar kata holistik (holistic) disandingkan dengan kata lain di belakangnya, seingat saya di sekitar tahun 2005-an. Saat awal kami merintis Rumah Belajar Semi Palar - waktu itu masih mengontrak satu rumah di Jalan Terusan Karang TIneung, karena lokasi saat itu Semi Palar masih beru…

AES935 Dialog Batin : Akar Perwujudan Kehidupan Manusia
John Dewey bilang, Pendidikan adalah Kehidupan itu Sendiri. Dalam konteks itulah, kita perlu berupaya memahami apa yang disebut dengan manusia seutuhnya dalam konteks kehidupannya yang sejati, tentunya dalam pemaknaannya yang paling fundamental. Manusia sejatinya adalah makhluk spiritual. Hal ini t…

AES921 Damai
Sebelumnya saya menulis tentang Perang, kali ini saya ingin menulis tentang Damai. Di tulisan saya terdahulu saya menyebut tentang Perang Kesadaran. Mungkin pilihan kata Perang bisa berkonotasi negatif. Tapi dari perspektif tertentu memang itulah yang terjadi, dua pihak yang sedang saling berebut a…
