AES78 Bumi Bagja Foodforest

"Sejauh ini, ini yang paling tidak jauh."
Setiap kita pasti pernah datang ke suatu tempat atau bertemu dengan seseorang, namun merasa begitu kenal dan dekat. Setidaknya itu yang kami rasakan. Persis serupa dengan perasaan ketika berada di tengah hutan dengan segala keindahannya, tetapi dengan perasaan di rumah. Kita mengenal, merasa nyaman, aman, begitu tenang, dan damai. Kicau burung, suara serangga malam, lantunan aliran sungai, kodok, dan segala yang bersuara dengan merdeka di sana.
"Karena ternyata, saya senang melihat api."
Abah Isep menjawab ringan, pertanyaan tentang alasannya menjadi "seniman" asap. Sederhana yang "mengejutkan" bagi kami. Bagiku pribadi, langsung kembali memanggil ingatanku tentang kebersamaan dengan api (dari bakaran kayu, bukan api korek dan kompor). Ternyata sudah cukup lama, sejak masa kecilku yang rutin membantu simbah menjaga api di tungku perapian yang digunakannya menanak nasi, menggoreng telur, atau memasak tumis kangkung kesukaanku. Abah Isep membuatku kembali merenungi tarian api di perapian yang menyala kecil di hadapan kami bertiga. Meski kecil, nyalanya cukup untuk menerangi wajah dan menyelimuti tubuh kami dari dinginnya angin lereng Gunung Gede dan Pangrango.
Rasa-rasa yang mewah.
2 hari semalam di sana, aku menyimpulkan dengan yakin bahwa masakan Abah Isep dan Ambu Ari tak pernah gagal. Maksudku, lagi-lagi mereka menyuguhkan kemewahan bagi indra kami yang lain. Pandangan, bunyi dan suara, kehangatan, dan kali ini pengecap rasa. Entah berapa tahun lamanya, lidah dan mulut kami dimonopoli oleh rasa gurih, pedas, dan manis. Hari itu, kembali kami mengecap rasa asli daun, buah, rempah, jamur, daging, dan beragam-ragam lainnya. Kusebut ini kemewahan rasa.
Sungguhlah terima kasih yang terdalam bagi Abah Isep dan Ambu Ari atas perkenanannya, kami boleh berkunjung menjadi tamu di hari ramadhan pertama. Diterima untuk menyambut buka puasa pertama dengan kehangatan dan cerita-cerita. Matur sembah nuwun. Sehat selalu dan panjang umur ketulusan.
Komentar (1)
Ah ini dia ternyata ceritanya dituliskan di sini. Terima kasih kak. Semoga saya berkesempatan mampir ke sana...
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 102 Berbagi Jalan
MengALAMI kembali pengALAMAN intens bersepeda di jalanan Bandung sebulan ini, gagasan utopisku tetiba muncul. Bahwa mungkin dengan naiknya tren bersepeda serta konsistennya kami, BaikSirkel dalam mengisi ruas-ruas jalanan kota dengan sepeda, akan TURUT MEMELANKAN RITME KOTA YANG RASANYA SEMAKIN TER…

AES 101 Kembali ke Akar?
Frasa "Kembali ke Akar" akan selalu menjadi pertanyaan yang menarik untuk diuji dan dicerna di lambung pikir dan rasa. Pada sebuah hari yang santai, karena memang begitu hari-hariku kini, tetiba panggilan suara berkunjung ke gawaiku atas nama Bayu Mango. Dari balik telepon itu tertangkap sehelai pe…

AES 100 Sampai
Sampailah kita pada saat yang berbahagia, dengan selamat sentosa, mengantarkan Kawan Marwas ke depan pintu gerbang petualangan dan jenjang baru, kelas 4. Tak lupa juga jenjang lain yang pernah bertualang bersama dan berbagi kegembiraan. Bersamaan dengan ini, berakhir pula masa bakti saya sebagai te…
