AtomicEssay

AES81 Menemani Yang Pecah Telor (?)

wulan bubuypenulis arsip2

Melewati hari ini sebetulnya penuh dengan keajaiban. Mulanya, anakku Obiet minta berangkat lebih pagi karena sebuah alasan yang sesuatu banget; mau lebih pagi sampai smipa daripada temannya yang selama ini belum terkalahkan rekor kedatangannya.

Kalau dikasih pilihan, aku sendiri lebih suka berangkat lebih awal, dengan jalanan yang sepi aku jadi bisa menikmati perjalanan. Gak ribet sama urusan kendaraan lain yang bersliweran. Dan gak dipungkiri urusan hati juga jadi lebih tenang, gak terburu-buru ingin lekas sampai atau khawatir terhambat karena sesuatu diluar dugaan terjadi.

Sesampai di smipa, aku bertemu dengan beberapa orangtua. Salah satunya Lei yang sedang kutunggu-tunggu muffinnya. Si tukang bebikinan yang menurutku selalu pakai hati dalam menghadirkan apapun (ini pujian serius, loh), tapi sayangnya aku lupa bawa wadah kosong untuk muffin yang kupesan. Sepertinya ini sisi buruk yang sulit kuubah, ketika antusias pada sesuatu, ada saja yang kemudian tertinggal tanpa sadar. Harusnya ada cara yang bisa membuat aku meminimalisir kadar lupa yang seperti ini ya, mungkin harus aku pikirkan dengan lebih serius. Kali ini, gak cuma satu barang yang tertinggal tapi dua sekaligus.

Usai berbincang beberapa saat, aku pamit untuk melakukan aktivitas lain di sekitaran balaikota. Hal ajaib lainnya adalah ketika aku keluar dari sukamulya menuju pasteur tepat di sebrang Aston, sebuah kabel listrik terjatuh dan membuat kemacetan yang sangat panjang. Ada beberapa bapak-bapak yang bantu mengaturkan lalu lintas, setidaknya aku harus berterima kasih sebab mereka jugalah yang membantu mengarahkan beberapa kendaraan yang akan masuk ke jalur pasteur. Aku jadi teringat situasi pagi yang tetiba harus berangkat lebih awal, yang gak terpikir sebagai rencana Allah juga menghindarkan kami dari kemacetan dan bisa sampai di smipa bukan hanya tepat waktu tapi penuh dengan rasa syukur.

Waktu masih menunjukkan pukul sebelas kurang sepuluh ketika keluar dari jalan wastukencana. Aku berniat pulang sebenarnya tapi hati malah mantap membelok ke arah smipa. Dalam kebimbangan (cie) aku nanya sama hati, 'Mau ngapain woi?' Ah tapi sudahlah, aku cuma bertujuan sampai di smipa lebih awal dan mau menuntaskan hak tubuh; tidur! Dan ternyata, aku ditakdirkan untuk menemani seseorang menulis AES! Ini diluar bayangan banget! Hidup itu, Masyaa Allah, selalu saja memberikan warna yang luar biasa. Menyuguhkan kisah yang seru.

Akhirnya, setelah delapan bulan, aku bisa menulis lagi. Ini sih bonus yang paling menyenangkan.

Ohya, pecah telur apa telor sih? Hihihi...

Komentar (4)

Andy Sutioso

Bisa jadi ejaan yang betul itu telur. Tapi dari sisi rasa bahasa, Pecah Telor lebih mantap kedengarannya

wwulan bubuy

Hihihi, iya juga kak, lebih "enakeun" bilang telor dibanding telur

joefelus

Luar biasa! seru banget hari ini saya banyak baca esai dari teman-teman di Smipa juga tulisan mbak Wulan.. terima kasih!

wwulan bubuy

Makasih juga udah baca bang Joe. Kalau bukan gara-gara kak Andy, gak bakalan jadi aes cerita hari ini. Tadi, paaas banget sampai smipa masih ada yang lagi nulis, bergabung deh dengan dalih nemenin, padahal sendirinya juga butuh ditemenin (dikomporin) biar semangat nulis lagi. Hehehe..

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES99 Suaka Paling Nyaman

Empat bulan kurang lima hari sejak anakku boarding, akhirnya aku mulai menemukan pola rutinku sendiri setelah beberapa saat aku seperti orang yang lagi belajar juggling. Apa kata yang tepat ya? Riweuh? Iya, riweuh berujung rudet. Dan baru aku tersadar kalau ternyata selama ini rutinitas yang aku la…

wulan bubuy44
AtomicEssay

AES98 Melihat Sisi Positif

Tulisan ini berawal dari beberapa hari lalu aku dikirimin sebuah video yang bagiku terasa begitu menyayat hati, tentang seorang ayah yang menyuruh anaknya untuk membuang medali dan menyobek lembar sertifikat lomba yang diraihnya. Menurut sumber yang mengirimkan video, perlakuan itu karena sang anak…

wulan bubuy22
AtomicEssay

AES97 Gerbang Kisah

Dua pekan yang lalu, sebelum jadwal penjengukan, akhirnya aku dan anakku bisa berbincang lewat gelombang suara. Lucu juga rasanya, padahal kesempatan seperti ini relatif longgar, tapi tetap saja menjadi sebuah momen yang ditunggu-tunggu. Di akhir pembicaraan, anakku bilang, ‘Bu, inget kan tulisan d…

wulan bubuy42