AES85 Perempuan menjadi pemberi nafkah, kenapa masyarakat nggak suka?

Walau sudah berkembang dari tahun ke tahun, tapi sampai sekarang masih terdapat banyak stigma terhadap perempuan. Salah satunya adalah bahwa semua perempuan itu ingin menjadi pengurus rumah tangga, padahal nyatanya tidak semua perempuan ingin melakukan hal tersebut. Jika ada perempuan yang menikah, pasti ditanyakan “mau jadi ibu rumah tangga atau wanita karir?” lantas mengapa pernyataan tersebut tidak pernah ditanyakan pada laki-laki?
Masyarakat sangat suka menanyakan pilihan hidup perempuan, dan menuntut bahwa perempuan itu harus menjadi pengurus rumah tangga. Seolah-olah perempuan yang menikah auto menjadi ibu rumah tangga. Seandainya masih ingin berkarir, urusan rumah tangga dan anak tidak boleh tinggalkan. Hal ini hanya akan membuat peran perempuan menjadi ganda, sehingga menurut aku agak kurang memanusiakan perempuan. Kenapa kita tidak menggerakan laki-laki untuk ikut serta menjadi pengurus rumah tangga dan pekerja? Kenapa ide laki-laki yang mengurus keperluan rumah tangga seolah-olah menjadi satu hinaan bagi mereka?
Aku juga memperhatikan bahwa masyarakat tidak suka ide perempuan yang memiliki uang, uang yang dimiliki istri pasti diasumsikan hasil kerja suami. Banyak pekerjaan perempuan yang menghasilkan uang direbut oleh laki-laki untuk di kapitalisasi. Sudah terlalu banyak penemuan dan inovasi perempuan yang diambil alih dan diakui oleh laki-laki. Bahkan dulu, perempuan tidak bisa memiliki uangnya sendiri, dulu hanya laki-laki yang bisa membuka tabungan di bank.
Perempuan yang bekerja pun seringkali dianggap hanya untuk bantu suami, seolah-olah perempuan tidak boleh berambisi untuk mengejar karir. Sehingga terjadinya perselisihan gaji antara perempuan, dan laki-laki yang sudah menikah. Anggapannya perempuan nggak usah digaji besar-besar, kan bekerja hanya untuk membantu suami.
Wanita karir juga seringkali dianggap sebagai satu hal yang negatif, dianggap sebagai satu hal yang tidak menarik. Dan disaat perempuan dengan gaya hidup tinggi mencari pasangan yang satu level dengannya, pasti dianggapnya matre.
“What would happen if we encouraged all women to be a little more ambitious? I think the world would change.” — Reese Witherspoon
picture:https://id.pinterest.com/pin/598204763009134679/
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:
AES126 Tanda-Tanda Tanda Tanya
Semalam sebelum aku tertidur aku bertanya “Besok pagi mau sarapan pake telor dadar atau telor ceplok ya?” Lalu, saat bangun tidur aku bertanya “Kira-kira kalau aku dulu milih kampus yang berbeda, hidup aku sekarang kayak gimana ya?” Bahkan saat melangkah masuk metro line B pun muncul pertanyaan “Ap…

AES125 Semuanya Tiba Tiba
Rasanya kehidupan belakangan ini banyak elemen ‘tiba-tiba’ nya deh, dalam beberapa konteks. Walaupun secara garis besar ku masih ngerasa ling-lung menjalani rutinitas baru ku disini; perlahan tapi pasti mulai lebih terbiasa. Sekarang sudah jauh lebih kenal dengan teman-teman, hafal nama gedung dan…

AES124 Lika Liku dan Gebrakan Menjadi MABA
“Sas, gimana kabarnya disana?” Gimana ya kabar aku, aku sendiri yang menjalani bingung gimana cara jawab pertanyaan ini. Seperti orang pada umumnya, reflek pertama adalah “hi, kabar aku baik kok”. Tapi aku jadi bingung, apa bener kabar aku lagi baik-baik aja. Rasanya ada banyak pilihan kata lain ya…
