AES899 Just Like Any Other Day

Mungkin saya bukan orang yang terlalu suka perayaan. Suka kumpul-kumpul, sederhana saja tapi tidak suka hura-hura atau kehebohan tertentu. Jadi sebetulnya saya juga suka bingung, what is all the fuss about New Year? Buat saya tahun baru adalah ya pergantian tahun saja, angkanya bertambah. Sama halnya seperti detik berganti detik, hari berganti hari, angkanya juga berganti.
Jadi kenapa musti countdown, mesti pasang kembang api, mesti bersulang (toast) dan lain sebagainya. Kenapa musti heboh? Kalau soal bersyukur, kita semestinya bersyukur setiap hari, atas setiap kesempatan hidup yang kita dapatkan.
Lagian kalau ditelusuri betul, sejarahnya perayaan Tahun Baru itu seperti mengada-ada. Bahkan ada unsur politisnya - karena kalender romawi itu sekarang kita manfaatkan adalah kalender yang diputuskan oleh kekaisaran Romawi, oleh Julius Caesar - waktu itu. Tapi secara momentum tidak ada yang special, bukan pergantiang musim, pergantian siklus matahari atau bulan dan seterusnya. Jadi ya begitulah, hanya kebiasaan belaka. Perayaan atau hura-hura mungkin iya. Sakral, sepertinya sih tidak - atau setidaknya saya belum menemukan di mana dimensi sakralnya Tahun Baru.
Saya akhirnya berpikir itu hanya gimmick belaka. Kalau hidup setiap hari adalah perayaan, setiap momen adalah sesuatu yang perlu disyukuri dan dirayakan. Batin kita bahagia dan penuh syukur. Begitu saja cukup.
@joefelus sering menuliskan tentang ini. Kita terbiasa membuat New Years Resolutions. Tapi berapa persen sih yang berhasil? Apakah membuat resolusi di tahun baru membuat kemungkinan berhasilnya lebih besar? Sepertinya ngga juga. Seperti halnya waktu kita memutuskan untuk setiap hari menulis satu esai di saat menggulirkan Atomic Essay Smipa di Ririungan, waktu itu kita mulai di bulan Mei. Dan itu berhasil dengan baik juga.
Tapi gapapa sih, ini mah tulisan receh saya aja di awal tahun baru ini. Hanya ingin menulis bahwa bagi saya Januari 1 adalah seperti hari lainnya. Tidak ada bedanya. Kita bisa membuat setiap hari, setiap waktu menjadi waktu yang terus disyukuri, dirayakan - sesederhana kita diperbolehkan mengambil tarikan nafas berikutnya untuk menjalankan hidup kita setarikan nafas, lagi, lagi dan lagi, sampai suatu saat anugerah itu berhenti atas kehendak Sang Pencipta. Salam bahagia untuk semua - setiap waktu.
Photo by Pok Rie: https://www.pexels.com/photo/brown-wooden-dock-on-calm-body-of-water-surrounded-by-silhouette-of-trees-during-sunset-165213/
Komentar (1)
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES963 Oh...
DIksi singkat ini, 'Oh', sedang saya upayakan menjadi diksi yang banyak saya gunakan. Kenapa? Karena diksi ini membantu saya menempatkan segala sesuatu yang terjadi sebagai netral, Kenapa perlu netral? Sejauh ini saya meyakini bahwa menempatkan segala sesuatu secara netral adalah cara ampuh untuk m…

AES961 Shaken To The Core...
Dalam perjalanan kehidupan, dari waktu ke waktu, manusia akan diajak melalui jalan yang gelap, terjal dan menantang. Mendapatkan pengalaman yang mengguncang keyakinan yang telah dibangun sekian lama. Sesuatu yang tidak diduga, tapi ya, hal ini terjadi, tidak dapat dihindari.Bahasa Inggrisnya mungki…

AES960 Berguru pada Garpu
Meminjam tajuk pertunjukkan musik Abah Iwan beberapa waktu lalu di Rongga Budaya, Dusun Bambu, pagi di Ngobras ke 3 TP22 terjadi peristiwa yang gambarnya saya tempatkan di atas ini. Konser Abah Iwan bertajuk Berguru pada Alam, karena ya begitulah apa yang beliau sampaikan / ekspresikan di dalam kon…


