AtomicEssay

AES92 berbagi bahagia

innocentiainepenulis arsip2

Setelah sambil ngobrol ke sana kemari, mengakui diri ini kerap terlalu serius, seorang sahabat mengirimkan sebuah cerita, Tiga Biksu Tertawa (Three Laughing Monks). Mendengarnya membuat diri berpikir bahwa hidup bisa dimaknai berbeda.

Tiga biksu ini sangat terkenal dan seluruh penjuru Cina menyukai mereka. Mereka adalah tiga orang biksu yang hanya melakukan satu hal, tertawa, tertawa dan tertawa dengan kesungguhan hati. Tertawa itu menular. Setelah semakin banyak orang berkumpul dan tertawa bersama, mereka pindah ke desa lain untuk melakukan hal yang sama. Tiga biksu ini tidak mengajar. Yang mereka lakukan hanyalah mencipta suasana penuh tawa, menyebar bahagia tanpa kata-kata, membuat orang menyadari bahwa hidup perlu diisi dengan tawa, doa mereka adalah tawa. Tidak ada hal atau sosok spesifik yang membuat mereka tertawa, tapi seolah ada cosmic joke* yang mereka pahami benar.

Ketika tengah berkeliling, satu dari ketiga biksu itu meninggal dunia. Seluruh penduduk di desa tersebut yakin bahwa kedua biksu lainnya pasti sedih dan akan menangis. Ternyata, sambil berdiri di samping jenasah, mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Para penduduk bertanya, mengapa mereka tidak bersedih. Untuk pertama kalinya mereka berbicara, bahwa mereka tertawa untuk kemenangan biksu yang meninggal. Mereka bertiga selalu bersama sejak lama, menikmati kebersamaan dan kehadiran satu sama lain. Mereka bertiga kerap bertanya-tanya siapa yang akan pergi lebih dahulu. Ternyata ia yang menang karena bisa pergi lebih dulu. Dan cara terbaik untuk mengiringi kepergiannya adalah dengan tawa, dengan berbahagia.

Para penduduk yang berduka ingin memandikan jenasah dan menggantikan bajunya. Namun kedua biksu mengatakan bahwa mereka perlu menghargaii pesan terakhir sang biksu sebelum meninggal. Pesannya adalah untuk tidak memandikan dan tidak mengganti pakaiannya, karena selalu tertawa telah membuatnya tetap segar dan bersih tanpa noda. Ketika jenazah diletakkan di api pembakaran, barulah semua orang menyadari bahwa ternyata ia menyimpan kembang api di bawah bajunya. Kembang api mulai meletup warna-warni indah, semua penduduk bersorak dan tawa mulai mengganti kesedihan. Bahkan di saat kepergiannya dari dunia, ia masih menciptakan suasana penuh tawa.

*) There is a Cosmic Laughter which comes into being when the whole joke of this Cosmos is understood. That is of the highest. And only a Buddha can laugh like that. These three monks must have been three Buddhas. But if you can laugh the second type of laughter, that is also worth trying. Avoid the first. Don’t laugh at anyone’s expense. That is ugly and violent. If you want to laugh, then laugh at yourself. medium.com/@ankurlemarc

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES35 sprinkle simple pleasures

Beberapa tahun silam, membaca tulisanLeo Babauta, pada websitenya; Zen Habits, tentang finding simplicity in the daily chaos of our lives. Terutama karena di rumah saja, tampak permukaan hari demi hari seolah berjalan baik. Mungkin karena chaos lebih pada rasa di hati dan kepala. Membuat struktur a…

innocentiaine84
AtomicEssay

AES 956 Jangan Mencari Kebahagiaan

Bukan hal yang aneh bahwa setiap orang mencari kebahagiaan. Kalau kita perhatikan, banyak orang yang kalap dalam usaha mereka mencari kebahagiaan. Lihat saja media sosial, coba perhatikan apa yang mayoritas dapat kita saksikan di sana? Di awal saya katakan setiap orang, termasuk saya dan anda. Seti…

joefelus10
AtomicEssay

AES 650 Lagi, Tentang Kebahagiaan

Seorang psikolog benama Sonja Lyubomirsky pernah berkata bahwa 50 persen kebahagiaan manusia sebetulnya sudah ditentukan secara genetik. Atau istilah dia adalah genetically predetermined. Maksudnya tanpa kita berbuat apa-apa sebetulnya sudah menjadi default bahwa setengah dari kita sudah bahagia. S…

joefelus40