AES93 Siapa Yang Berikutnya?

Kemarin siang, menuju sore tepatnya, biidznillah aku bisa sampai di sekolah lebih cepat usai drama di pagi hari yang teralami dengan penuh suka cita. Dan karena jauh diawal waktu penjemputan, setelah meminta izin aku dan beberapa orangtua mengikuti sesi debat paslon Ketua dan Wakil Ketua OSIS periode mendatang.
Kesempatan ini adalah kali kedua aku mengikutinya. Seru dan terasa menegangkan, padahal bukan aku yang berdiri di depan panelis. Hm, tapi mungkin saja teman-teman yang menjadi paslon malah tidak merasakan kegugupan itu. Kurasa mereka telah berusaha dengan begitu optimal mempersiapkan hari tersebut. Terlepas hasilnya yang akan diperoleh pada pekan depan, aku tetap merasa kerja keras mereka tidaklah sia-sia. Selalu ada ide yang membuatku merasa kagum pada mereka, terlebih saat menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan baik oleh panelis maupun oleh paslon lainnya terkait program kerja yang mereka canangkan.
Dimataku, mereka yang terpilih ataupun tidak, tetaplah sama-sama punya peranan besar dalam menjalankan sistem ke-organisasi-an. Pada akhir sesi tanya jawab dengan panelis, kak Robert sempat menyatakan bahwa leader bukanlah leader kalau gak ada follower-nya. Aku yang duduk di belakang, langsung terduduk tegak. Bagiku ini bukan hanya sekedar kata-kata. Jika saja setiap individu merasa bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri, ia akan sangat bisa menjalankan apapun peran yang diberikan kepadanya. Tentu bersamaan dengan itu, tidak ada orang yang merasa "Saya si paling ini dan itu", sekalipun ia adalah orang yang dipercaya sebagai pemegang "Jabatan" atau merasa paling berat pekerjaannya karena yang lain hanya tertulis sedangkan keberadaannya ghoib. hehehe...
Oh, ada satu pertanyaan yang membuatku cukup tergelitik, tentang bagaimana menjaga antusiasme. Hal ini membuatku langsung teringat pada nasihat guru-ku tentang pentingnya menjaga semangat agar tidak kendor saat menjadi seorang pembelajar. Meski ini bukan poin pertama, karena yang pertama tentu saja ditempati oleh seberapa besar niat seseorang dalam meraih kebermanfaatan, akan tetapi poin ini menjadi penting dalam menjaga langgengnya sebuah niat, yakni bersifat pertengahan. Maksudnya, ia tidak terlalu berlebihan (ekstrim) dalam menjalankan perannya. Sebab, sesuatu yang konsisten butuh durasi panjang, maka aku membenarkan bahwa pekerjaan yang paling dicintai itu adalah yang dilakukan terus menerus walaupun sedikit demi sedikit. Bukan pekerjaan yang tetiba bikin kaget, duarr! tetapi kemudian menciut bahkan hilang tergerus oleh putaran waktu.
Selamat berproses teman-teman pengurus OSIS periode terbaru (ini harusnya diucapin pas sertijab ya? hihi.. tapi gapapalah, ya.. sedikit mendahului). Jaga terus semangatnya, lakukan dengan penuh cinta dan semoga lingkup OSIS ini menjadi tempat belajar yang menyenangkan.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES99 Suaka Paling Nyaman
Empat bulan kurang lima hari sejak anakku boarding, akhirnya aku mulai menemukan pola rutinku sendiri setelah beberapa saat aku seperti orang yang lagi belajar juggling. Apa kata yang tepat ya? Riweuh? Iya, riweuh berujung rudet. Dan baru aku tersadar kalau ternyata selama ini rutinitas yang aku la…

AES98 Melihat Sisi Positif
Tulisan ini berawal dari beberapa hari lalu aku dikirimin sebuah video yang bagiku terasa begitu menyayat hati, tentang seorang ayah yang menyuruh anaknya untuk membuang medali dan menyobek lembar sertifikat lomba yang diraihnya. Menurut sumber yang mengirimkan video, perlakuan itu karena sang anak…

AES97 Gerbang Kisah
Dua pekan yang lalu, sebelum jadwal penjengukan, akhirnya aku dan anakku bisa berbincang lewat gelombang suara. Lucu juga rasanya, padahal kesempatan seperti ini relatif longgar, tapi tetap saja menjadi sebuah momen yang ditunggu-tunggu. Di akhir pembicaraan, anakku bilang, ‘Bu, inget kan tulisan d…