AES93 SMIPA Salah Satunya

Salah satu ujian sebagai Kakak Smipa yang saya rasakan akhir-akhir ini ialah rendah hati. Mungkin semua Kakak, fasilitator, atau guru, bahkan semua orang memang seyogyanya memiliki dan menerapkan sifat ini. Rendah hati. Bukan sekadar untuk berani mengakui kekeliruan alih-alih menyalahkan jawaban karena artikulasi atau pengeras suara seperti dalam sebuah lomba yang sempat viral di media sosial, tetapi juga untuk tidak segera "merasa paling". Terlebih ketika melihat di luar sana, sekarang terdapat banyak sekali konten pendidikan yang dibuat oleh seorang guru, murid, psikolog, penulis buku anak, aktivis pendidikan, dan berbagai elemen lain.
Semisal siang ini, tetiba algoritma youtube membawa saya kepada sebuah podcast yang di dalamnya ada Raditya Dika, Abdur, dan Mba Ela atau Najelaa Shihab (pendiri CIKAL). Di dalam percakapannya, banyak terlontar nilai, konsep, hingga praktek-praktek dan cerita tentang "ideal"nya pendidikan, yang mana itu juga sudah berjalan dan bahkan menjadi hal keseharian di Smipa. Begitu pula pada konten-konten di media sosial lainnya, di instagram, facebook, youtube short, bahkan tik-tok, yang juga membagikan cerita-cerita serupa. Sementara di Smipa, kita tidak bisa atau jarang menjadikannya konten di media sosial. Sehingga banyak yang menganggap atau bahkan tidak tahu, "di Smipa tuh anak-anaknya ngapain aja."
Nah, di sini poinnya. Kita, atau saya sebagai Kakak Smipa perlu rendah hati, ketika cukup sering juga cerita atau (konten) serupa bukan datang dari media sosial, tetapi dari teman sendiri. Rendah hati untuk tidak segera menjawab, "Ah, kalau itu mah di Smipa juga ada, hal biasa, sudah sering!" Meski memang banyak yang sudah dilakukan, diterapkan, atau memiliki kesamaan prinsip dan nilainya. Mari renungkan dan mencoba untuk lebih terbuka, bahwa Smipa itu "SALAH SATUnya", bukan SATU-SATUnya. Juga bahwa seringkali konten pendidikan serupa bisa menjadi referensi atau bahan refleksi. Sudahkah kita menjalankan itu dengan prinsip atau nilai-nilai yang jernih, holistik, dan untuk sebesar-besar kepentingan anak? Sebab, mengutip mba Ela, "Pendidikan itu manusianya."
Tautan podcast: https://youtu.be/hN-V0YYDSak?si=NgRRr7d5ZBdog0QQ
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 102 Berbagi Jalan
MengALAMI kembali pengALAMAN intens bersepeda di jalanan Bandung sebulan ini, gagasan utopisku tetiba muncul. Bahwa mungkin dengan naiknya tren bersepeda serta konsistennya kami, BaikSirkel dalam mengisi ruas-ruas jalanan kota dengan sepeda, akan TURUT MEMELANKAN RITME KOTA YANG RASANYA SEMAKIN TER…

AES 101 Kembali ke Akar?
Frasa "Kembali ke Akar" akan selalu menjadi pertanyaan yang menarik untuk diuji dan dicerna di lambung pikir dan rasa. Pada sebuah hari yang santai, karena memang begitu hari-hariku kini, tetiba panggilan suara berkunjung ke gawaiku atas nama Bayu Mango. Dari balik telepon itu tertangkap sehelai pe…

AES 100 Sampai
Sampailah kita pada saat yang berbahagia, dengan selamat sentosa, mengantarkan Kawan Marwas ke depan pintu gerbang petualangan dan jenjang baru, kelas 4. Tak lupa juga jenjang lain yang pernah bertualang bersama dan berbagi kegembiraan. Bersamaan dengan ini, berakhir pula masa bakti saya sebagai te…