AtomicEssay

AES95 "Kok, bisa sih orang-orang keren!" MEMASAK HARAPAN

matheusaribowopenulis arsip2

"Kok, bisa sih orang-orang keren!" di bawah langit senja yang merayap dan langit mengubur sisa cahayanya, sebuah kalimat bersinar begitu saja. Tiba-tiba. Menyilaukan, mengetuk kesadaran secara tergesa-gesa. Alih-alih masuk dengan perlahan, selembut asam dan pahitnya kopi yang diseduh manual dengan alat v60 buatan Jepang. Kalimat ini datang bukan sebagai tanya, maka kuletakkan tanda seru di belakangnya. Coba kita baca sekali lagi! Tidakkah kau temukan seruan di sana, daripada sebuah tanya? 

Jadi begini, kalimat "perintah" itu datang (kusebut "perintah" karena diakhiri tanda seru), setelah kami bergantian membaca buku terbaru Post Editions. Menyandang judul yang terasa utopis di kala carut marut pengelolaan negara tengah membobardir pikiran, hati, dan perut "anak-anak" dan kita. MEMASAK HARAPAN. Bahkan setelah kutulis judulnya, bayangan langsung lahir dari resah yang menjadi dinding penahan bagi datangnya cahaya. Buku ini kembali mengangkat cerita-cerita usang, tak tersentuh, dan yang gersang dari lautan berita di media arus utama. Ialah sebuah majalah terbitan Gerwani di akhir 1950-an, Api Kartini. Serupa namanya, berisi cerita-cerita tentang perempuan, perlawanan, dan bagaimana mereka (nenek-nenek revolusioner kita) meletakkan bentuk-bentuk perlawanan ke dalam wajan intelektualitas, meramu resep topik-topik keseharian (pemikiran feminis, dan dekolonial, cara merawat diri dan orang lain, dan bangsa, karya perempuan di berbagai bidang, cara melihat keseharian secara politis khas perempuan di dapur), dan memanaskannya dengan rasa cinta terhadap bangsa dan kehidupan.

Oleh karenanya, kami dengan segera sepakat, bahwa, "Kok, bisa sih orang-orang keren!" ialah mereka. Mereka, nenek-nenek revolusioner kita. Adalah juga mereka, yang meramu ulang masakan (buku) ini dan menyajikannya ke meja-meja makan yang mestinya "lebih merdeka". Dari sini, lahirlah pertanyaan. Pertanyaan. Sebuah pertanyaan. "Jadi, mereka keren tuh, karena keleluasaan atau justru karena tekanan?" 

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES 102 Berbagi Jalan

MengALAMI kembali pengALAMAN intens bersepeda di jalanan Bandung sebulan ini, gagasan utopisku tetiba muncul. Bahwa mungkin dengan naiknya tren bersepeda serta konsistennya kami, BaikSirkel dalam mengisi ruas-ruas jalanan kota dengan sepeda, akan TURUT MEMELANKAN RITME KOTA YANG RASANYA SEMAKIN TER…

matheusaribowo22
AtomicEssay

AES 101 Kembali ke Akar?

Frasa "Kembali ke Akar" akan selalu menjadi pertanyaan yang menarik untuk diuji dan dicerna di lambung pikir dan rasa. Pada sebuah hari yang santai, karena memang begitu hari-hariku kini, tetiba panggilan suara berkunjung ke gawaiku atas nama Bayu Mango. Dari balik telepon itu tertangkap sehelai pe…

matheusaribowo30
AtomicEssay

AES 100 Sampai

Sampailah kita pada saat yang berbahagia, dengan selamat sentosa, mengantarkan Kawan Marwas ke depan pintu gerbang petualangan dan jenjang baru, kelas 4. Tak lupa juga jenjang lain yang pernah bertualang bersama dan berbagi kegembiraan. Bersamaan dengan ini, berakhir pula masa bakti saya sebagai te…

matheusaribowo22