AES001 - Belajar menulis (tidak) terstruktur
angga50Dulu saya suka menulis secara tidak terstruktur. Di masa-masa blogspot dan wordpress masih menjadi sesuatu. Di buku harian yang hanya setengah terisi. Di ruang-ruang maya yang jadi milik bersama. Ini semua, di luar keseharian saya yang juga menuntut tulisan-tulisan yang terstruktur, sebagai seorang akademisi.
Saya ingat bahwa dulu, tidak ada aturan yang sebegitunya mengekang saya untuk menulis. Sebagai anak muda yang galau, memuntahkan apapun yang ada di kepala sudah jadi hal yang biasa. Lalu, aturan-aturan mulai datang. Saya belajar di bangku kuliah bahwa menulis itu harus memiliki subjek dan predikat yang jelas, harus ada pikiran pokok, harus ada koherensi antar paragraf, dan lain-lain. Itu juga yang saya ajarkan ke mahasiswa saya. Dan di banyak kasus, hal ini baik. Di dalam menulis ilmiah, struktur tulisan menjadi kunci untuk mengomunikasikan argumen dan gagasan kita ke komunitas ilmiah yang ada. Itu pun, caranya beragam. Ada komunitas ilmiah yang mengharapkan kita menulis dengan bahasa pasif ("bahan ini dilarutkan ke dalam larutan asam..."), sementara sebaliknya, ada yang ingin bahasanya aktif ("kami menemukan bahwa 70% populasi..."). Tapi secara umum, struktur tulisan biasanya sama -- jelaskan latar belakangnya, tampilkan argumen, dukung dengan bukti, tarik kesimpulan.
Sekalipun ini baik, sedikit banyak ini juga menjadi hambatan mental bagi saya untuk bisa menulis lebih bebas. Di dalam benak saya, kalau argumen belum kuat, atau bukti ilmiah belum siap, berarti belum waktunya tulisan dibuat. Dan menulis dengan cara-cara lain menjadi pantangan. Padahal..
Padahal, saya juga terus mengingatkan diri sendiri bahwa menulis itu lebih dari sekedar menyampaikan ide ke orang lain. Ia juga adalah cara untuk menstrukturkan cara kita berpikir. Kita tidak hanya berpikir untuk menulis. Kita juga menulis untuk berpikir. Seberapa sering di antara kita yang, ketika kita mulai menulis, tiba-tiba ide dan gagasan terbangun dengan sendirinya? Bahkan ada satu penulis novel besar yang berimajinasi tentang dunia yang sangat kompleks pernah bilang kalau dunia itu secara ajaib terbuka (unfolding) seiring dengan tulisannya yang berkembang.
Tapi yang juga sering saya lupakan adalah, bahwa menulis seharusnya juga jadi cara untuk mengekspresikan diri. Tulisan adalah kepingan diri kita. Ia punya gaya, karakter, dan warna yang khas. Ia tidak hanya menorehkan gagasan dan logika, tapi juga perasaan. Ia bisa mencerminkan kesedihan dan kebahagiaan, amarah dan kekesalan, atau impian dan harapan. Di sini, tidak ada yang benar dan salah dalam tulisan. Yang membatasi hanya diri dan nilai-nilai yang melekat padanya.
Semoga ini jadi titik awal untuk belajar menulis lagi, tanpa struktur, tanpa aturan -- biarkan jari ini menari!
Komentar (5)
Aku saja pak e, bapakek sudah terjebak struktur. 😅😁
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 005 - Melambat untuk Selamat
Tulisan ini tidak bercerita tentang tertib berkendaraan, atau juga soal makan saat lapar, meskipun itu juga sama-sama relevan dengan adagium 'alon-alon asal kelakon'. Yang mau saya bicarakan adalah tentang pertumbuhan ekonomi. Di tengah masyarakat yang senantiasa dipacu oleh waktu dan kata sakti 'p…
angga00
AES 04 - Sejarah tidak (harus) linier
The Dawn of Everything: A New History of Humanity karya David Graeber dan David Wengrow mungkin adalah salah satu buku populer non-fiksi paling tebal yang saya pernah temui. Sepertinya ini lebih tebal daripada buku Guns, Germs, and Steel-nya Jared Diamond, meskipun ada kesamaan antara dua buku ini:…
angga00
AES 003 - Barter yuuuk....
Pada zaman dahulu kala, sekitar tahun 2020, Covid-19 melanda. Ekonomi ambruk, saat perputaran uang melambat. Di berbagai belahan dunia, komunitas-komunitas lokal berusaha menghidupkan kembali hubungan antarsesama, sekaligus geliat ekonomi, lewat aktivitas Barter. Di Amerika Latin (Mexico, Kolombia,…
angga30
