Membaca Puisi-Membaca Diri

Kelompok Sampiung sedang memasuki olahan materi puisi pada bidang studi Bahasa Indonesia. Oleh karenanya, saat itu saya membawa beberapa buku antologi puisi dari berbagai penyair yang saya punya. Sehabis olahan kelas usai, saya tinggal berdua saja dengan Kak Marta di Ruang Tengah. Dengan iseng, saya mencoba untuk melakukan eksperimen kepada Kak Marta.
"Kak, tahu enggak? Sebenernya bukan kita yang mencari puisi, tapi sebaliknya, puisi yang akan menemukan pembacanya!" saya memulai percakapan.
Mendengar itu, tanpa berkata-kata, Kak Marta hanya membalas dengan senyum curiga.
"Nah, sekarang Kak Marta coba pilih buku-buku puisi ini secara random, lalu buka halamannya secara random juga. Puisi pada halaman itu berarti berjodoh dengan Kak Marta saat ini." saya melanjutkan modus operandi.
Tanpa banyak protes, Kak Marta pun mengikuti arahan saya untuk masuk dalam jebakan.
Secara kebetulan, Kak Marta memilih buku puisi karya Avianti Armand. Ketika membaca larik-larik awalnya, Kak Marta langsung tertawa terbahak. Larik tersebut sepertinya tidak perlu dijelaskan lebih lanjut dalam tulisan ini.
Esoknya, Kak Marta yang masih kesal dengan keisengan saya mencoba untuk menjebak Kak Laras dengan eksperimen yang saya lakukan kemarin. Kak Marta meminta Kak Laras untuk memilih puisi secara random dan membuka bukunya dengan random. Saat itu, Kak Laras memilih buku Di Atas Umbria karya Acep Zamzam Noor, tepatnya puisi berjudul Pernyataan Cinta.
Kak Ome, yang juga ada di sana, merebut buku puisi pilihan Kak Laras untuk membacakannya dengan lantang. Selanjutnya, kami lekat-lekat menyimak isi puisi tersebut. Pada satu bagian puisi, terdapat larik: /Aku mencintaimu/Dengan lambung yang perih/. Kami pun tertawa miris mendengar larik tersebut.
Setelah Kak Ome usai membacakan puisi, Kak Laras coba bercerita tentang pengalamannya yang berkaitan puisi tersebut. Usut punya usut, Kak Laras ternyata memiliki kisah tentang pengorbanan sang kekasih demi dirinya, pengorbanan yang membuat lambung sang kekasih benar-benar perih.
"Wah, berarti bener, tuh, tentang 'aku mencintaimu dengan lambung yang perih'." saya mencoba cocoklogi demi mempertahankan eksperimen iseng ini.
***
Eksperimen iseng yang saya lakukan, sebenarnya bermula dari anggapan bahwa membaca adalah kegiatan aktif, alih-alih hanya penerimaan yang sifatnya pasif. Dalam hal ini, ketika membaca puisi, apa yang kita lakukan adalah mengingat ulang berbagai kenangan yang kita miliki. Kita mungkin disuguhi dengan suasana, peristiwa, aforisme, dan lain sebagainya dalam puisi, akan tetapi yang sebenarnya kita bayangkan adalah segala kenangan yang sudah ada di kepala kita lebih dulu.
Dengan kata lain, pada saat membaca puisi, terjadi negosiasi antara kata-kata puisi dengan kenangan-kenangan kita, sehingga kita dapat menemukan bagian-bagian yang relevan bagi diri kita. Pikir saya, urutan yang terjadi ketika membaca puisi adalah: pertama, mendapatkan konteks yang dihadirkan dalam puisi; kedua, menginterpretasi lebih dalam puisi tersebut dengan segala pengetahuan dan kenangan yang kita punya; ketiga, menikmati dengan cara berempati kepada puisi. Yah, meskipun ini cuma teori karangan saya saja.
Maka begitulah, ketika sedang membaca puisi, kita sebenarnya sedang membaca diri kita sendiri. Mirip seperti cerita sebelumnya, Kak Marta dan Kak Laras sebenarnya bukan hanya membaca puisi yang dipilih secara random, melainkan mereka juga secara teliti sedang membaca diri mereka sendiri.
2025
*Disclaimer: Kesamaan nama dalam tulisan ini hanyalah kebetulan semata.
Komentar (2)
Teorinya tidak valid, karena puisi yang aku baca gak relate
Perlu sering diulang kak Ome... Sepertinya ini kebetulan.... kebetulan tidak valid...
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

Terima dan Kasih
Dua tahun barangkali bukanlah waktu yang panjang, sekaligus bukanlah waktu yang sebentar. Dua tahun ini saya merasa penuh dengan berbagai perasaan, sampai-sampai saya tak lagi sempat untuk benar-benar memahaminya satu demi satu. Meski ada momen-momen saya diliputi kecemasan, kegagalan, kekalahan, a…

Dingin Pagi, Bubuk Kopi, Menjadi Manusia, sampai Alegori Sisyphus
_ Pagi itu, sambil menunggu bubuk kopi pelan-pelan tenggelam, saya menggenggam rapat badan gelas yang masih panas dengan kedua tangan untuk menghadapi semilir angin pagi yang sebentar-sebentar lewat. Pada hari terakhir perencanaan pembelajaran semester, Kak Andy menampilkan sebuah pertanyaan di seb…

Dua Puisi Selametan TP-21
Mekarlah, Mekar bersama-sama, kita menghadap sama rendah dengan penuh kerendahan sukma, berlindung di bawah mendung yang masih canggung. pada satu lembah, pada satu lembar hari yang berulang, kita coba menerka, apa arti pulang, jika kita tak lagi bisa memaknai hangat rumah yang membesarkan kita. se…

