Relasi Kuasa-Relasi Pertemanan

_
"Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya akan terjatuh juga.
Sepandai-pandainya S.Pd. mengelak, akhirnya akan mengajar juga."
_
Satu tahun penuh, akhirnya saya menuntaskan peran sebagai "fasilitator" di Kelas 7 SMP Semi Palar, tepatnya Kelompok Sampiung. Istilah "fasilitator" ini sering bertukar-campur dengan istilah lain, misalnya "guru", "pendidik", "pengajar", dan/atau lainnya. Dari semua sebutan itu, "guru" adalah predikat yang paling saya segani dan coba sangkal ketika ada seseorang yang menyebut demikian. Memang, terkadang istilah cuma dianggap sebagai istilah. Dengan kata lain, beberapa orang menganggap, "apa bedanya?" Betul, saya merencanakan olahan pembelajaran, berangkat pagi, hadir di kelas, memberikan materi, membuat soal, memeriksa reviu, dan seterusnya, dan seterusnya. Terlebih, kebetulan saya menyandang gelar S.Pd. dari pendidikan tinggi yang telah saya tempuh. Jadi, apa bedanya?
Mungkin secara ideal dan sederhananya, fasilitator punya peran memberikan fasilitas untuk menghadirkan ruang pembelajaran bersama. Namun, akhirnya fasilitator punya peran yang mirip seperti "guru" pada umumnya. Oleh sebab itu, ada beberapa hal kecil yang coba saya lakukan ketika menghadirkan diri di sekolah. Sehingga, beban predikat yang teremban agak terasa ringan bagi saya.
Mau-tidak mau, suka-tidak suka, hadir relasi kuasa ketika saya berinteraksi dengan teman-teman di tengah kelas. Relasi kuasa tersebut hadir berdasarkan perbedaan usia, pengalaman hidup, gelar pendidikan, dan seterusnya. Sehingga, sadar atau tidak sadar, terkadang hadir perasaan siapa yang lebih superior dan siapa yang lebih inferior antara saya dengan teman-teman.
Ketika saya mengiyakan predikat sebagai "guru", saya mungkin santai-santai saja untuk mempertegas relasi kuasa tersebut. Namun, ketika menjadi "fasilitator", saya berupaya untuk menipiskan relasi kuasa tersebut, sekalipun tidak akan benar-benar terhapus. Maka dari itu, saya coba menganggap teman-teman sebagaimana panggilan tersebut, yakni tetap menjadi "teman". Dengan kata lain relasi kuasa tersebut perlu dibalut-dikemas dalam relasi pertemanan. Meskipun, ketika saya berteman perlu batasan tertentu, sehingga saya bisa menjadi "teman" yang baik bagi teman-teman yang lain. Di sini saya sadar bahwa saya belumlah pantas untuk disebut sebagai "teman" baik dan baik-baik saja. Saya masih perlu belajar banyak untuk menjadi teman yang baik, salah satunya dari teman-teman di kelas.
Pada saat bersamaan, semua teman di kelas sudah seharusnya punya peran sebagai subjek, alih-alih sekadar objek. Sebagaimana subjek, setiap teman punya hak untuk berpikir-memilih-bergerak secara aktif atas kehendaknya sendiri, bukan hanya diarahkan secara pasif. Maka, setiap teman punya peran yang setara untuk bisa berkembang bersama. Mungkin semua hal ini terkesan sederhana, tapi sekali lagi, praktiknya tidak sesederhana itu.
Sependek pengalaman saya berperan sebagai "fasilitator", saya terus diingatkan akan situasi dari relasi pertemanan ini. Pernah pada satu ketika, teman-teman Sampiung berencana untuk tampil di hajat Musik Sore. Awalnya saya memberi saran akan referensi lagu yang akan ditampilkan oleh teman-teman, lagu yang menurut saya keren, tepatnya lagu Hidup Itu Pendek, Seni Itu Panjang dari Indie Art Wedding. Namun, karena perbedaan selera, teman-teman tidak setuju dengan lagu pilihan saya, mereka memilih lagu yang justru kurang saya suka, yakni Rumah ke Rumah dari Hindia. pada momen tersebut, saya perlu sadar bahwa saya bukan penentu di sini. Selanjutnya, saya pun perlu aktif mengelaborasi lagu tersebut bersama teman-teman agar penampilan dan lagu yang dipilih dapat berselaras. Maka, tidak ada lagi pikiran di kepala saya, "itu lagu pilihan mereka", melainkan "ini lagu pilihan kita bersama".
Setahun penuh, peran saya dan Kak Marta sebagai fasilitator di Kelompok Sampiung pun dicukupkan. Saya akhirnya harus berpisah dengan teman-teman Kelompok Sampiung, meski belum tahu akan ditempatkan di kelompok mana untuk tahun berikutnya. Saya cuma berharap dapat meninggalkan kesan yang baik dalam perpisahan ini. Sepertihalnya lirik lagu Hindia berikut:
_
"Pindah berkala rumah ke rumah
Berharap bisa berujung indah
Walau akhirnya harus berpisah
Trima kasih karna ku tak mudah".
_
Ciao! See you when i see you, Sampiung!
Komentar (10)
Ciao! Grazie untuk satu tahun ini kaakk!!
Muchísimas gracias
Teramati, terlalu banyak konjungsi "sehingga". #FR-OK-Gas-OK-Gas 250621 #KangenRapotan
Masih kerasa adrenaline rush-nya. OTW isi Trello dulu
Sungguh jleb. Bahkan kalau dipikir pikir, relasi kuasa kita pun terkadang menunjukkan superioritas ya dim. Hahaha
Betul, Ka Anna. Natural, tapi perlu dikelola. Heuheu.
Terimakasih Ka Adhimas, sudah memberikan warna dalam memfasilitasi teman2 Sampiung berproses. Bacaan yang mengingatkan kami juga sebagai orang tua, dalam memfasilitasi remaja-remaja Sampiung bertumbuh
Terima kasih kembali, Bu Nat, warna yang paling bersinar tentu muncul dari teman-teman. :)
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

Terima dan Kasih
Dua tahun barangkali bukanlah waktu yang panjang, sekaligus bukanlah waktu yang sebentar. Dua tahun ini saya merasa penuh dengan berbagai perasaan, sampai-sampai saya tak lagi sempat untuk benar-benar memahaminya satu demi satu. Meski ada momen-momen saya diliputi kecemasan, kegagalan, kekalahan, a…

Dingin Pagi, Bubuk Kopi, Menjadi Manusia, sampai Alegori Sisyphus
_ Pagi itu, sambil menunggu bubuk kopi pelan-pelan tenggelam, saya menggenggam rapat badan gelas yang masih panas dengan kedua tangan untuk menghadapi semilir angin pagi yang sebentar-sebentar lewat. Pada hari terakhir perencanaan pembelajaran semester, Kak Andy menampilkan sebuah pertanyaan di seb…

Dua Puisi Selametan TP-21
Mekarlah, Mekar bersama-sama, kita menghadap sama rendah dengan penuh kerendahan sukma, berlindung di bawah mendung yang masih canggung. pada satu lembah, pada satu lembar hari yang berulang, kita coba menerka, apa arti pulang, jika kita tak lagi bisa memaknai hangat rumah yang membesarkan kita. se…



