099 BELAJAR

Learning for the sake of learning is the problem on learning. Some people say that learning is for the sake of life. Some other say that live is for the sake of learning. Which one is right? In my opinion, it is up to our preference which one on the right and which one the left. Just arrange it as you wish, because both are true.
Kemungkinan besar inilah yang dibilang atau dimaksudkan oleh pelajar dengan kata malas. Untuk apa belajar kalau belajar itu demi belajar itu sendiri, seperti ini mungkin yang mereka rasakan secara sadar atau tidak sadar. Apalagi yang sudah mulai masuk ke dalam fase menyadari kehidupan, biasanya remaja karena persoalan eksistensi sedang puncak puncaknya. Ketidakmampuan menguraikan jawaban dari pertanyaan itulah yang sering memicu emosi, baik yang meledak ataupun yang mengendap.
Bentuk dari yang meledak biasanya mempertanyakan sambil menolak jawaban kemudian mencari jawaban dengan cara mempertanyakan sambil menolak jawaban. Pada akhirnya mempertanyakan sikap mempertanyakannya itu. Lalu diam.
Bentuk dari yang mengendap biasanya mengabaikan ajakan sambil menolak keterlibatan kemudian meminta diajak dengan cara ikut-ikutan sambil mengabaikan ajakan terlibat lebih dalam. Pada akhirnya muak dengan dirinya sendiri dan malah sebal kepada orang lain. Lalu diam.
"Belajar untuk hidup atau hidup untuk belajar?" Adalah pertanyaan absurd yang hadir dengan dasar abai dan bebal. Karena hidup dan belajar adalah hal yang satu, tidak untuk di-atau-kan justru perlu di-dan-kan. Belajar untuk hidup dan hidup untuk belajar.
Tarik lebih dekat lagi, temukan simpul kedua hal yang sebenarnya satu ini. Terlihatlah, ruang-waktu. Belajar dan hidup ternyata hanyalah respon diri terhadap ruang-waktu dimana kita ada, ber-ada, dan meng-ada. Tidak bisa tidak belajar, kalau hidup. Tidak bisa tidak hidup, kalau belajar.
Jadi, kalau ada rasa malas, kalau ada rasa hampa, kalau ada rasa terpaksa, pura-pura, tidak antusias lalu menghindar. Bahkan manja pengen disuapin materi pelajaran padahal dia yang membutuhkan. Bisa jadi ruang-waktunya bukan di situ. Solusinya, pindah lah ke ruang-waktu yang lebih mengancam eksistensi dirinya. Karena kalau gak kepepet, gakkan ada motivasi belajar/hidup.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 514 Apa Yang Perlu Saya Lakukan?
Adalah pertanyaan yang lagi sering saya dengarkan berseliweran di udara, ini dapat jadi salah satu indikator ketakutan . Takut salah, misalnya. Bahkan dengan kemampuan sebesar apapun dan keterampilan semahir apapun, akan batal oleh ketakutan berbuat salah ini. Mirisnya, salah yang terjadi pun bisa…

AES513 Saksang Kapau, Kairos!
Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat
Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

