AtomicEssay

121 tulis tangan

innocentiainepenulis arsip2

Hari ini ingin bercerita tentang seorang bunda yang biasa kami panggil Moes. Moes sudah meninggal di awal tahun 2021 lalu, di usia 88 tahun. Aku baru mengenalnya di usianya yang sudah lewat 70an. Tubuhnya mungil, tapi hatinya sungguh besar. Wajahnya lembut dengan senyum penuh kasih, masih memberi bayangan cantiknya Moes ketika muda. Hari-harinya penuh doa, terutama bagi kedua putra dan keluarga mereka yang sangat ia kasihi, juga untuk semua orang yang ada dalam hidupnya. Kalaupun tidak jadi orang pertama, ia tidak pernah lupa untuk mengirimkan ucapan selamat dan doa pada hari ulang tahun dan hari istimewa lain, semua orang yang dikenalnya. Di berbagai kesempatan ia mengupayakan diri untuk menengok dan berdoa bagi mereka yang sakit, atau meninggal.

Putranya pernah bercerita tentang kebiasaan Moes yang ia lakukan bahkan sampai beberapa hari sebelum meninggalnya, yaitu kebiasaan menulis. Tentunya dengan tangan. Tulisan tangannya sangat rapi, huruf sambung hasil didikan sekolah Belanda. Sementara kualitas dan kemampuan tulisan tangan generasi sekarang semakin menurun, tulisan tangan Moes  bertahan berpuluh tahun. Baru setelah Moes meninggal, putranya membuka buku-buku harian Moes yang ternyata sangat banyak. Setiap hari ada saja yang Moes tuliskan. Utamanya tentang doa, kutipan kitab suci, atau kotbah misa yang ia ikuti, romo yang membawakan, orang yang dijumpai ketika ke gereja, kegiatannya hari itu, orang yang hadir atau menelponnya, ulang tahun orang-orang di sekitarnya, daftar belaja atau barang yang perlu dibeli, dan banyak lagi. Tak heran, pikirannya terus terasah. Hal ini terasa ketika bercakap dengan Moes.

Sepertinya kebiasaan menulis sudah ia lakukan sejak muda. Tidak hanya pada buku hariannya, banyak sekali kertas bekas yang ia kumpulkan untuk persediaan media menulisnya, bahkan resi belanja. Melihat kembali tulisan-tulisan Moes sungguh menghadirkan kenangan atas dirinya. Hal-hal yang penting bagi dirinya, perjalanan hidup dan kesehariannya.. Kenangan indah yang dapat diberikan seorang ibu pada anak cucunya. Semoga tenang dan damai di rumah Bapa, menjadi pendoa bagi anak cucu dan semua orang yang menyayangimu.

Photo by Pixabay: https://www.pexels.com/photo/antique-book-close-up-handwriting-235976/

Komentar (2)

joefelus

Wah kak Ine, saya jadi kangen mendiang ibu. Ibu saya begitu juga, tulisannya sangat rapih, huruf sambung dan miring. Saya harus cari lagi surat-surat beliau, buku resep dan catatan lainnya untuk di digitized biar abadi. Terima kasih sudah berbagi :)

innocentiaine

Sama ya pak betul pak, diabadikan, jadi kenangan yang bisa lebih bercerita..

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES180

Sudah cukup lama tidak mengunjungi akun Ivan Lanin. Biasanya pada periode merapot, saya suka melihat-lihat postingan beliau. Banyak dapat info perkembangan bahasa Indonesia yang jarang sekali dapat perhatian. Unggahan uda selalu menarik, dengan nuansa humor yang kocak, sekaligus mengajak pembaca be…

innocentiaine20
AtomicEssay

AES158 Kembali Menulis

Waktu itu, sudah cukup lama sejak rutin menulis AES-ku terhenti. Dengan alasan, tergantikan oleh keasikan baru menggambar mandala. Aku sedang berdiskusi dengan rekan SPP tentang persiapan lingkar belajar untuk kakak jenjang kecil, dengan topik emosi. Khususnya dalam hal pengelolaan emosi di kelas,…

innocentiaine10
AtomicEssay

AES150 bene scriptum

Pagi ini menerima kiriman, Vivere et Interpretari; sebuah buku tulisan Tasha, KPB 2022. Pas banget karena bisa langsung baca, mengisi libur. Terimakasih @natasha-setyamukti ! Perjalanan 3 tahun, 6 semester di KPB, dikemas dalam sebuah buku setebal 157 halaman. Wow, menarik sekali 1 rangkaian proses…

innocentiaine51