AtomicEssay

AE2 144 Berisik Tanpa Suara

leoamuristpenulis arsip2

"Non-stupid people always underestimate the damaging power of stupid individuals. In particular non-stupid people constantly forget that at all times and places and under any circumstances to deal and/or associate with stupid people always turns out to be a costly mistake." Carlo M. Cipolla.

Seringkali kita merasa keberisikan padahal tidak ada suara, rasanya sesak dan enggan seperti mau jajan eskrimkon doang antrian panjang sampai menutupi badan jalan. Keberisikan semacam itu kan yang membuat kita kehilangan kesempatan menyampaikan pesan(-an), kar(n/m)a ruang kepenuhan bahkan sampai tumpah ke akses jalan.

Solusinya? Tinggalkan.

Pemilihan ini bukan berdasarkan pertimbangan alternatif solusi, malahan perlu berdasarkan alternatif konsekuensi. Kalau berdasarkan alternatif solusi ujungnya malah menjebak diri sendiri dan jadi bagian dari keberisikan tanpa suara itu tadi, malah menjadi bagian dari permasalahan. Karena arah dari alternatif solusi seringkali konfrontatif.

1B44B526325340A486FF3FEC3127D507.png

Konfrontatif bukan berarti melulu agresif, bisa saja tatap muka menyampaikan pesan di depan. Dialog katanya, adu pembetulan nyatanya. Yang paling banyak mengeluarkan kata dalam satu menit yang menang, karena coba baca kembali paragraf kedua yang pake Bahasa Indonesia itu deh.

Kalau kita memaksakan berhadapan, ngomong di depan, dialog-dialogan, itu kan seperti mencoba membuat kesepakatan dengan mesin pembaca kode harga di supermarket. Seratus ribu rupiah, kata mesin itu. Lima puluh ribu aja deh, kita membalas jawab. Scan ulang, mesin tetap bilang seratus ribu rupiah.

Gitu aja terus sampai ladang gandum berubah jadi kokokranch.

Secara alternatif konsekuensi, dasar pemilihan ada pada kemampuan diri menanggung konsekuensi pilihan. Apakah mampu menanggung pengulangan dari pilihan kon-front-tatif yang bisa mengubah ladang gangum tadi? Atau, apakah mampu memanfaatkan waktu mengantri untuk mencari ruang lain yang lebih memiliki telinga?

Kalau saya sih, tidak mampu di alternatif pertama. Karena gandum kebanyakan bikin konstipasi. Istilah bekennya, gedeg sendiri. Sedangkan konsekuensi dari alternatif kedua lebih mampu saya tanggung, memberi usaha lebih untuk keluar jalur antrian kemudian belajar bahasa lain dan menemukan telinga yang mendengarkan.

Demikian persoalan selesai bukan dengan menyelesaikan permasalahan yang kelihatan, karena ‘ini jadi masalah’ hanyalah pilihan respon dari situasi berdasarkan metoda alternatif solusi. Sedangkan berdasarkan metoda alternatif konsekuensi, persoalan selesai dengan menempatkannya sesuai dengan tempatnya berada.

3A6D7D9DC36B482789B9EEBDEBA4CD3F.jpeg

Seperti jantung, ruang pompanya memang penting. Pun, yang lebih penting adalah sekat antara ruangnya. Demikian aliran dari seluruh badan ke bilik kanan, sekat menjaga dan mengatur alirannya ke serambi kanan lalu ke paru-paru. Dari paru-paru masuk ke bilik kiri, kemudian ke serambi kiri dan ke seluruh badan.

Efisien tanpa kebocoran yang merepotkan bikin keracunan sebadan-badan, bahkan dampaknya sampai ke luar diri merepotkan orang sekitar kan kalau tiba-tiba badan tumbang pas lagi berdiri di antrian.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES513 Saksang Kapau, Kairos!

Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

leoamurist00
AtomicEssay

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat

Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

leoamurist00
AtomicEssay

AES511 Ākāra

Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…

leoamurist41