AES 018 Yah, Jadi Kepancing
Tadinya, mau nulis tentang sukses karena siang ini pas lagi rehat perencanaan KPB sekilas denger podcast Jordan Peterson, Sadhguru, & Andrew Huberman. Semenit dua menit sih, cicil denger. Kalau keterusan bahaya, ketiduran.
Eh, pas scrolling nemu tulisan Pak Ahkam ini. Jadi kepancing pengen nerusin. Walaupun terusannya gak terlalu nyambung sih, malah cenderung beda arah. Walaupun pemicunya sama. Pernikahan. Hmmm... Perkawinan juga. Soalnya kemarin sempat lihat-lihat informasi Kursus Persiapan Perkawinan.
"Menikahlah, kalau pasanganmu baik kau akan bahagia. Kalau pasanganmu tidak baik, kau akan menjadi Filsuf." Kata Sokrates kalau gak salah ingat.
Inilah yang bisa saja disambungkan dengan pandangan Jordan Peterson & Sadhguru sekelebat memang, karena saya parsial mendengar materi kuliah mereka. Sesuai dengan kebutuhan praktikal saja.
Baik itu bukan berarti sikap baik, saja. Bukan juga berperilaku baik, saja. Bukan good, saja. Justru baik itu adalah good at.
Okey, kalau menurut Alain de Botton baik itu good enough. Ini saya pun sepakat. Di sisi lain, kata Jordan Peterson bahwa baik adalah terrifically good at pun saya sepakat. Gimana dong.
Di sini lah saya sepakat dengan kata Sadhguru, bahwa baik itu adalah sukses! Eh ternyata nyambung ama keinginan saya nulis tentang sukses nih.
Sukses adalah saat seorang benar-benar menyatakan, merealisasikan, mengaktualisasikan, bahkan memutakhirkan potensi dirinya sampe penuh. Full fledge. Disinilah terrifically good yang good enough. Kepenuhan diri. Karena selalu ada batasan, yang justru mengafirmasi kebebasan.
Dalam rangka kepenuhan diri ini, dalam rangka optimasi diri ini, dalam rangka being human ini. Ada banyak cara yang salah satunya terlibat dalam perkawinan. Cara lain kan ada selibat, ada juga yang terikat kaul (sumpah).
Walau caranya beda, syaratnya sama. Sebelum terlibat atau selibat atau terikat, pastikan diri sudah terrifically good enough at something! Spesifik ke perkawinan, kalau syarat ini terpenuhi, oleh masing-masing individu. Barulah layak berpasangan, karena sudah memiliki nilai yang dipijak untuk mampu berdiri sendiri. Sehingga layak berpasangan.
Nikah kan gandengan, bukan gendongan. Ya kan, iya kaaan.. iyain dooong
maksa
mekso
moksa
yaahh kemana-mana nih..
udah ah.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES513 Saksang Kapau, Kairos!
Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat
Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

AES511 Ākāra
Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…
