AES 03 [CERPEN] Sandaran
Pagi yang cerah,
Niar bangun dengan semangat, bersiap mandi lalu sarapan. Hari ini dia mendapat tugas dari kantor untuk meninjau salah satu lokasi outbond di daerah sekitar Bandung Selatan. Lokasi itu cukup jauh dari rumah Niar, membutuhkan waktu tempuh sekitar dua jam perjalanan dengan menggunakan sepeda motor.
Saat sedang menikmati sarapan, tetiba Niar terdiam. Rasa ragu untuk pergi menyelimuti dirinya, ragu karena dia harus pergi sendiri, ragu karena dia merasa khawatir dengan keadaan jalanan. Dia ragu akan dirinya sendiri. Apakah aku tetap harus pergi? Perlukah aku mengajak teman untuk menjadi supir cadangan atau sekedar untuk menemani? Bagaimana kalo hujan besar, lalu jananan menjadi banjir? Apakah aku bisa sampai di sana dengan selamat? Bagaimana kalo macet dan dijalan banyak bus pariwisata? Pertanyaan-pertanyaan mulai muncul satu persatu dipikirannya Niar. Menambah rasa ragu dan khawatir.
Niar terdiam, dirinya sedang bergelut. Mencoba mengendalikan diri, mencerna setiap pertanyaan yang muncul. Mencari jawaban dari dalam dirinya, diri dia yang sesungguhnya.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pada dasarnya, Niar adalah wanita yang mandiri dan penuh percaya diri. Dia terbiasa mengerjakan segala sesuatu sendiri tanpa ragu. Dia sangat bisa diandalkan oleh diri, teman serta keluarganya. Namun, semenjak bertemu dengan Dani, Niar menjadi orang yang berbeda, tidak berani pergi sendiri, ragu untuk mengambil keputusan serta tidak yakin dengan kemampuan dirinya. Hal ini karena Dani selalu ada di sampingnya, selalu menjadi orang pertama yang hadir ketika Niar sedang merasa rapuh, selalu menjadi teman diskusi serta membantu Niar dalam menghadapi berbagai situasi. Selalu menemaninya kemana pun Niar pergi. Dimana ada Niar, disitu ada Dani. Dani menjadi sandarannya Niar.
Tapiii.....
Suatu hari, Dani pergi, untuk selamanya.....
Setahun sudah Dani meninggalkan Niar sendiri. Dengan tertatih, Niar mencoba untuk berdiri di kaki nya sendiri, tanpa sandaran. Mencoba membangun diri dari nol, mengembalikan dirinya yang penuh semangat dan percaya diri, seperti dulu. Mencoba membunuh rasa ragu dan khawatir. Walaupun pada kenyataannya usahanya sering kali gagal, karena rasa itu masih sering muncul diwaktu yang tidak tepat.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sandaran bukanlah mengganti kaki untuk berdiri.
Dan manusia bukanlah sandaran yang yang abadi.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:
AES05 DUDUK SEJENAK
Siang hari. Di trotoar jalan, aku duduk sejenak Mengamati lalu lalang jalan yang tampak lengang Aku berteduh di bawah pohon kecil Cukup untuk melindungiku dari sengatan sinar matahari Deretan gudang kumuh dan gedung tinggi Salah satu pemandanganku siang itu Beban-beban tampak terlihat jelas Berbeda…
mpit210611AES 04 [Cerpen] Peupeujeuh Sepuh
Di wanci sareup na panon poe, emak sareng bapa nuju caralik dina tepas. Ningali Sari, budak samata wayangna leumpang ngageuleuyeung siga nu leuleus.Tuluy weh emak ngagentraan Sari nu nembe dugi bumi, uih damel. Emak: "Nyai, geulis, anaking anu solehah. Kumaha padamelan teh? betah teu? Asa carape ki…
mpit210631AES 02 SUKA DUKA RELAWAN
Hari itu, Dengan sedikit tergesa, kabar duka sampai pada kami Bergegas kami menuju tubuh yang membeku, Kaku Sebagian menjauh karena takut Sebagian justru mendekat karena tak percaya Ya, makhluk mikroskopik itu telah mengkubukan manusia Riuh anak-anak berbicara, bingung Berkumpul diantara keramaian…
mpit210620