AES 056 Mula3nya
(bagian 2) ...Pendidikan adalah dasarnya (yang kemudian setelah empat tahun menjalani jalur pendidikan mendapat penglihatan lebih lanjut kalau dasar bukan lah akar, ini bahasan nanti lagi).
Kuartal akhir dua ribu lima belas. Tuntas sudah program pendampingan komunitas-komunitas sadar bencana. Selesai semua sasaran fasilitasi peningkatan resiliensi organisasi. Mendarat cukup lama di Matraman, karena biasanya bangun pagi di stasiun dan tidur malam di bandara. Sekarang ada jeda. Hening dan jeda. Sambil menyeruput kopi, di malam bulan terang, kosan sepi karena pada nonton konser bon jovi. Diri berkata, "Pulang Bandung kah? Sepertinya dunia edukasi bisa jadi langkah selanjutnya. Mulai dari area kopi, karena Tanah Gayo kota dingin Takengon memiliki pengaruh kuat pada memori, sekuat memori Pulau Yamdena Saumlaki. Pemantiknya, gunung Sinabung & Slamet."
Dua ribu lima belas, sebelum Taman Ismail Marzuki dirombak jadi seperti sekarang ini dan di sepanjang jalan depan masih berderet tempat makan. Bioskop murah dan toko kelontong buku klasik di belokan gang institut kesenian. Saat itu, windows phone masih sangat sanggup diandalkan. Mulai mencari masukan, pertimbangan, berbagi pengalaman, hingga menalarkan perasaan. Dari arus emosi hingga kerangka logika, kain dari Sintang & kukri dari Nepal (oleh-oleh kalau pisau yang ini) bilang, "Iya, pulang." Oke, pulang. "Toh tidak perlu lama-lama, setahun dua tahun juga udah akan terbang pergi-pergi lagi," sambil bilang ini dalam pikiran.
Lima tahun kemudian.
Masih di bandung dan sebagai bagian keluarga rumah belajar semi palar, tempat berkarya terlama. Kalau dibilang berkarya, bukan artinya melulu menghasilkan karya. Malahan menjadikan karya, menjadi karya. "Bukti bahwa diri berkembang adalah lingkungan tempat diri berada pun berkembang." Masih menjadi pegangan sekaligus pencarian. Menjadikan karya bukan menjadi produktif, justru menjadi bagian proses konstruktif. Menjadi karya bukan mengubah orang lain, malahan berubah dari diri sendiri. Semakin memberi malah semakin meminta, semakin mendapat malah semakin menyerahkan.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES513 Saksang Kapau, Kairos!
Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat
Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

AES511 Ākāra
Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…
