AES 06 Sang Filsuf

"Wahai kau budak dunia
Cintailah bijaksana
Dengan penuh kesadaran pahami dirimu sendiri
Lusinan jurnal puisi
Zaman berkembang mengikuti
Mencari jawaban ilmu tentang satu dunia yang baru
Masa depan lima benua
Manusia alam semesta
Tak akan kau ketahui
Namun Tuhan bukan pembenci"
- Mr. Sonjaya
-----
"Cinta itu peduli terhadap diri sendiri".
Kata pengantar dari seorang kawan (sang vokalis, Dimas Wijaksana) terasa begitu menancap malam ini. Belakangan saya bangun di pagi hari dengan perasaan lelah. Rutinitas yang begitu padat, membuat tak sempat mengisi diri di awal dan akhir hari sebelum terlelap. Begini ya ternyata rasanya. Oleng hilang arah, hehehe.
Malam ini saya berniat menuntaskan pekerjaan yang tak tersentuh di hari sebelumnya. Setelahnya, saya pun berniat mendengar musik dan menulis sesuatu tentangnya. Terpilihlah lagu ini: Sang Filsuf.
Berawal dari melihat dokumentasi pentas kecil lagu ini, enam tahun lalu di Lawangwangi Artspace. Saat itu, saya duduk di kursi penonton. Menikmati alunan syahdu bersama kawan-kawan terdekat, di bawah sinar bulan purnama dan angin bukit. Bercengkrama, saling bercerita tentang kehidupan. Menertawakan kebodohan diri dan kejadian-kejadian lampau yang mewarnai perjalanan. Saling menguatkan, mengaku dosa, belajar dari kesalahan.
Asyik bicara tentang musik, film, buku yang dinikmati. Peristiwa-peristiwa unik yang terjadi di dunia. Isu politik, ekonomi, sejarah, alam semesta yang seakan tak akan pernah habis untuk dibahas. Pada akhirnya, meyakini bahwa segala sesuatu terjadi karena kehendakNya.
Jadi, kita mau apa?
Lalu, kembali tertawa terbahak terpingkal. Seakan lupa, esok hari kita masih perlu bangun pagi dan bekerja sepenuh hati. Sambil berniat mengompres kantung mata dengan es batu sebelum tidur, agar tetap terlihat segar dan bugar tanpa kantuk.
Apa kabar kalian, wahai kawan?
Semoga baik-baik di manapun berada.
Ah pandemi, memang jagonya membuat rindu bangkit tanpa diminta :)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 21 Kembali ke Akar
tangis kecil pecah langit membelah sejenak waktu terhenti tunas turun dari langit perlahan berlabuh di bumi Saat kelahiran anak di dunia, lahir pula orang tua dengan segala peran barunya. Hadirnya Mas Faisal di tengah rasa ingin tahu kami, sungguh bagai mendapat rasa dipahami dan validasi. Berangka…

AES 20 "Nak, Ini Gitar yang Sama"
"Ibun, fotoin aku dong. Aku juga mau bikin puisi lagu." Nak, ini gitar yang sama. Yang kubeli jauh sebelum kau lahir. Ketika aku menabung setahun lamanya, di usia 14 tahun. Pulang-pergi naik bis Metromini jurusan Ciledug-Blok M. Jalan menelusuri terminal, masuk ke Gunung Agung. Membawa gitar dalam…

AES 19 Kembali ke Rumah
Konon nama adalah doa. Rumah Belajar, tempat Tumbuh Menjadi Harapan. Di usianya yang kedua puluh, separuh perjalanannya hati bertaut di sini. Tangis tawa sedih haru bungah jangan ditanya. Peluh kesah yang terbayar tunai dengan syukur bahagia kerap tiba. Titik rendah hadir beriringan dengan peluk da…
ratrikendra112