AtomicEssay

AES 063 Mangga

leoamuristpenulis arsip2

Sore kemarin berisik dari pohon mangga depan rumah sebelah selokan. Biasanya berisiknya dari dalam selokan, anak-anak ngambil ikan. Berisik dari pohon mangga ini berisik tupai dan burung, sepertinya lagi pada rebutan mangga. Berjatuhan pula, jadi semakin berisik. Kelihatannya mangga-mangga itu memang belum tua, hanya koq sudah karatan ya. Maksudnya banyak bercak cokelat dan pecah-pecah padahal masih bergantung di dahan.

Jadi teringat, beberapa hari lalu sempat membabat beberapa pohon pisang yang sakit. Daunnya menguning dan buahnya busuk di dalam. Saat ditebang pun batangnya mengeluarkan cairan kecoklatan dengan bau tidak sedap. Mana cipratannya kena muka dan masuk mulut pula. Bah..! Jangan-jangan, mangga juga mengalami hal yang serupa. Memang cuaca lagi tidak bersahabat, banyak terjadi badai di beberapa area dunia dan suhu pun beberapa kali melewati batas normal. Global warming is real.

Akhirnya memutuskan untuk memetik saja lah, sekalian membersihkan pohon dengan ekspektasi buah selanjutnya bisa lebih baik. Di hari pertama sekolah di jeda siang, saya memanjat. Semacam olahraga persiapan agar nanti makannya lebih lahap.

Yak, seperti biasa bagian terberat selalu bagian awalan. Batang lurus tanpa dahan, semut berkeliaran, dan kulit keras yang jadi pegangan. Hanya untuk naik ke dahan terdekat yang tingginya dua meter saja rasanya seperti lari keliling sabuga, sekali. Iya, sekali lari keliling sabuga udah pusing soalnya. Jarang latihan kardio seringnya latihan karbo, alias makan melulu.

Sampai di dahan pertama, istirahat lumayan lama. Memang, langkah pertama selalu jadi paling susah. Setelah segar, dari sini semuanya lebih mudah. Dengan bantuan bambu berkait,  petik sana-sini. Selesai. Sekarung beras terkumpul, mangga muda yang karatan. Langkah selanjutnya sortir mana yang masih layak makan.

Namun sebelum sortir, perlu turun dahulu dari pohon. Ternyata "selalu ada yang lebih dari yang paling" pun benar. Langkah pertama adalah yang paling susah dan ada yang lebih susah dari yang paling susah ini, yaitu langkah penuntasan. Sesusah-susahnya memanjat di awalan, lebih susah turunnya. Sudah gemetar kaki tangan, rasanya menakutkan melihat ke bawah dari tempat yang tinggi. Mungkin seperti ini kali ya rasanya jadi pejabat, makanya enggan turun kursi jabatan.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES513 Saksang Kapau, Kairos!

Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

leoamurist00
AtomicEssay

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat

Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

leoamurist00
AtomicEssay

AES511 Ākāra

Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…

leoamurist41