AtomicEssay

AES 08 Memilih dan Mensyukuri Sisanya

Diki Muhammad Noorpenulis arsip2

Situasi lalu lintas saat ini seringkali sulit diprediksi. Meskipun sudah punya jadwal rutin terkadang bukan sebuah jaminan bisa tiba di lokasi yang dituju sesuai harapan. Kemacetan yang disebabkan oleh banyak faktor, dari mulai volume kendaraan yang meningkat, mengabaikan rambu lalu lintas, hingga kepadatan yang terjadi akibat aktivitas pasar. Sebagai pengemudi tentu kita punya pilihan, dari mulai memunculkan rasa jengkel dan menyalahkan situasi, hingga memilih untuk menikmati kemacetan dengan banyak cara yang memungkinkan untuk dilakukan. Setelah sekian lama menjadi salah satu bagian dari kemacetan Bandung di pagi hari, perjalanan rutin Ujungberung menuju Pasteur akhirnya perlahan saya memilih pilihan ternyaman, yakni penikmat kemacetan. 

Memilih menjadi penikmat ternyata cukup membantu sisi psikologis saya dalam menyikapi kemacetan. Alih-alih merasa emosi dan menyalahkan situasi di luar diri, serta hanya berpikir bagaimana sampai ditujuan tepat waktu dengan 'nyelap-nyelip' hingga mengambil hak orang lain, ternyata menikmati momen kemacetan dengan berusaha tenang sambil sesekali tersenyum adalah pilihan terbaik. Selain itu, ada cara lain juga yang terkadang saya pilih di tengah situasi kemacetan, seperti mendengarkan musik, lebih banyak mengamati sekitar, dan berzikir. Sikap yang dipilih dalam menikmati kemacetan sangat mempengaruhi energi di sekitar, terutama ketika berkendara bareng keluarga. Respons-respons yang dimunculkan ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan menjadi salah satu gambaran sikap seseorang. Beberapa waktu lalu saya juga diingatkan lewat sebuah buku yang menarik bagi para orangtua yang berjudul Conscious Parenting karangan Shefali Tsabary, P.hD. Ketika orangtua mengemudikan kendaraan bareng keluarga dalam situasi kemacetan, respons yang dimunculkan kita sebagai orangtua menjadi sebuah paparan dan referensi bagi anak tentang bagaimana menyikapi hal-hal di luar kontrol diri. Lewat situasi tersebut anak-anak akan melihat sebuah situasi yang tidak menyenangkan lebih banyak karena faktor luar, bukan kembali ke diri, dan fokus pada yang bisa dikontrol. Lama kelamaan hal ini dikhawatirkan akan menjadi sebuah kebiasaan menyalahkan oranglain, bukan mencari apa yang bisa diperbaiki dari sisi diri. Memang dalam berbagai situasi kita sebetulnya punya andil untuk memilih sikap, seperti yang saya pernah dengar dari salah satu kajian bahwa hidup itu 'sesederhana melakukan yang berpahala dan menysukuri sisanya'. Semoga dalam situasi tidak menyenangkan, kita semua bisa diberikan kekuatan untuk selalu sadar dalam memilih pilihan yang terbaik. 

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES002 Refleksi di Balik Cucian Piring

‎Sebagi wanita multi tasking, kegiatan mencuci piring, sering jadi momen untuk aku melakukan refleksi di luar kegiatan ibadah rutin. Tangan tetap bergerak, tapi pikiran bisa bermain, karena aku jadi bisa ngobrol dengan diri sendiri. Sekelumit pertanyaan dasar: Kenapa aku tidak nyaman hari ini? Apa…

daniasundari12
AtomicEssay

AES870 Meng-atas-i Pikiran

Sudah cukup lama mengamati bahwa entah kenapa semakin ke sini, semakin banyak orang yang bicara tentang over-thinking. Menarik. Tantangan berikutnya adalah memahami bagaimana pikiran manusia bekerja. Kenapa kita semua tidak berhasil mengelola, menata pikiran kita agar tidak berlebihan. Dari mana pi…

Andy Sutioso43
AtomicEssay

AES 007 Manajemen Peluh

Pernah ga kamu menangkap diri sendiri sedang fokus banget dalam pusaran overthinking? (kita singkat jadi ovt ya biar ga cape jempol aku ). Udah gitu, subjek ovt-nya juga ga segitu mengerikan. Daya kita buat mencegah atau mengatur hal yang dikhawatirin juga ga ada. Terjebak kekesalan dan penyesalan…

Lei52