AES 081 BERKARYA

Berkarya bisa dimulai dari banyak hal, salah satunya melalui membuat bagan alir material. Yang dimaksud dengan bagan adalah ketetapan-ketetapan pelaksanaan, misalnya syarat dan ketentuan karya, jadwal kalender pelaksanaan, sampai kepada bentuk publikasi dan kepada publik yang mana. Yang dimaksud dengan material adalah karya itu sendiri secara lengkap, bukan hanya bentuknya malahan juga ceritanya, prosesnya, manfaatnya seperti apa dan untuk siapa.
Kesadaran sistem yang perlu dipergunakan dalam berkarya yang seperti ini adalah bahwa semua hal terhubung dan merupakan satu bagian tak terpisahkan. Satu hal kecil yang terabaikan atau sengaja diabaikan akan meruntuhkan semua struktur karya, bisa jadi karya itu tidak berkualitas seperti yang diharapkan. Misalnya, sengaja mengabaikan pengumuman kepada audiens untuk presentasi awal. Kualitas karya jelas akan berkurang setengahnya, karena yang mengetahui manfaat karya hanya setengahnya, sehingga begitu karya dibuat jadi tidak bermanfaat karena tidak ada yang tahu.
Terlihat ada saling tergantung dari penggambaran barusan, karya membutuhkan pemberi dan penerima. Kreasi yang dibuat untuk diterima diri sendiri itu bukan karya, karena itu hanyalah cara belajar. Belum sampai kepada berkarya, karena berkarya adalah mengimplementasikan hasil belajar. Sehingga karya adalah sesuatu yang dibuat diri sendiri untuk diterima oleh orang lain. Bukan sekadar bentuknya, justru manfaatnya.
Karya yang memberikan bentuk kepada orang lain tanpa menyalurkan manfaat, jadinya malah merepotkan banyak orang. Misalnya, sudah terlambat membuat pengumuman dilanjutkan dengan presentasi dadakan. Mengundang kenalan karena yang mau memaklumi dan menerima apa adanya hanya mereka. Kebayang kan seberapa besar drama dua jam yang ditanggung para peserta presentasi ini untuk memaklumi bahwa tidak ada karya yang ditampilkan, hanya ada wacana.
Jadi, langkah pertama yang perlu dilakukan dalam proses berkarya adalah stop memasang standar yang di luar kemampuan untuk menyatakannya. Kemampuan di sini bukan soal skill saja, justru soal konsekuensi. Misalnya, standar yang dipasang adalah rutin olah raga pagi mengajak teman-teman. Konsekuensinya adalah bangun pagi kan. Sedangkan dirinya tidak mampu untuk bangun pagi karena tidak mampu menahan diri untuk online sampai jam dua pagi. Baiknya tidak usah diwacanakan.
Langkah kedua, bertindak secara fair. Adil. Artinya, konsekuen. Sesuai kemampuan saja. Misalnya, tidak mengumpulkan tugas sesuai kesepakatan kelompok. Alih-alih menjadi demam dan sakit karena kepikiran kemudian membuat alasan untuk tidak mengumpulkan, baiknya untuk menyebutkan tanggal tugas itu terkumpul kapan dan menyatakannya. Itu konsekuensi yang lebih indah daripada menjadi tidak dapat dipercayai lagi.
Karena berkarya adalah soal percaya, bahwa ada manfaat yang diberikan dan diterima. Sebagai konsekuensi membuat orang lain kerepotan menghadiri presentasi yang sudah mengorbankan waktu mereka.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES513 Saksang Kapau, Kairos!
Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat
Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

AES511 Ākāra
Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…
