AES 091 Negasi

Dalam proses mengembangkan diri, setelah mencapai tingkat tertentu, berhenti itu perlu. Inilah susahnya, lagi di puncak koq diminta setop. Justru di sini lah esensinya, puncak kan titik dimana naik dan turun bertemu. Titik dimana positif dan negatif ketemu. Positif tuh nanjak, negatif tuh nurun. Jadi kalau ga ada berhenti, ga ada puncak dong. Tanjakan panjang tak berakhir aja sejauh mata memandang. Perkembangan melalui jalan pencapaian lho, bukan jalan kecapaian.
Kata hukum ke delapan cara berpikir sistem, "The higest area of leverage often the least obvious." Sama seperti melihat puncak pendakian, yang keliatan pucuknya aja kan. Pas udah sampe di puncak baru sadar, oh.. ternyata di puncak lahannya luas. Bisa nampung seribu orang di dalam tenda masing-masing ya. Bermalam di situ, menikmati sunrise, kemudian apa? Beberes dan turun lagi kan. Gak seterusnya tinggal di situ. Bukan tanah milik, lagian kalau mau pesan makanan online gak bisa. Layanan ojol jarang yang pakai helikopter.
Setelah sampai rumah masing-masing, hening, diam tak mendistrkasi diri dengan media sosial, barulah terasa. Makna perjalanan dan pencapaian pendakian mengembangkan diri itu. Seakan counterintuitive padahal inilah estetika paradoksnya. Makna perjalanan didapatkan setelah perjalanan usai, bukan saat perjalanannya. Pemahaman berkembang malahan saat diam dan berhenti, setelah tuntas menjalani satu siklus proses pengembangannya.
Untuk mendapatkan manfaat dan menjadikannya guna (kualitas diri yang berdampak baik dalam lingkungan hidupnya) kesadaran perlu fokus ke telapak kaki. Agar bisa melangkahkan dua praktik ini. Pertama, stop takut. Takut ini takut itu apapun lah, ketakutan-ketakutan akan apapun ya itulah takut. Takut sudah menggambarkan kualitas apapun bentuknya. Takut kecoak terbang dengan takut meteor jatuh, intinya takut kan.
Bukan juga serta-merta stop takut begitu saja, karena energi selalu mengalir dan tidak bisa berhenti. Maka, langkah kedua adalah pengalirannya. Start trying evenly. Maksudnya beranilah untuk mencoba dan berani bukan nekat. Perlu perhitungan, make it even; desire and capability. Kalau mau lebih besar dari mampu jadinya ga even, itu bukan berani mencoba namanya. Nekat aja.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES513 Saksang Kapau, Kairos!
Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat
Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

AES511 Ākāra
Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…
