AtomicEssay

AES 116 Serial Televisi

leoamuristpenulis arsip2

The way we do one thing is the way we do every-thing. Jadi kutipan jagoan selama tiga tahun belakangan ini. Setelah jagoan tiga tahun sebelumya adalah one who cannot command must obey. Sedangkan enam tahun total, tetap raja terakhirnya yang paling kojo yaitu when the student is ready the teacher will appear.

Refleksi dan proyeksi tiga tahun ke belakang memang soal pola dan kebiasaan. Dengan menyadari satu hal saja dari diri sendiri, kelihatan bagaimana diri sendiri merespon seluruh fenomena lingkungan yang dialami. Penemuan ini jelas dari proyeksi kepada kelompok dampingan dan refleksi dari respon baliknya.

Dengan memasuki kesadaran diri lebih mendalam melalui refleksi, malahan proyeksi keluar semakin tajam. Dalam arti, pendekatannya semakin akurat walaupun tidak akan pernah tepat sama. Beda nol koma nol satu milidetik saja sudah dua hal berbeda, makanya perlu menyadari satu pola yang sama. (untuk menemukan struktur jadi bisa menggeser paradigma)

Contoh, melihat cara seseorang duduk atau mendengar celetukannya. Seketika menemukan pola kebiasaan bergerak dan berkata dari diri sendiri. Kemudian saat merespon tindakan dan perkataan orang tersebut, kesadaran bahwa diri sedang melakukan proyeksi menyala. Rasanya seperti menonton diri sendiri.

Apakah diri sendiri yang teramati itu sudah bisa terkendali? Belum! Makanya jadi suka bingung sendiri. Hehehe... Yang penting untuk saat ini adalah tetap sadar kalau dunia luar dunia dalam kebanyakan hanya soal refleksi dan proyeksi yang selalu repetisi. Makanya, tuntutan jadi tidak relevan rasanya sekarang-sekarang ini.

Di sisi lain, ekspektasi menjadi sangat berguna. Untuk memilih respon terhadap sekitar dengan aroma yang lebih konstruktif, bukan instruktif. Yang menuntut bisa jadi terlalu banyak dituntut, yang membebaskan bisa jadi terlalu banyak dibiarkan. Jalan tengahnya jadi kembali ke kutipan tiga tahun pertama, rasanya.

One who cannot command, must obey. Ia yang tidak mampu menetapkan arahnya, pastilah diarahkan. Seperti, merasa perlu ada perubahan, menemukan ada yang bisa diperbaiki. Sekaligus enggan mengorbankan waktunya untuk memimpin gerak perbaikan ini. Demikianlah dirinya diarahkan oleh media untuk diam dan mengonsumsi serial televisi.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES513 Saksang Kapau, Kairos!

Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

leoamurist00
AtomicEssay

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat

Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

leoamurist00
AtomicEssay

AES511 Ākāra

Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…

leoamurist41