AtomicEssay

AES 118 Rumah Belajar Semi Palar

leoamuristpenulis arsip2

Bukan orang yang memilih tempatnya, justru tempat lah yang memilih orangnya. Wah, sehebat apakah saya sampai-sampai tempat ini memilih saya sebagai orang yang mengisinya? Eits, awas kebalik lagi nih cara pandangnya. Tempat memilih orang bukan karena orang itu hebat, malahan karena ada hal yang belum genap dari orang tersebut dan tempat itu akan menjadi ruang belajarnya.

Seperti puncak gunung mengajarkan ketenangan dan bibir pantai mengajarkan kesenangan, bisa juga sebaliknya tergantung penerimaan orangnya. Sehingga, kepenuhan diri seorang manusia terisi sepantasnya seiring waktu dan selayaknya seiring kesadaran. Selalu tepat waktu semuanya terjadi, bukan pada waktu yang tepat.

Seperti usia selalu tepat waktu kan, bukan pada waktu yang tepat. Saya berusia tiga puluh tahun tepat waktunya, bukan pada waktu yang tepat akan berusia tiga puluh. Semi Palar berusia tujuh belas tahun tepat waktu di 21 September kan, bukan pada waktu yang tepat yang entah siapa bisa menduga.

Seperti itulah kepantasan, selalu tepat waktu. Soal kelayakan beda lagi, yang sudah pantas berusia tiga puluh tiga bisa jadi baru layak berusia dua puluh satu. Misalnya.

Bukan orang yang memilih tempatnya, malahan tempat lah yang memilih orangnya. Untuk memberikan sesuatu bagi orang itu dan untuk orang itu memberikan sesuatu bagi tempat itu. Untuk menerima sesuatu dari orang itu dan untuk orang itu menerima sesuatu dari tempat itu. Resiprokal.

Memang perlu meningkatkan kepekaan diri sih soal memberi dan menerima ini, soalnya tipis antara kenyataan dengan basa-basi. Saya menerima begini begitu ini itu dari Smipa dst..dst.. bisa jadi basabasi, kalau saat bilang saya memberi ini itu bagi smipa-nya dengan berbeda tingkat kepercayaan diri.

Karena yang kenyataan, selalu sama tingkat percaya dirinya waktu bercerita perihal memberi dan menerima. Persis sama.

Memberi adalah menerima dan menerima adalah memberi, tidak mudah terkatakan. Bisa jadi, itulah misi pencarian yang terus berjalan. Bahkan setelah keluar dari ruang belajar ini, sampai bisa jadi sebelum masuk ruang belajar ini. Kalau semuanya terkoneksi berarti tidak ada lagi yang sebegitu mengherankannya atas terjadinya suatu kejadian, pertemuan, bahkan sampai perpisahan.

Tidak mengagetkan juga atas keterangkaian suatu hal yang seakan bertolak belakang atau seakan tidak ada kesinambungan. Mungkin, yang kita perlu lakukan hanyalah memperluas akal budi pikiran perasaan, dengan perbuatan. Sampai seperti lautan, sehingga semuanya masuk akal. Bahkan bulan pun tertelan lautan. Eh, matahari juga kalau sore. Luas beneeerrr...

Dan berantakan seperti tulisan ini yang keluar sekena pemikirannya saja. Dengan gambar yang sekena ketuk layar ponsel untuk diunggah sebagai latar gambar tulisan. Pun keberantakan tulisan saya ini yang terangkai dengan keterlanjuran anda membaca tulisan ini, adalah suatu pola keteraturan. Bisa jadi di tataran yang lebih besar, ada skenario teratur yang tertentu membuat anda membaca tulisan ini tepat waktu. Sekarang.

Komentar (1)

yulitjahyadi
hahaa.. selalu suka baca tulisan Kak Leo.. kaya main pingpong pakai tembok cermin!

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES513 Saksang Kapau, Kairos!

Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

leoamurist00
AtomicEssay

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat

Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

leoamurist00
AtomicEssay

AES511 Ākāra

Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…

leoamurist41