AES 125 Cuci Motor

Setiap motor selesai dicuci, tidak lama berselang paling lama dua hari. Kehujanan. Kenapa? Soalnya lagi musim hujan dan hampir setiap hari keluar pakai motor. Kalau habis dicuci motornya dibungkus di rumah aja, gakkan kehujanan.
Setiap selesai kehujanan, motor kotor luar biasa. Sampai ranting dan daun kering menempel di kolong motor, sudah seperti karya seni mixed media aja. Perekatnya, lumpur yang tadinya basah kemudian mengering karena panas mesin.
Niatnya ada sih untuk langsung mencuci, yang ditindak lanjuti dengan penundaan. Seperti biasa dan jamak terjadi, selalu bilang nanti dan ujungnya tidak jadi. Menunda. Kenapa? Karena i think i have time. Ini lah sumber persoalan.
We think we have time. Yang terbukti bahwa itu tidak tepat, besoknya gak sempat (dengan berbagai alasan) untuk mencuci motornya. Kemudian saat ada jeda luang, kembali menunda lagi niat mencuci motornya. Begitu terus.
Terus begitu. Sebulan kemudian lumpur ranting daun plastik kemasan plastik sedotan bahkan kerikil, menjadi bagian tak terpisahkan dari motor. Sampai orang salah kira kalau itu adalah gerobak pengangkut sampah, bukan motor.
Persoalan ini perlu diselesaikan agar tidak menjadi permasalahan berkelanjutan, mulai dari mana? Akhirnya mulai berpikir berdiskusi berdebat dan berpikir lagi, mulai dari mana. Ujungnya ya sama, motor tak tercuci juga.
Ternyata bukan dimulai dari pemikiran lah berpikir itu. Malahan, pemikiran hanyalah hasil sampingan dari tindakan berpikir. Berpikir adalah bertindak. Ambil ember berisi air sabun dengan lap, membilas bagian bawah motor.
Sesempatnya, seselesainya, yang penting ada satu bagian selesai saat ini. Lalu ulangi lagi, ada bagian yang selesai dibilas besoknya. Ada satu bagian lagi yang selesai dibilas lagi besoknya lagi. Memang kehujanan lagi. Kan musimnya.
Lama-lama terbiasa, tidak lagi beban pikiran. Malahan, jadi melegakan pikiran. Setiap selesai menggunakan motor, ada saja satu bagian yang selesai dibersihkan. Lewat dua minggu, koq rasanya motor ini selalu bersih ya.
Padahal seringkali kehujanan, motor selalu tampak bersih. Bahkan, banyak orang bingung kenapa itu terjadi. Di sini lah pemikiran lahir sebagai hasil sampingan, bahwa hal-hal kecil yang dituntaskan sekarang adalah kenyataan yang nyata.
Bahwa kenyataan adalah sekarang di sini saat ini, bukan nanti akan begitu begini. Kenyataan adalah motor kotor kehujanan dan disiram cuci bilas sekarang sedapatnya. Bukan, besok ah ke tempat cuci motor aja yang ujungnya batal.
Bahwa bukan masalah kalau tidak semua bagian tercuci bersih, karena penyelesaian persoalan terbesar motor kotor adalah mencucinya saat itu juga semampunya. Kenyataan itu sesederhana itu saja, ternyata.
Yang ada ya ada, yang gak ada ya gak ada. Semua yang ada dalam kuasa kita sekarang dan kita laksanakan sekarang adalah kenyataan. Di luar itu, khayalan. Jadi, daripada mengkhayal besok motornya kinclong. Sekarang aja, bilas.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES513 Saksang Kapau, Kairos!
Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat
Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

AES511 Ākāra
Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…
