AtomicEssay

AES 137 Seperti Ketika

leoamuristpenulis arsip2

Seperti ketika kita merasa kesal terhadap orang lain yang tampaknya abai bagi kita. Bisa jadi adalah refleksi pengabaian kita di masa lalu atau proyeksi pengabaian kita di masa depan. Seperti ketika kita merasa jengah terhadap orang lain yang tampaknya bebal bagi kita. Bisa jadi adalah refleksi kebebalan kita di masa lalu atau proyeksi kebebalan kita di masa depan.

Seperti ketika kita merasa kesal terhadap orang lain yang tampaknya bodoh bagi kita. Bisa jadi adalah refleksi kebodohan kita di masa lalu atau proyeksi kebodohan kita di masa depan. Seperti ketika kita merasa kesal terhadap orang lain yang tampaknya tidak memahami perasaan kita. Bisa jadi adalah refleksi kedangkalan kita di masa lalu atau proyeksi pendangkalan kita di masa depan.

Seperti ketika kita merasa kesal terhadap orang lain yang tampaknya tidak mengerti pemikiran kita. Bisa jadi adalah refleksi kesempitan kita di masa lalu atau proyeksi penyempitan kita di masa depan. Seperti ketika kita merasa kesal terhadap orang lain yang tampaknya tidak berfungsi sesuai tuntutan (diam-diam) kita. Bisa jadi adalah refleksi penyesalan kita di masa lalu atau proyeksi penyesalan kita di masa depan.

Seperti ketika kita merasa kesal terhadap orang lain yang tampaknya tidak berguna dalam ekspektasi (dugaan) kita. Bisa jadi adalah refleksi kesesakan kita di masa lalu atau proyeksi kesesakan kita di masa depan. Seperti ketika kita merasa kesal terhadap tulisan ini yang berulang hanya mengganti kata, semakin mengesalkan karena tidak semuanya tertuliskan atau urutan dan pemilihan katanya tidak sesuai selera.

Seperti itulah rasanya kita melihat diri kita di masa lalu dan di masa depan, disadari atau diabaikan, diterima atau ditolak, rasa kesalnya tetap terasa kesalnya. Seperti itulah panggilan kita, untuk menebus masa lalu di sekarang dan mengantisipasi masa depan di sekarang. Juga.

Liminalisme, masa kini hanyalah irisan masa lalu yang sudah abadi dan masa depan yang belum terlahir. Masa kini hanyalah irisan akumulasi refleksi dan kelipatan proyeksi, semampu memori memanggilnya kembali. Bukan hanya memori di tataran imajinasi, termasuk juga memori di tataran biologi genetis turunan dan belief system kebiasaan. Jadi, masa kini yang sekarang ini mau diserahkan kepada potensi yang mana?

Pengulangan kebiasaan usang berdasarkan sistem kepercayaan berulang. Atau; Percobaan kebaruan yang penuh ketidak tahuan berdasarkan kesadaran. Bedanya, tipis. Seperti tergambarkan dengan sulit di tulisan aes 136 gemuruh sebelumnya.


Jadi kelintas kata seseorang, ”Kalau kita ingin mencerdaskan orang, kita tidak menyederhanakan pemahaman turun ke level orang itu. Justru kita perlu menaikan level orang, agar orang itu mampu menghadapi kerumitan dan menyederhanakannya sendiri.”

dalam upaya menaikan level orang, mari mulai dengan membaca ulang tulisan ini dari kalimat paling pertamanya

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES513 Saksang Kapau, Kairos!

Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

leoamurist00
AtomicEssay

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat

Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

leoamurist00
AtomicEssay

AES511 Ākāra

Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…

leoamurist41