AtomicEssay

AES 138 Halangan

leoamuristpenulis arsip2

“Yang terhalangi akan menghalangi, yang menghalangi akan dihalangi.” Membaca kalimat barusan sambil mengingat ulang pengalaman menembus kemacetan, yang diakibatkan oleh kendaraan yang berhenti sembarangan; seperti itulah emosi yang hendak disampaikan melalui perkataan barusan.

Jadi yang penting emosinya/isinya/pesannya, coba rasain lagi emosinya. Nah, itu inti pesan dari kalimat. Bukan tata kalimatnya, bukan pemilihan katanya, bukan rimanya, bukan juga panjang pendek kalimatnya. Kalimat itu adalah wadahnya, bukan isinya.

Memang sih, wadah lebih penting daripada isi. Karena tanpa wadah tidak akan ada isi, karena tidak ada batasan sehingga semua keberadaan adalah ketiadaan. Itu mungkin maksudnya ‘kosong adalah isi dan isi adalah kosong’ yang perlu diucapkan sepaket, gak boleh dipotong.

Setidak boleh memotong lajur lain di jalan umum, karena akan menghalangi gerakan orang lain. Bukankah itu termasuk korupsi. Ragu-ragu kiri atau kanan, si pengendara malah berhenti di tengah jalan. Macet ke belakang. Coba rasakan lagi emosinya, sambil baca kalimat paling pertama tulisan ini.

Sip! Kalau udah kenal emosi yang hendak disampaikan ini, coba sekarang lihat teman/rekan sebelah kita. Semua perlambatan yang terjadi oleh karena tindakan dia, intinya ada di emosi serupa yang kita rasakan. Apapun penjelasan, apapun alasan, apapun analisanya, apapun apapun, yang kerasa ya yang terasa kan.

Lalu sekarang bercermin lah dan katakan pada dia yang ada di dalam cermin, “yang terhalangi akan menghalangi, yang menghalangi akan dihalangi.” Lalu baca kata berikut ini dengan pelan, berbisik. Baca dengan keras berisik juga boleh aja sih.

Karma.

Beda lho karma dengan hukuman. Karma itu paketan, sepaket tindakan dari awal sampai akhir. Bukan celetukan melepas emosi saat tidak mampu melihat suatu rangkaian fenomena secara utuh. Karma bisa jadi adalah struktur, yang perlu dimasuki kalau mau melampaui kesadaran.

Bukankah kita hanya bisa memberikan apa yang telah diberikan kepada kita. Apa yang diberikan kalau tidak ada yang diterimakan terlebih dahulu. Bukankah kita hanya mampu melakukan yang kita ketahui saja. Kalau begitu kenapa masih terjebak di pengulangan, kalau sudah luas pengetahuan.

Membebaskan diri bisa jadi adalah, tidak meng-halangi walaupun kita ter-halangi sehingga kita tidak di-halangi.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES513 Saksang Kapau, Kairos!

Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

leoamurist00
AtomicEssay

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat

Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

leoamurist00
AtomicEssay

AES511 Ākāra

Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…

leoamurist41