AES 14 Inner Light

"Without going out of your door
You can know all things on earth
Without looking out of your window
You could know the ways of heaven
The farther one travels
The less one knows
The less one really knows"
- The Beatles
Sabtu di tengah gemerisik angin, tonggeret, dan dedaunan, kami duduk bersama membahas tentang Literasi Diri: penemuan, pengenalan, pengelolaan, yang akan teramu apik menjadi kebermanfaatan. Saat duduk hening bersama, banyak rasa dan ingatan yang sekelibat hadir dalam prosesnya. Tentram, bahagia, sedih, kecewa, rindu, bersyukur. Mereka datang dan pergi, seiring dengan tarikan dan hembusan napas. Lalu, panasnya telapak tangan, yang tiba-tiba memicu kenangan saat meditasi bersama almarhum PakPuh di Kediri.
Iya, Ke-diri. Momen lebaran selalu menjadi momen yang mengisi diri. Obrolannya, dari sekadar ketawa bahas film Andy Lau yang di-dubbing medhok di JTV (JawaTV), sampai bahas bentuk sujud di lintas agama. Selain itu, subuh di stasiun, usel-usel di kasur tipis depan TV, nangis bareng ngobrol kehidupan, jalan ke sawah, beli jajanan pasar, duduk hening di ruang tamu, hingga perjalanan pulang-pergi mudik asik dengan kereta malam.
Saat kami diajak Kak Andy untuk menggosokkan kedua telapak tangan, ingatanku melayang saat usia 9 tahun. Jatuh dari ayunan kayu, lalu pipi bengkak dan lebam. Menangis pulang ke rumah. Di rumah, di kala orang-orang sibuk mencari obat, dengan tenang Pak Puh memintaku tiduran menyamping di pangkuannya. Ia menggosokkan kedua telapak tangannya, sambil memejamkan mata. Rasa hangat hadir seketika, ketika kedua telapak tangan Pak Puh menempel di pipi. Ajaibnya, sesaat kemudian, meskipun masih lebam, nyeri sudah tak terasa.
Saat itu, aku tak terpikir, bahwa itu adalah kumpulan energi.
Tembang The Inner Light ciptaan George Harrison, kian terngiang dalam kepala. Lagu tersebut seringkali didengar Bapak sambil duduk di lantai, membaca koran di depan pintu. Dulu, kerap kuciptakan momen yang sama di kost sendirian saat ku rindu. Mendengar The Inner Light, sambil duduk membaca Kompas Minggu.
Membahas tentang Literasi Diri, rasanya bagai menyelami pusaran ombak. Makin lama makin dalam. Ada ketakutan untuk menyentuh sisi palung yang gelap dan sudah dikubur dengan sadar. Namun ketika sampai di sana, anehnya sekarang sudah tak terasa begitu menggoncang.
"Oh iya, yang itu rasanya sedih, kecewa, sampai sekarang. Tapi ya udah. Aku bukan sedihku. Bukan pula kecewaku."
Saat Kak Fani mengajak kami untuk memeluk diri, berterima kasih, mohon maaf, dan ucapkan harapan kepada diri, tangisku pecah. Perpaduan rasa yang ajaib, selain sedih, ada lega di sana. Terasa lebih jernih memandang rangkaian kejadian tersebut Tuhan berikan begitu indah pada waktunya, sebagai proses mendewasa.
Perjalanannya akan terus bergulir. Mungkin tak akan pernah selesai, selama Yang Maha Kuasa masih berikan hidup di dunia. Lalu, kembali penggalan lirik terngiang,
"Arrive without traveling
See all without looking
Do all without doing"
Komentar (7)
Ke-Diri ya kak Wiwit... memori dari mendiang pak Puh. Duh luar biasa kak. Nuhun pisan sharingnya. .
Wah Kak Andy, aku yang nuhun pisan. Forum kemarin rasanya memang luar biasa
Wow.. ajaib ini perjalanan singkat kemarin yang mencapai titik jauh ya..
Iyaa Kak Ine, aku pun takjub sama prosesnya ☺
Wah tulisan ini sangat "mengena"! Saya sempat tercekat sejenak dan perlu mengembalikan "diri" sebentar sebelum melanjutkan membaca.
Wah yang bener, Pak Joe? Padahal ini mah judulnya cucurhatan hehehe
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 21 Kembali ke Akar
tangis kecil pecah langit membelah sejenak waktu terhenti tunas turun dari langit perlahan berlabuh di bumi Saat kelahiran anak di dunia, lahir pula orang tua dengan segala peran barunya. Hadirnya Mas Faisal di tengah rasa ingin tahu kami, sungguh bagai mendapat rasa dipahami dan validasi. Berangka…

AES 20 "Nak, Ini Gitar yang Sama"
"Ibun, fotoin aku dong. Aku juga mau bikin puisi lagu." Nak, ini gitar yang sama. Yang kubeli jauh sebelum kau lahir. Ketika aku menabung setahun lamanya, di usia 14 tahun. Pulang-pergi naik bis Metromini jurusan Ciledug-Blok M. Jalan menelusuri terminal, masuk ke Gunung Agung. Membawa gitar dalam…

AES 19 Kembali ke Rumah
Konon nama adalah doa. Rumah Belajar, tempat Tumbuh Menjadi Harapan. Di usianya yang kedua puluh, separuh perjalanannya hati bertaut di sini. Tangis tawa sedih haru bungah jangan ditanya. Peluh kesah yang terbayar tunai dengan syukur bahagia kerap tiba. Titik rendah hadir beriringan dengan peluk da…
ratrikendra112

