AtomicEssay

AES 201 Kesemutan (suara kaki)

leoamuristpenulis arsip2

Ketidak menerimaan itu rasanya menyebalkan, apalagi dengan beragam cara pembenaran melindungi diri dari teori yang lain. Hanya ingin berkutat dalam teori sendiri, baik berupa benteng ataupun labirin sama saja jadi beban. Bahkan yang perlindungannya dalam bentuk kelambatan bergerak karena menjaga jarak pun, membebani juga.

Apapun penjelasan percuma saja, karena yang labirin memang sudah tidak akan menjelaskan apa-apa mengenai intinya. Hanya berputar-putar menjaga agar tetap berlangsung kesibukan dalam periode tertentu sebelum berlalu setelah kenyang. Sedangkan yang benteng penuh penjelasan dan pertanyaan yang tidak butuh jawaban, hanya ingin dibenarkan.

Kesemutan ada waktunya dan kebas juga ada waktunya. Apapun pertimbangannya, yang sudah kesemutan dan kebas tidak lagi hendak meluaskan pandangan. Fokusnya hanya pada rasa yang sedang dialaminya, yaitu tidak merasakan apa-apa lagi apapun situasinya bagaimanapun kondisinya. Memang tidak akan selamanya, yang jelas sekarang sedang demikian.

Jadi bagaimana, ya terima saja. Rasa yang tidak ada rasa ini, ketidak-adaan rasa yang terjadi karena terlalu kuat rasanya. Rasa tertekan kaki karena terlalu lama duduk bersila dan tertahan karena terlalu berat badan yang ditumpu. Satu badan menumpu tiga jiwa serasa satu jiwa menumpu tiga badan. Berat, kesemutan, kebas. Lepaskan.

Ketidak menerimaan itu rasanya kesemutan hingga kebas, apalagi dengan beragam cara pembenaran melindungi diri dari narasi yang lain. Hanya ingin berkutat dalam narasi sendiri, baik berupa benteng ataupun labirin sama saja jadi beban. Bahkan yang perlindungannya dalam bentuk kelambatan bergerak karena menjaga jarak pun, membebani juga.

Jadi teringat kisah yang diceritakan seorang pertapa pejalan. Bahwa Zen adalah seperti seseorang yang berjalan membawa tas dengan beban berat di punggungnya, kemudian berhenti sejenak dan melepaskan gendongannya. Menaruhnya di sisi jalan, berhenti berjalan, lalu menarik napas dan menikmati kelepasan sejenak itu. Apatis yang penuh empati.

Kemudian, mengangkat tasnya lagi, menggendongnya lagi, melanjutkan perjalanan lagi. Kelepasan yang melegakan itu tidak akan pernah ada kalau tidak ada keterbebanan. Keterbebanan itu tidak akan pernah ada kalau tidak ada kelepasan yang melegakan. Keduanya saling mengadakan dan penerimaan yang aktif menerima kesadaran itulah puncak kemenyadaran.

Apapun definisinya, apapun teorinya, apapun pembetulan narasinya, apapun persoalan pemilihan kata dan istilahnya, apapun yang jadi bahasan pada aspek yang tidak esensial sehingga melebar kemana-mana, apapun suara hati siapapun, kesemutan ini sudah begitu melepaskan melegakan. Sehingga tidak ada lagi yang kedengaran selain suara kaki.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES513 Saksang Kapau, Kairos!

Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

leoamurist00
AtomicEssay

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat

Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

leoamurist00
AtomicEssay

AES511 Ākāra

Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…

leoamurist41