AES 24- Aku Ingin Hidup, Sungguh

Suatu pagi di taman baca Melek Huruf yang sepi, aku memutuskan untuk bertanya kepada Pak Cris, pemilik Melek Huruf dan atasan magangku:
“Pak, apa pernah terbayang ingin mendorong Melek Huruf ke arah komersil?”
Pertanyaan singkat itu, yang sebenarnya sekedar basa-basi karena aku juga bisa menebak jawabannya, segera meluas ke pembahasan mengenai visi hidup, definisi keberhasilan, hingga sampai ke sebuah pertanyaan yang aku takutkan:
“Kira-kira tujuan hidup kamu apa?”
Melek Huruf tidak dibangun untuk mengejar apa yang didefinisikan sebagai keberhasilan lewat kacamata konvensional. Alhasil, semua orang-orang di dalamnya, rekan-rekan kerjaku, pasti punya jawaban tentang apa yang ingin mereka raih, hidup apa yang mau mereka ukir. Hanya aku yang belum bisa menjawab dengan pasti. Aku masihlah angin lalu, kelana yang berkeliaran mencicipi aneka hidup, tak kunjung menemukan satu yang pantas diperjuangkan.
Ah, mau tidak mau aku harus menentukan bintang utara untuk menjadi panduan arah bergerak maju. Kalau tidak, aku akan mengapung membiarkan arus tahun demi tahun membawaku tanpa arah. Tapi mereka juga berpesan, tak bisa dilupakan pula kalau aku masihlah amat sangat muda, dan jawaban hidup untuk apa hanya bisa ditemukan lewat hidup. Jadi, haruskah aku cepat mendewasa atau menikmati waktu yang tersisa? Ah, rumit.
Kontradiksi tersebuat membuatku pusing; sebuah mikrokosmos untuk fakta yang akan semakin kentara dalam tahun aku beranjak dewasa: tiada cara yang benar atau salah dalam menjalani hidup. Hitam-putih, pilihan ganda, semua garis kepastian akan kian memudar kelabu seiring tahun yang berlalu. Dan kebebasan itu malah makin memperangkapku dalam kebingungan.
Kami punya sebuah kewajiban di akhir KPB untuk menentukan life-plan. Akumulasi pembelajaran tiga tahun, kami harus menentukan: siapa kami, apa yang bisa kami beri ke dunia, dan bagaimana cara membawakannya. Aku berharap, seiring waktu berlalu, kedewasaan akan membantu mengantarkanku ke jawabannya. Tapi yang ada malah terbalik, waktu malah membuat jawaban semakin jauh dariku.
Aku tak tahu. Semasa aku muda, begitu mudahnya menggantung mimpi di bintang sana, percaya aku bisa terbang menyongsongnya. Betapa pasti masa depanku tampak. Sekarang, hatiku semakin rendah menyadari keangkuhannya sendiri, benakku semakin bijak menyadari ketololannya sendiri. Sebuah kesombongan, berani bermimpi! Manakala dunia tengah terbolak-balik, atas jadi bawah dan benar jadi salah dalam progres tanpa henti, sedangkan aku sibuk mati dan terlahir kembali dan mati dan terlahir kembali dalam perjalanan tanpa henti mencari siapa aku. Bagaimana aku bisa menentukan mimpi di tengah puting-beliung ini? Bagaimana aku bisa bersinar dan berguna, saat mencoba mengapung saja semakin sulit dan sulit?
Tapi aku juga tahu, kebijakan bukanlah sekedar dekonstruksi, kemampuan membongkar dan menghancurkan. Kebijakan adalah rekonstruksi, kemampuan membangun fondasi yang lebih kokoh dari apa yang telah jatuh. Kontruksi, dekontruksi, rekonstruksi. Lewat diri yang makin dewasa, aku harus menggabungkannya dengan keberanian diriku yang lama. Tapi itu sulit, amat sangat sulit.
Sungguh, bagaimana kalian menyeimbangkan kenaifan dan kesinisan; adonan cinta-benci- apati ini?
Aku ingin hidup, sungguh. Aku tidak ingin menyerah. Aku ingin bisa tiba di sebuah dunia di mana aku bisa menjadi cemerlang dan bodoh. Aku ingin menjadi angin yang bebas, dengan tanggung jawab seorang anak dan daya seorang dewasa. Aku ingin dunia di mana aku bisa bebas menjadi aku, bebas dari tirani materi maupun adikroti. Dan untuk itu terjadi, aku harus mencoba membuat dunia tersebut dengan tangan sendiri, merebut hidupku dari rahang dunia.
Aku ingin hidup, sungguh. Aku hanya belum tahu bagaimana.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 23- Dua Minggu di Magelang, Dua Minggu Magang
Halo!!Sudah 5 bulan sejak terakhir aku menulis di Ririungan. Seharusnya, aku mencoba menulis dengan rutin, untuk membangun kebiasaan yang baik. Tapi kemalasan membuatku longgar memegang komitmen. Anggap ini sebagai upaya kedua.Sudah dua minggu aku menetap di Magelang, menjalani program magang. Seha…

AES22: Perjalanan Berangkat dan Hari-Hari Lambat
Tahukah kamu, mengapa perjalanan pulang terasa lebih cepat daripada berangkat? Itu karena fenomena psikologis yang disebut sebagai return trip effect, di mana otak kita sudah familiar dengan rute perjalanan sehingga tidak perlu bekerja keras memproses informasi baruPrinsip yang sama bekerja saat ki…

AES21- Hidup Untuk Hidup: Pemaknaan Film Perfect Days
Film Perfect Days merupakan film yang lambat, datar dan- bahkan- membosankan. Film itu bercerita mengenai keseharian seorang pembersih toilet sederhana bernama Hirayama saat dia bertugas membersihkan toilet dengan telaten, membantu orang-orang, dan berurusan dengan rekan kerja yang menyebalkan. Dia…
