AES 23- Dua Minggu di Magelang, Dua Minggu Magang

Halo!!
Sudah 5 bulan sejak terakhir aku menulis di Ririungan. Seharusnya, aku mencoba menulis dengan rutin, untuk membangun kebiasaan yang baik. Tapi kemalasan membuatku longgar memegang komitmen. Anggap ini sebagai upaya kedua.
Sudah dua minggu aku menetap di Magelang, menjalani program magang. Seharusnya, aku mengirim laporan setiap hari kerja, untuk menceritakan bagaimana proses pembelajaran kami. Tapi kesibukan membuatku lalai melakukannya. Anggap ini sebagai penebusan dosa.
Hidup jauh dari rumah, sendiri, membawa antusiasme tak terperi. Di balik dan tanggung jawab baru, datang sebuah kebebasan. Aku anak baru, kosong, tak dikenal. Siapa aku saat aku tak lagi terkekang perkara rutin maupun opini orang-orang? Aku bisa mencoba-coba menjadi siapa yang aku mau, karena tak ada yang sudah punya bayangan siapa aku di sini.
Sebagai latar belakang, aku magang di Melek Huruf, sebuah taman baca di Desa Candirejo, Magelang. Banyak sekali lalu-lalang aktivitas di sini dari beragam komunitas dan pengunjung antusias. Melek Huruf dikelola oleh Bu Nina dan Pak Cristian, yang pindah dari Jakarta untuk merintis taman baca ini. Bersama dengan dua karyawan dan aku si anak bawang, Melek Huruf diurus oleh kami berlima.
Untungnya, bangunannya memang agak kecil, dengan halaman rumput untuk membentangkan tikar kalau ada acara atau sampai kepenuhan. Tapi ukurannya yang kecil ini tidak membuat orang urung untuk datang beramai-ramai, terutama kalau sedang ada acara tertentu, seperti klub buku dan guest show yang menghadirkan figur-figur unik atau ternama di bidang literasi.
Aku tinggal di sebuah rumah besar di sebelah Melek Huruf yang dimiliki keluarga Bu Lis, dan tetangga Melek Huruf. Bu Lis bercerita, beliau sudah sering menerima tamu di rumahnya, bahkan sejak tahun 90-an. Beliau dan suaminya sudah pensiun, dan anak mereka sudah pada pergi kecuali anak bungsu mereka yang masih kuliah. Rumahnya besar dan sangat terbuka. Pintu-pintunya banyak. Aku curiga mereka tidak pernah mengunci rumah. Aku tak pernah lihat- selalu saja ada yang bangun sampai malam-malam, jadi aku tidak pernah melihat rumah mereka dikunci.
Kara, anak Bu Nina dan Pak Cristian, kerap bermain di rumah kami. Dia anak yang heboh dan selalu ingin ikut-ikutan. Pak Cris kerap membiarkannya melakukan sesuatu yang ringan supaya merasa dilibatkan. Tingkahnya sering menarik perhatian pengunjung dan mencairkan suasana.
Siang di sini panas dan terik. Saat malam, suara burung hantu bersahutan ramai. Di sini juga banyak serangga: bukan sekali-dua kali aku mendapati tawon atau semacamnya terbang di rumah. Pernah juga seekor biawak tersesat di Melek Huruf, menabrak kaca dalam panik. Kata Pak Kris, memang suka banyak hewan yang menyelinap masuk ke Melek Huruf, jadi kami harus rutin memeriksa jangan sampai ada penghuni gelap yang bersemayam di celah-celah meja. Kasihan.
Aku dikenalkan ke beragam pekerjaan di Melek Huruf. Aku rutin membantu menyiapkan dan membereskan perpustakaan setiap pagi dan sore. Aku mencoba membuat database. Aku belum mengambil pesanan di bar atau mengantar makanan/minuman, jadi aku awas mencari peralatan makan atau kursi meja yang bisa dibereskan. Aku paling senang kalau diperbolehkan mencuci gelas dan piring kotor. Tugasnya yang repetitif, sederhana, dan nyata menghibur pikiranku.
Besok, sepedaku akan disusulkan ke sini. Dengannya, aku akan berkeliling di kota Magelang. Aku tak sabar menyambangi beragam tempat: ada banyak museum seni atau sejarah yang dipromosikan Melek Huruf. Belum lagi, jalan Magelang yang landai dan sepi tampaknya asik untuk diputari dengan sepeda.
Sudah dua minggu berlalu. Dua minggu dari tiga bulan. Masih jauh perjalanan. Tapi ah, betapa cepat waktu berlalu. Aku berharap tiga bulan ini takkan tersia-sia.
Komentar (2)
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 24- Aku Ingin Hidup, Sungguh
Suatu pagi di taman baca Melek Huruf yang sepi, aku memutuskan untuk bertanya kepada Pak Cris, pemilik Melek Huruf dan atasan magangku:“Pak, apa pernah terbayang ingin mendorong Melek Huruf ke arah komersil?”Pertanyaan singkat itu, yang sebenarnya sekedar basa-basi karena aku juga bisa menebak jawa…

AES22: Perjalanan Berangkat dan Hari-Hari Lambat
Tahukah kamu, mengapa perjalanan pulang terasa lebih cepat daripada berangkat? Itu karena fenomena psikologis yang disebut sebagai return trip effect, di mana otak kita sudah familiar dengan rute perjalanan sehingga tidak perlu bekerja keras memproses informasi baruPrinsip yang sama bekerja saat ki…

AES21- Hidup Untuk Hidup: Pemaknaan Film Perfect Days
Film Perfect Days merupakan film yang lambat, datar dan- bahkan- membosankan. Film itu bercerita mengenai keseharian seorang pembersih toilet sederhana bernama Hirayama saat dia bertugas membersihkan toilet dengan telaten, membantu orang-orang, dan berurusan dengan rekan kerja yang menyebalkan. Dia…
