AtomicEssay

AES 391 Speak For Your-Self (teenage edge)

leoamuristpenulis arsip2

Saya menggunakan your-self (pakai strip '-') bukannya yourself (sebagai kesatuan) sebagai pengingat, bahwa sense of self adalah aspek fundamental dan bahwa self berbeda dengan personality. Karena sisi menghambat dari kebiasaan adalah superfisialitas, seakan mendalam padahal hanya di permukaan mengulang-ulang perkataan (lih. fase remaja awal). Bagaimana caranya melalui (bukan sekadar melewatinya) permukaan menuju kedalaman, tidak lain dengan menggunakan konsentrasi (lih. another heart).

Berhenti menginterupsi proses yang terjadi dalam diri remaja dengan menolak asumsi yang ia pergunakan. Bagi kita, itu bisa jadi masuk ke dalam kategori asumsi. Sedangkan untuk remaja, itu adalah kategori konklusi. Kita pernah ada di fase itu dan melalui, kemudian melampauinya sehingga kita mengerti apa itu asumsi dan bagaimana menggunakannya. Mereka, belum. Kalau kita interupsi proses itu, bisa jadi harapan kita mereka mengerti apa itu asumsi malah berbalik menjebak mereka di dalam delusi. Karena kepekaan itu kita matikan sebelum berkembang.

Biarkan mereka berfoya-foya dengan pemahamannya. Karena kalau tidak dengan pemahamannya mereka berfoya-foya, dengan badannya lah mereka melakukannya. Seperti melukai diri sendiri, eksploitasi badan, dan bentuk sejenisnya. Karena kekayaan pemahaman yang abstrak dibatasi, sedangkan dorongan untuk berfoya-foya mendesak, maka kekayaan badan yang dihabiskan. Kekayaan badan yang dimaksudkan di sini adalah kompleksitas biologis kita yang luar biasa kaya itu. Jelas mereka bisa mengeksploitasinya, karena badan biologis itu yang dibawanya kemana-mana.

Salah satu bentuk dampingan yang baik untuk kita lakukan adalah dengan langsung mengakomodasi (bukan fasilitasi) dua tahapan berikut.

1. Tiga langkah tahapan berpikir.
i) Apapun yang mereka nyatakan sebagai pemikirannya, biarkanlah itu masuk ke dalam kategori konklusi.
ii) Setelah semua konklusi-konklusi itu terkumpul, untuk masing-masingnya terapkanlah pengujian dengan berbagai perspektif bersama-sama dengan mereka.
iii) Bukan sebagai juri, bukan sebagai hakim, malahan sebagai teman dialog (bukan sekadar diskusi, dialog beda dengan diskusi) kita mengakomodasi proses pengujian sampai kepada potensi pembentukan konsep orisinal remaja itu. Kemudian pada tahap pembentukan konsep orisinal ini, biarkan remaja itu sendiri yang menentukan dan menetapkannya.

2. Satu langkah tahapan beraksi.
Ketetapan yang sudah dibuatnya sendiri perlu ditindak lanjuti. Barulah di sini kita memfasilitasi mereka menemukan langkah-langkah yang paling pas. Tidak terlalu mudah dan tidak terlalu susah. Seperti berada dalam kondisi kritis yang masih bisa dilalui, seperti peregangan otot hamstring (paha belakang). Temukan rasa sakit yang masih mampu ditoleransi dan tahan selama durasi tertentu. Konsistensi kan soal menambah durasi ketahanan melakukan hal tertentu, bukan pada melakukan hal tertentu yang itu-itu melulu (ini sih stagnasi bukan konsistensi). Paradoksnya, semakin lama daya tahan kita melakukan sesuatu itu semakin sebentar waktu yang kita perlukan untuk melakukannya (efisiensi).

Proses ini adalah pengantar untuk masuk ke langkah selanjutnya dari fase remaja. Yaitu fase silang arus integritas dan liberasi. Kedua hal ini seakan bertolak belakang, integritas didapatkan dari pengekangan diri sedangkan liberasi dari pelepasan diri. Inilah yang dimaksud dengan sisi paradoks dari fase antara/remaja. Seperti, cara untuk kenyang adalah dengan makan lebih sedikit. Karena semakin banyak makan, semakin lapar jadinya. (Lih. disiplin & dopamin)

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES513 Saksang Kapau, Kairos!

Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

leoamurist00
AtomicEssay

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat

Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

leoamurist00
AtomicEssay

AES511 Ākāra

Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…

leoamurist41