AES 88 Writing

Beberapa hari ini saya tenggelam dalam kesibukan di tempat kerja. Ritme yang selama satu setengah tahun yang barusan dilewati tiba-tiba berubah drastis. Hampir 3 hari terkahir saya harus bekejar-kejaran dengan waktu dan tumpukan pekerjaan yang menggunung. Situasi ini membuat kebiasaan menulis saya yang menjelang bulan ke-3 ini agak terganggu, bukannya saya tidak mau, keinginan menulis itu tidak pernah padam karena banyak sekali keuntungan yang saya peroleh dari menciptakan kebiasaan baru ini. Ini saya jadikan sebuah tantangan!
Setiap hari merupakan kesempatan yang sangat besar untuk mencoba sesuatu yang baru, belajar sesuatu yang baru. Berusaha mendorong diri sendiri untuk melihat kemampuan pribadi dengan wawasan, horison yang lebih luas. Dan hal-hal yang saya lihat, alami dan pikirkan berusaha diungkapkan dalam sebuah tulisan. Mulai dari yang sangat sederhana hingga mungkin yang jauh lebih kompleks.
Menulis buat saya itu seperti brain exercise. Banyak hal-hal kecil yang saya alami dalam keseharian menjadi trigger untuk mempelajari sesuatu. Seperti misalnya kalau saya membaca banyak komentar orang-orang tentang sebuah berita politik atau hal-hal lain yang beredar di masyarakat, kadang saya tidak habis pikir mengapa orang-orang begitu ngotot untuk berusaha mempertahankan pendapatnya walau jika seandainya menggunakan sedikit akal sehat, jelas-jelas pendapatnya itu tidak akurat. Dari situasi ini saya lalu belajar apa yang disebut dengan bias konfirmasi. Daripada saya ikut terjun dalam perdebatan yang tidak ada ujunglah lebih baik saya berusaha mempelajari mengapa situasi ini terus menerus terjadi.
Satu contoh lain misalnya kok saya bisa dengan sembrono mengetuk jendela tanpa lebih dulu memperhatikan secara lebih jelas apakah yang duduk di dalam itu benar-benar anak saya. Saya belajar bahwa otak manusia memang diciptakan untuk membuat sebuah asumsi, tugas saya adalah mengumpulkan serta memfilter segala data sampel yang digunakan untuk membuat asumsi yang akurat. Saya belajar bahwa dengan sampel yang tidak cukup dan tidak akurat, asumsi yang dibentuk menjadi salah besar. Sebuah pristiwa kecil dan sederhana yang membuat saya lebih mawas diri untuk bertindak dengan lebih bijak dan tidak sembrono.
Masih banyak lagi hal-hal lain yang bisa diungkapkan, yang jelas setiap peristiwa, menurut saya, bisa kemudian dikembangkan menjadi sesuatu yang dapat dipelajari, lalu kemudian ditulis. Nah jadi menulis itu sebetulnya hanya sebagai pemicu untuk membuat otak kita terus menerus menganalisa segala macam peristiwa, kita dipicu untuk semakin jeli menangkap banyak hal di sekeliling kita. Sama seperti misalnya bernapas atau mendengar. Bernapas menjadi sebuah kegiatan yang otomatis kita lakukan tanpa kita sadari, demikian pula mendengar. Tapi ketika kita hening bermeditasi, kita kemudian menyadari bahwa banyak hal yang terjadi ketika bernapas, banyak suara yang dapat kita dengarkan yang tidak kita sadari. Nah, menulis seperti bermeditasi, kita jedah sejenak, melihat sekeliling kita, peka terhadap segala sesuatu yang kita alami, lalu kita sadar bahwa banyak yang bisa kita tangkap.***
Komentar (1)
Sama, Pak Jo. Saya beberapa hari belakangan juga bolong-bolong di AES. Semoga bisa segera bagus lagi ritme menulis saya nih.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 72 Something Precious
Satu hal yang saya rasakan dalam usaha mentuntaskan kegiatan menulis setiap hari adalah berusaha untuk selalu jeli melihat segala sesuatu, melatih kepekaan, dan selalu berusaha terbuka menyerap banyak hal. Ini sama sekali tidak mudah! Sama seperti fotografer, tidak semua orang punya bakat untuk "me…
joefelus54
AES223 Mengenal Diri, Kenapa Sulit?
Hari ini mendapatkan pesan WA dari seorang kakak Smipa yang telah selesai berproses di semester pertamanya di Semi Palar. Saya tidak akan menuliskan apa yang disampaikannya, tapi intinya, satu semester ini adalah penggalan waktu yang penuh keajaiban, karena dalam prosesnya ia merasa dibawa dan mend…

AES29 Kucing, Burung dan Laba-laba
Seorang teman pernah bercerita mengenai kucing-kucing yang terpaksa tidak mendapatkan supply makanan karena satu dan lain hal. Kucing itu terdiri dari induk dan anak-anaknya yang masih kecil sehingga belum bisa mencari makan sendiri. Hal menakjubkan terjadi di hari itu, seekor anak burung yang seda…
