AES014 Ruang Untuk Raung Jiwa

Aku pikir belakangan ini, aku malah lebih akrab dengan hujan daripada dengan manusia, ia datang pada saat sore hari, kadang memelukku menuju lelapnya tidur. Awal tahun ini penuh cerita, kisah dan pelajaran bagi aku sendiri, dan jujur saja kepalaku sekarang terasa penuh, banyak hal yang harus aku cari tahu, tetapi aku tidak pernah berpikir untuk mencari tahu kembali tentang diri sendiri. Suara hujan diluar rumahku masih terdengar deras, seirama dengan suara ketikan laptop, dan detak jantungku, ku tuliskan semua keresahan yang ada pada dalam diriku ini. Berupaya untuk mempurifikasi apa yang ada dalam hati pikiran dan jiwa. Terima kasih hujan, rintikmu membuat hatiku semakin sedu, merenungkan berbagai hal yang tidak mungkin untuk menjadi kenyataan, tapi tidak mengapa, aku sangat bersyukur hujan, aku sangat bersyukur kau datang kali ini, menemani malamku yang kian ngeri sepanjang hari.
Sebenarnya aku sangat semangat untuk menuliskan puisi per hari ini, namun aku terlalu bimbang harus menuliskan puisi seperti apa, lantas aku berpikir, mungkin tulisan dan renungan serta suara hujan yang begitu riuhnya itu adalah bentuk puisi juga. Aku ingin mengucapkan kalimat-kalimat indah untuk kedua orang tuaku, kalimat seperti "Ayah Ibu, minggu depan kita makan ke restoran". Namun itu masih menjadi kalimat yang berat untuk aku ucapkan. Aku pikir aku senang untuk menulis sekarang, tidak peduli tulisannya seperti apa, yang penting aku menulis saja sudah membuat aku senang. Kadang manusia mempunyai kapasitas untuk mendengarkan keluh kesahku, semoga ruang ini bisa menjadi obat untuk raung jiwaku.
Kata Pramoedya Ananta Toer, menulis itu adalah bekerja untuk keabadian, aku pun sepakat mengenai hal tersebut. Karena jujur aku bingung menulis apa hari ini, dan pada akhirnya aku menulis apa yang dekat denganku saja. Mungkin dalam renungan pasti ada pelajaran. Dan tulisan ini akan tercatat, dan terekam, akan dibaca oleh diriku nanti di masa depan, seoalh-olah aku berdialog menembus ruang dan waktu.
Aku peduli terhadap kaidah penulisan seperti apa, tata bahasa yang tertata seperti apa, serta diksi yang menarik itu harus seperti apa, namun aku lebih peduli lagi terhadap kata-kata yang disusun rapih oleh perasaan batin dan hati. Karena ide yang telah kita tulis juga sudah terlepas dari diri kita sendiri. Semua juga ada mediumnya, dan semua juga punya nilainya masing-masing. Yang aku yakini sekarang adalah menulis itu ibarat menyelami diri dan berdialog dengan alam bawah sadar. Keyboard ini bisa menjadi katalisator antara pikiran dan isi hatiku, aku sedang menyelaraskannya sekarang.
Semoga semua manusia atau individu bisa mempunyai ruang nyaman untuk mencurahkan segala raung dalam jiwanya.
Bandung 27 Februari 2025
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:
AES 052 Last Dance
Judulnya memang terdengar sangat sinematik ya, hahaha. Tapi entah kenapa judul itu tiba-tiba terlintas di kepalaku. Tahu tidak kapan aku memikirkannya? Saat bermain bebentengan bersama Teman Tuma dan orang tua mereka. Aura perpisahan sebenarnya tidak terlalu terasa. Namun entah kenapa, saat aku mel…
Rizalk4711AES 051 Barangkali Memang Harus Seperti itu
Tidak terasa sudah hampir satu tahun Kak Rizal membersamai Teman Tuma. Segala bentuk rasa menemani isi hati Kak Rizal selama satu tahun belakangan ini. Kak Rizal jadi semakin tahu bagaimana menjadi manusia seutuhnya, meskipun sampai kapan pun rasanya manusia tidak akan pernah benar-benar genap. Sel…
Rizalk4770
AES050 Menjadi Petugas Upacara
(Gambar diambil dari kamera hapenya Kak Anzel) "Tidak pernah terpikirkan" Itulah kalimat yang pertama kali terlintas ketika aku mengetahui bahwa aku akan menjadi pemimpin upacara. Nampaknya, tanggal 17 Juli 2025 akan menjadi tanggal yang berkesan bagi diriku. Setelah libur panjang, tentu saja kami,…
Rizalk4740