AES019 Marlon Brando

Dia adalah sosok yang aku kagumi sebagai manusia maupun aktor. Pertama kali jatuh cinta kepada skill akting seorang marlon brando, disaat dia memerankan Don Vito Corleone dalam film yang bertajuk "The Godfather". Dan besar sekali pengaruh dia kepada diriku, khususnya dalam dunia akting. Aku mulai tertarik untuk berakting pada tahun 2019 membawakan naskah pagi bening, dan memerankan sebagai kakek-kakek. Suaraku harus serak dan posturku bungkuk, itu adalah debutku menjadi aktor, dan pada saat itu aku menjadi sangat menyukai akting. Aku pikir akting itu adalah cara aku menyalurkan keresahan serta emosiku, dan mempunyai dunia yang baru, memerankan seseorang yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Namun hobi hanyalah hobi, sebenarnya menjadi aktor itu bukan sekedar hobi bagiku, tapi lebih dari itu, mimpi. Dan jujur aku bingung apakah aku bisa melanjutkan menjadi aktor? atau hidup realistis saja mengejar materi. Dan sudah pasti aku akan mengejar materi, karena menjadi aktor teater tidak dibayar (tetapi aku sangat menyukainya). Terakhir kali aku tampil pada tahun kemarin memerankan seorang bapak, dan diberikan kesempatan untuk tampil di teater utan kayu Jakarta Timur. Sungguh pengalaman yang sangat luar biasa, selama perjalanan berproses bercampur tawa, tidak merasa tertekan sama sekali. Aku pikir langkah-langkah kecilku ini akan berbuah suatu saat nanti. Aku tidak berhenti berteater, aku hanya rehat dulu saja, menyiapkan diriku menjadi versi lebih baik, khususnya dalam segi materi.
Untuk Marlon Brando, walaupun dia sudah meninggal pada tahun 2004, tapi karya-karyanya dan pemikirannya sangat berkesan bagiku. Terima kasih Marlon Brando, aku harap aku bisa menjadi aktor terbaik setidaknya untuk diriku sendiri. Dan impian aku yang paling dekat, aku ingin bisa memainkan drama musikal.
Pengalaman paling lucu ketika aku berakting adalah pada tahun 2019, disaat aku harus memerankan menjadi pria gemulai, aku harus di make up begitu tebalnya menyerupai wanita, dan kebetulan rambut ku bondol pada saat itu. Selesa pementasan, make up ku tidak dihapus, dan aku diberikan uang untuk membeli penghapus make up. Aku membeli ke indomaret terdekat, dan kasirnya cowo, dia terlihat takut ketika melihat wajahku, mungkin lebih ke geli kayanyan. Dan aku pulang ke rumah, lalu ibu menanyakan apa mendapatkan uang?, aku hanya menjawab, uangnya aku belikan penghapus make up bu.
Mungkin aku bisa saja naif, dan terlalu berkhayal. Tapi aku masih menyimpan mimpi ini dan akan aku selalu simpan erat-erat, untuk siapa saja, jangan lupakan mimpi kalian, bagiku agar lebih berarti dalam menjalani hidup yaitu mengejar mimpi. Mimpiku belum gagal sama sekali, ia hanya rehat sejenak, menunggu waktu tepat untuk dijadikan kenyataan.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:
AES 052 Last Dance
Judulnya memang terdengar sangat sinematik ya, hahaha. Tapi entah kenapa judul itu tiba-tiba terlintas di kepalaku. Tahu tidak kapan aku memikirkannya? Saat bermain bebentengan bersama Teman Tuma dan orang tua mereka. Aura perpisahan sebenarnya tidak terlalu terasa. Namun entah kenapa, saat aku mel…
Rizalk4711AES 051 Barangkali Memang Harus Seperti itu
Tidak terasa sudah hampir satu tahun Kak Rizal membersamai Teman Tuma. Segala bentuk rasa menemani isi hati Kak Rizal selama satu tahun belakangan ini. Kak Rizal jadi semakin tahu bagaimana menjadi manusia seutuhnya, meskipun sampai kapan pun rasanya manusia tidak akan pernah benar-benar genap. Sel…
Rizalk4770
AES050 Menjadi Petugas Upacara
(Gambar diambil dari kamera hapenya Kak Anzel) "Tidak pernah terpikirkan" Itulah kalimat yang pertama kali terlintas ketika aku mengetahui bahwa aku akan menjadi pemimpin upacara. Nampaknya, tanggal 17 Juli 2025 akan menjadi tanggal yang berkesan bagi diriku. Setelah libur panjang, tentu saja kami,…
Rizalk4740