AES02 GUNUNG, 'Guru Nu aguNG, Guru Nu LuhuNG'

Diki Muhammad Noorpenulis arsip2

Teman-teman yang tinggal di Bandung diberi nikmat yang lebih untuk menikmati gunung setiap hari. Hanya sekedar memandangnya sambil perjalanan ke tempat kerja atau bahkan menyempatkan diri untuk menyapanya lebih dekat. Selalu ada perasaan yang timbul saat melihat atau menyapa gunung lebih dekat, dari mulai perasaan sedih, khawatir, bahagia, kagum, dll. Tapi saya terkadang lupa, hanya kagum sama gunungnya, tapi luput gak langsung kagum dan memuji sama penciptaNya. 

Nama gunung sangat lekat dengan aktifitas alam terbuka. Oleh karena itu, saya mulai senang dan dekat dengan gunung ketika jadi fasilitator pendidikan non formal di salah satu lembaga swasta. Gunung dengan segala potensi di dalamnya memang menyediakan banyak hal untuk dipelajari, baik dalam rangka mendidik diri maupun orang lain. Gunung dengan kejujurannya tanpa membedakan satu sama lain menjadi salah satu tempat terbaik untuk berproses dan bertumbuh. Tempat untuk menempa diri dari sisi keilmuan, sisi fisik, maupun hati/spiritual agar lebih bijak dalam menyikapi banyak hal, terutama dalam bermasyarakat. Namun terkadang kita lupa diri, dengan dalih belajar, pendidikan, atau hanya sekedar rekreasi dengan suka hati mendatangi atau mengeksplorasi gunung. Padahal sebetulnya beberapa wilayah gunung mempunyai batasan-batasan tertentu, atau kita dengan sadar yang membatasi diri. Hal ini sebetulnya sudah ada dalam salah satu nilai kearifan lokal sunda yang sampai saat ini dipegang teguh oleh beberapa masyarakat adat. Misalnya saja nilai karifan lokal tentang pembagian wilayah kawasan hutan, yang terdiri dari Leuweung Larangan, Leuweung Tutupan, dan Leuweung Baladahan. Hal ini tentu membawa pengaruh besar dalam kelesatarian kawasan di wilayah kampung adat yang masih memegang teguh nilai tersebut, air yang melimpah, pohon yang tumbuh subur, dan binatang-binatang lain yang berpengaruh terhadap kelesatarian hutan bisa hidup dengan damai. Dengan kondisi tersebut tentu manusianya juga lah yang akan merasakan kebaikannya. 

Gunung dengan segala keistimewaannya tentu perlu kita perlakukan bukan hanya sebatas objek tapi lebih dari itu. Subjek yang banyak menyediakan ilmu, subjek yang pernah ditawari sebagai khalifah namun menolak hingga akhirnya manusialah yang memegang amanah tersebut, subjek yang didalamnya banyak materi yang terus berdzikir kepadaNya dan banyak lagi keistimewaan-keistimewaan lain.

Teman teman punya pemahaman atau pengalaman menarik apa nih tentang gunung?

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES952 Lagi tentang Udunan

Entah kenapa kata Udunan ini sedang kerap sekali muncul dalam pikiranku, akhir-akhir ini. Dan ya siang tadi sempat berbincang dengan beberapa rekan tentang Udunan ini. Semakin didalami, konsep Udunan ini semakin memikat hati. Lebih jauh, Udunan ini sepertinya bisa jadi salah satu kata kunci tentang…

Andy Sutioso01
AtomicEssay

AES123 - Menghidupkan Pranoto Mongso

Waktu aku membuat proyekku di semester lalu tentang kalender dan persepsi waktu, aku sedikit-sedikit mendengar tentang Pranoto Mongso, sistem perhitungan kalender tani di Jawa. Bagan yang kutemukan di internet berbentuk layangan jungkir balik dengan bulatan di tengah. Waktu itu, aku tidak mempelaja…

Ara Djati33