AtomicEssay

AES123 - Menghidupkan Pranoto Mongso

Ara Djatipenulis arsip2

Waktu aku membuat proyekku di semester lalu tentang kalender dan persepsi waktu, aku sedikit-sedikit mendengar tentang Pranoto Mongso, sistem perhitungan kalender tani di Jawa. Bagan yang kutemukan di internet berbentuk layangan jungkir balik dengan bulatan di tengah. Waktu itu, aku tidak mempelajarinya terlalu dalam — tidak begitu banyak pula sumber yang kutemukan — dan aku hanya menyalin sekedarnya. Tapi kutemukan bahwa ini memang sesuatu yang menarik, dan aku berniat mempelajarinya lebih dalam di nanti hari.

Salah satu rumah di kampung Mbak Siska memampangkan sebuah tabel di dinding luarnya, dicetak di atas spanduk. Tabel ini menarik mataku: berjudul PRANOTO MONGSO JANGKEP. Aku tidak sepenuhnya paham isi-isinya, tapi Mas Pandji yang mendampingi kami menjelaskan sedikit tentang bagian-bagian dari tabel itu dan sedikit terjemahan bahasanya.

Katanya, Pranoto Mongso sudah tidak begitu akurat sekarang, dengan adanya perubahan iklim dan pola cuaca. Sebenarnya, bisa saja kita membuat lagi Pranoto Mongso yang baru. Kita harus rajin mencatat dan mengamati pola. Begitulah yang dilakukan orang Jawa kuno dulu yang menyusun ini. Sayangnya, metode-metode pengamatan dan pencatatan mereka telah hilang tertelan waktu, dan kita jadi lupa cara mereplikasikannya.

Jaman dulu, orang memang suka mencatat. Aku ingat pernah mengobrol dengan seorang kenalan yang mendalami sejarah Tionghoa dan buku I Ching, pedoman dari berbagai hitung-hitungan Tionghoa. Dia bilang, orang Tionghoa memang hobi mencatat. Yang waktu itu kurang terpikirkan olehku, orang Jawa juga punya banyak hitung-hitungan. Kata Pak Sam, untuk memotong bambu petung kerangka rumah pun, ada hitungannya untuk mencari waktu paling ideal. Orangtuaku pun memutuskan tanggal menikah dengan hitungan Jawa.

Orang Jawa, dan banyak bangsa lainnya di nusantara dan selepasnya, sebenarnya sangat pintar, dengan kearifan lokal yang kaya dan mendalam. Hanya saja, berbagai hal membuat kita lupa. Kolonialisasi terutama memutuskan banyak hal bagi masa depan kearifan-kearifan lokal itu. Tugas kita sekarang adalah mencari, mencatat, sedapat mungkin menghidupkan kembali.

Komentar (3)

Andy Sutioso

Temuannya keren ini Ara

mmatheusaribowo

Ilmu titen, niteni (mengamati, membaca, dan mengingat pola). Ada di jawa dan sunda. Ini bahasan menarik, sempat jadi salah satu karya yang dibawakan di Artjog 2024 oleh seorang perupa Pak Subandi Giyanto. Pranata Mangsa dan Pawukon (Wuku).

Ara Djati

wah, menarik kak! nanti aku coba cari tahu lebih lanjut

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES122 - Privilese Untuk Melambat

Ketika kami ke tempat Mbak Siska, dia bercerita banyak sekali soal proses di balik Pasar Papringan dan soal kehidupan di kampung. Katanya, yang namanya "slow living" itu hanya bisa dinikmati oleh orang-orang berprivilese. Kenyataannya, di desa, orang-orang sibuk. Mereka bangun subuh dan tidur malam…

Ara Djati73
AtomicEssay

AES125 - Revitalisasi yang Sesungguhnya

Mas Yudhi datang menjemput kami naik mobil, jam dua kurang sore kemarin. Sepanjang perjalanan, dia bercerita tentang Spedagi dan ogoh-ogoh yang ada di samping jalan dan tentang Pak Singgih. Dia bercerita tentang bagaimana Pak Singgih terus-menerus mencoba membuat prototipe sepeda bambu, meski gagal…

Ara Djati62
AtomicEssay

AES124 - Mengenai Sampah

Sudah dua minggu penjelajahan, mengurus rumah dan membagi tugas antara kami berenam saja. Mulai terlihat betapa segala hal yang kami lakukan ada dampaknya. Harus rajin mencuci baju, kalau tidak akan repot mencari tempat di jemuran. Senang sekali rasanya lihat banyak jemuran kering. Harus segera man…

Ara Djati51