AES023 Gelap

(Henry Fonda dalam Grapes of Wrath 1940)
Sore hari ini aku baru saja membaca tulisan yang menjelaskan analogi lilin dan penerapannya pada kehidupan secara general, kebermanfaatannya dll. Dan aku sangat sepakat bahwa sekecil nyala lilin bisa memberikan cahaya pada satu ruangan secara penuh walau masih sedikit redup. Dan ditulisan ini aku jadi ingin menuliskan tentang nyala lilin.
Pada satu ruangan yang gelap tidak terlihat apapun, dan dinyalakanlah satu lilin, yang berdiri tegak diatas meja antik. Maka ruangan itu seketika menjadi terang. Namun apakah kita akan mengetahui makna terang apabila tidak ada gelap?. Mari kita bicarakan soal ini, karena aku ingin mengulas perspektif dari sudut pandang yang berbeda. Penilaian "baik" bisa dikatakan "baik" karena kita telah mengetahui "jahat". Jadi apakah kita akan mengetahui itu "terang" apabila tidak mengetahui "gelap" sebelumnya. Tentu saja terang akan ada apabila tidak ada gelap, namun tanpa gelap kita tidak akan pernah mengenali apa itu terang. Justru menurutku dalam gelap akan muncul lilin-lilin baru, "waduh ruangan ini terlalu gelap" (bess) fx:suara api, lalu muncullah terang lilin-lilin baru yang merasakan keresahan sama bahwa ruangan ini sudah terlalu gelap. Bagi aku kegelapan akan membawa pada suatu perubahan keinginan dan tekad untuk merubah hal yang dirasa batil bagi kita. Kita butuh kegelapan seperti kegelapan butuh kita untuk meneranginnya.
Keseimbangan antara baik dan jahat, nah bagi aku itu diperlukan, bayangkan bila semua orang jahat, dunia ini hancur, bayangkan bila semua orang baik, ga usah dibayangkan sih tidak mungkin juga. Dualitas ini bagi aku perlu, karena gelap (jahat) cenderung memantik nyala (baik). Hidup itu kan pilihan yah, jadi tinggal pilih saja mau jadi gelap atau mau menjadi terang. Namun itu tetap point yang ingin aku sampaikan adalah tentang bagaimana konsep dualitas di bumi ini sangat diperlukan, mengapa demikian? karena bagi aku memang harus berjalan seperti itu, realitas yang pahit. Tidak akan ada Napoleon Bonaparte apabila tidak ada Raja Louis XV, tidak akan ada Soekarno apabila tidak ada Belanda. Nah itu, maksud aku pemaknaan terhadap terang tidak terlepas dari kegelapan karena memantik "nyala lilin" itu sendiri.
Jadi pada akhirnya konsep dualitas ini tidak bisa kita tinggalkan, itu menurutku, namun yang menjadi pertanyaan apakah konsep dualitas ini bisa kita tinggalkan? Apakah kita benar-benar butuh gelap untuk lebih memaknai terang?. Aku akan memberikan satu cerita secara singkat, ada seorang tokoh yang hidup tanpa penderitaan (gelap), dia besar di istana disana dan suatu hari ia keluar dari istana itu, melihat banyak orang menderita, dan merasa aneh, ia bertanya "mengapa orang itu?" nah pelayannya menjawab "dia sakit tuan?" pemuda itu menjawab "sakit itu apa?". Pemuda itu tidak mengetahui kalau manusia itu bisa sakit, karena dia tidak tahu dan hidup dalam kekayaan yang berlimpah (nyaman). Nah dari cerita tadi yang bisa aku simpulkan konsep dualitas ini bisa menjadi penyeimbang antara dua makna yang sangat berbeda.
Analalogi dari nyala lilin yang menurutku ada kata "nyala" itu berdasar dari kata "gelap". Mari bermain analogi kembali, bagaimana jika gelapnya bukan satu ruangan, tapi gelapnya satu negara nah itu bagaimana?. Susah dong kalau hanya satu nyala lilin saja, susah yah?. Bayangkan satu negara gelap, tak tau bentuk jalan seperti apa, tak tau bensin pertalite dan pertamax bedanya bagaimana karena saking gelapnya loh. Aduuh susah kalau cuman satu lilin. Kayanya harus banyak lilin-lilin yang banyak, yang apinya bukan hanya menerangi gelap, tapi membakar segala kedzaliman yang membuat satu negara menjadi gelap. Aku akan mengambil kutipan dari Tom Joads dalam film yang bertajuk Grapes Of Wrath "Fella ain't gotta a soul in his own body, just a little piace of a big soul, the one big soul that belongs to everybody".
Mari bersatu menjadi lilin yang lebih memaknai gelap. Jangan diam nyalakan apimu
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:
AES 052 Last Dance
Judulnya memang terdengar sangat sinematik ya, hahaha. Tapi entah kenapa judul itu tiba-tiba terlintas di kepalaku. Tahu tidak kapan aku memikirkannya? Saat bermain bebentengan bersama Teman Tuma dan orang tua mereka. Aura perpisahan sebenarnya tidak terlalu terasa. Namun entah kenapa, saat aku mel…
Rizalk4711AES 051 Barangkali Memang Harus Seperti itu
Tidak terasa sudah hampir satu tahun Kak Rizal membersamai Teman Tuma. Segala bentuk rasa menemani isi hati Kak Rizal selama satu tahun belakangan ini. Kak Rizal jadi semakin tahu bagaimana menjadi manusia seutuhnya, meskipun sampai kapan pun rasanya manusia tidak akan pernah benar-benar genap. Sel…
Rizalk4770
AES050 Menjadi Petugas Upacara
(Gambar diambil dari kamera hapenya Kak Anzel) "Tidak pernah terpikirkan" Itulah kalimat yang pertama kali terlintas ketika aku mengetahui bahwa aku akan menjadi pemimpin upacara. Nampaknya, tanggal 17 Juli 2025 akan menjadi tanggal yang berkesan bagi diriku. Setelah libur panjang, tentu saja kami,…
Rizalk4740