AES05 Belajar Tradisi Dari Film "Tiga Dara (1957)"

Aku pernah mengikuti komunitas "LayarKita", yaitu komunitas pencinta film, seni, dan budaya. Aku ikut menonton film yang berjudul "Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982)" dan "Badai Pasti Berlalu (1977)". Setelah menonton film-film tersebut, aku baru sadar bahwa aku belum begitu banyak menonton film-film jadul Indonesia. Padahal menonton film jadul itu hobi aku banget, tapi selama ini aku hanya menonton film jadul Hollywood. Kebetulan aku menemukan film “Tiga Dara (1957)” di Netflix. Apalagi ini film musikal, jadi aku langsung penasaran dan cepat-cepat menontonnya.
Selama aku menonton film "Tiga Dara" ini, aku menyadari, kok isu di dalam film ini masih bisa relevan ya sama kejadian di masa kini. Mengingat film ini merupakan film hitam-putih yang menceritakan kisah dekade 1950-an. Seperti, ada banyak beban yang ditanggung oleh anak sulung, terutama jika orangtua mereka sudah tidak lengkap. Wanita yang mendekati usia 30-an sudah sering diburu-buru oleh keluarga dan orang sekitar buat menikah. Untuk posisi adik, konsep “melangkahi” kakak juga masih dianggap tabu oleh banyak keluarga di Indonesia. Ada adik-adik yang dilanda kegalauan karena mereka sudah siap menikah, tetapi kakak mereka masih jomblo. Beberapa keluarga bahkan berpikir kalau ini pamali.
Akhir film ini memang menjadi pelajaran berharga. Pada akhirnya orang tua dan keluarga terbuka pemikirannya bahwa kesiapan pernikahan bukan karena sudah cukupnya umur, tapi banyak faktor dan yang terpenting, "Apakah memang itu pilihan hidup dan keinginan anaknya?"
Komentar (1)
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES176 Perfect Days: Bagaimana Cara Mencintai Kesederhanaan?
Baru-baru ini aku nonton Perfect Days karya Wim Wenders, dan rasanya langsung nyambung banget sama pengalaman nonton Taste of Cherry dari Abbas Kiarostami. Keduanya bisa dibilang “slow cinema” murni, tapi punya rasa yang kontras meski sama-sama minimalis. Taste of Cherry terasa lebih gelap dan filo…

AES116 - Komorebi
Hirayama adalah seorang lelaki paruh baya yang menjalani hari dengan rutin sederhana sebagai pembersih toilet umum di Tokyo. Tiap pagi dia bangun, menyiram tanaman, mengenakan seragamnya, melepaskan jam tangannya. Dia keluar, tidak mengunci pintu rumahnya, membeli kopi dari vending machine, dan men…

AES044_Hirayama-san
Halo, sudah lama sekali aku tidak menulis di Ririungan. Kalau tidak salah terakhir kali aku menulis itu tentang kondisi Indonesia tahun lalu saat kacau, banyak demo dimana-mana, intinya kacau deh. Sayang sekali aku akan jarang menulis sekarang, karena jadwalku semakin padat semakin bertambah usia,…



