AES05 - Buku Harian, Map Merah dan Tonggeret Aneh

[repost dari ning, 1 Juli 2021]
Tadi siang, aku melihat-lihat berbagai notes yang kuisi ketika masih kecil. Ada banyak sekali notes dan buku tulis. Ada yang berisi cerita, ada yang berisi gambar, ada yang berisi misteri. Tapi yang kulihat adalah buku harian.
Halaman pertama buku harian ini berisi gambar. Tanggalnya 22-12-13, aku saat itu hampir berumur lima tahun. Karena belum bisa banyak menulis, aku menggambar pengalamanku saat liburan. Halaman-halaman berikutnya juga berisi penceritaan hari itu, melalui gambar.
Isian pertama yang berupa tulisan bertanggal ‘Selasa, 15 September 2015’. Setelah tanggal itu, aku mulai lebih sering menulis dalam buku harian itu, hingga tanggal 6 November 2016, hampir dari setengah buku terisi. Tulisan 6 November ini merupakan tulisan terakhir dalam buku itu. Aku sering membaca kembali beberapa tulisanku, sambil tertawa sendiri. Aku kadang masih ingat kejadian-kejadian yang kutulis di situ, kadang lupa-lupa. Cerita-cerita itu lucu dan polos, ditulis berantakan dengan pensil.
Di sudut kanan bawah tiap lembar dalam buku, ada nomor halaman dengan angka yang terbalik-balik. Dulu, ketika berumur sekitar lima tahun, kutuliskan satu persatu nomor halaman ini. Ketika melihatku, ayahku heran.
“Jangan berhitung terus, Nak. Nanti ubanan, kayak bapak tua di kartun tadi [yang ayahku maksud adalah film kartun Rupert Bear].”
Tentu saja Ayah waktu itu hanya bercanda, tapi aku memercayainya. Dengan ketakutan, aku memutuskan untuk membatasi hanya menulis lima lembar nomor halaman setiap harinya.
Salah satu tulisan yang menurutku agak lucu ditulis pada tanggal 17 September 2015, menceritakan tentang rutinitas soreku menulis di buku harian.
“Setiap setelah mandi aku suka menulis di sini. Setelah menulis ini aku akan langsung mengerjakan tantanganku yang ada di dalam map merah. Map merahku adalah tempat untuk menyimpan tantangan yang susah dan yang gampang, yang asik dan yang membosankan.”
9188007687?profile=RESIZE_710x
Aku juga memiliki notes tersendiri yang kusebut ‘Notes Detektif Ara’. Ini adalah kumpulan misteri kecil yang kutemui sehari-hari. Jaman-jaman ini, ketika aku ada di SD 2, aku sedang asyik-asyiknya membaca Lima Sekawan karya Enid Blyton (Timmy, George, Julian, Anne dan Dick—bukan Jack, Om Jo. Hehe). Sepertinya inilah yang menyebabkan adanya notes misteri. Mulai dari ‘Misteri Tonggeret Aneh’ (tonggeret yang keluar dari kulitnya dengan warna hijau—padahal itu hal normal yang memang terjadi) hingga ‘Misteri Hilangnya Kain Bali’ (yang ternyata ada di lemari baju). Ada juga ‘Misteri Hula-Hoop Lepas’, tentang hula-hoop di sekolah yang patah. Aku waktu itu mendengar bahwa hula-hoop ini dipatahkan oleh seorang kakak kelas, tapi tidak tahu pasti. Di notes itu, kutuliskan bahwa aku berencana menanyakan sendiri pada anak itu. Ada catatan di sampingnya, ‘jangan malu!’ disertai tanda panah ke samping, ‘ditemani Mia’. Misteri yang terakhir ini masih belum terungkap, tentu saja karena aku terlalu malu untuk bertanya pada kakak kelas.
Mungkin, suatu hari ketika sudah tua, aku akan membaca kembali buku harianku sekarang dan tertawa lagi. Sungguh lucu dan menghibur untuk melihat dunia melalui mata seorang anak. Inilah mengapa, menurutku, penting untuk membiasakan menulis sejak kecil.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES050 - AES050!
Sejak esaiku yang ke-42, aku mencoba menantang diriku sendiri untuk menulis esai tiap hari, setidaknya sampai esai ke-50. Hari ini, milestone itu tercapai! Dulunya waktu awal-awal menulis AES, aku kurang menangkap intinya. Aku jarang menulis karena aku ingin esaiku selalu dalam kualitas yang maksim…

AES15 - The World Within My Writing
There are currently two fictional worlds I am investing myself in. The first is the world in the novelette I’m making for my school project. The second, a more vast and inventive world, is the setting of a book series I am working on which has nothing to do with the aforementioned school project. B…

AES187 Mata Ashita Novel
Halo teman-teman yang budiman, seperti beberapa tulisan terakhir yang saya buat, saya banyak menjelaskan proses refleksi selama pengerjaan novel ini. Dari hari-hari yang terasa kosong, dari pikiran yang terlalu ramai, dari pertanyaan tentang sakit, kehilangan, kesepian, sampai harapan yang entah ka…

